Close Menu
sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    UNJUK KARYA
    webutama
    • Beranda
    • Sastra
      • Cerita Pendek
      • Puisi
      • Resensi Buku
      • Info Sastra
    • Visual
    • UKM
    • Tentang Kami
      • Sastra untuk Semua
      • Unjuk Karya
      • Kontak
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Home»Puisi»Pinjam
    Puisi

    Pinjam

    Arnis Silvia13 Oktober 2024
    Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
    Pinjam

    Tuan, pinjami kami lambung
    perut kami wahana bermain
    disegel pandemi
    berlumut tanpa pengunjung
    usus menjelma jari
    dan meremas dirinya sendiri

    Pinjami kami lidah
    agar bisa mengeja kenyang
    cecap kami anyir asam lambung
    tersapu ombak peristaltik ke bibir pantai lapar
    mulut menjelma pesisir
    yang melumat pasirnya sendiri

    Setelah kami pinjam itu perut,
    pergilah engkau ke ruang sidang
    dengan lubang abdomen menganga
    suarakanlah suara-suara
    gelegak asam lambung
    retakan bibir haus
    desisan usus kami yang aus.


    Arisan

    Ambulans lari terbirit-birit
    Ia dan maut salip-menyalip

    Tes Swab sedang diobral
    Siapa positif dapat diskon besar

    Tukang gali menanam jenazah
    Kubur gembur oleh wabah

    Vaksin mengulur tali antri
    Pendaftar tersandung fotokopi

    Corona masih sibuk arisan
    Mungkin besok kau dapat giliran.


    Mengeja

    Anakku yang balita
    kalah pintar dari Corona
    Si wabah semakin pandai mengeja
    aksara Latin berakhiran -a


    Sabda

    Beruang yang rendah hati
    memeluk tubuhmu yang ringkih
    setelah kau minum tajin
    beras putih

    Ia berkata,
    “Aku bukan apa-apa,
    tolong sampaikan sabdaku ini
    pada mereka yang berebut di sana”


    Cap Lang

    Pada sebotol minyak kayu putih
    harapanmu yang kanak-kanak
    memijati gigih yang menua
    sering kembung dan masuk angin

    Radio menyiar kabar wabah
    Mayat warga dikubur ibu negara
    Bapak sibuk mengundang investasi
    Sambal memahat nisan sendiri

    Petang menjerang ketakutan
    lalu kau rebus resah
    Televisi menayang iklan
    “Buat wabah kok coba-coba”.


    Di Balik Jendela

    Yang terduduk di balik jendela
    adalah ibu bernama kesadaran
    Ibu sering tak pulang
    kecuali untuk tidur dan makan

    Ibu sekarang bekerja dari rumah
    dapur angan-angan kembali dijamah
    ia memasak lagi waktu yang terlanjur basi
    Ia tata kembali meja yang terlanjur lupa

    Yang berdiri di balik jendela
    adalah ayah bernama penyesalan
    ayah tak pernah mendiami
    rumah yang ia cicil setengah mati

    Ayah sekarang bekerja dari rumah
    menambal jendela yang mulai pecah
    Ia buka buku catatan hutang
    waktu anaknya yang tak sengaja ia buang

    Yang bermain di balik jendela
    adalah anak bernama keriangan
    kini rumah tak hanya bangunan
    diasuh pembantu pagi hingga petang

    Anak bermain dengan bapak dan ibu
    menghapus daftar utang di buku
    Dapurnya kembali menguarkan rindu
    Jendela kembali menyiratkan haru

    Di depan jendela terbujur jalan sepi
    Bapak, ibu dan anak melihat ke dalam
    rumahnya sendiri.


    Arnis Silvia lahir di Jember, 24 Februari 1988. Menulis tiga buku puisi tunggal dan beberapa antologi. Sempat mengajar Creative Writing di University of South Australia, dan saat ini bergabung dengan komunitas Dari Negeri Poci dan Komunitas Puisi Bekasi.

    arisan pandemi
    Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp
    Previous ArticlePerangkap Beku
    Next Article Menara Teratai

    Karya Lainnya

    Perempuan di Ambang Senja

    31 Mei 2026

    Tunjungan Plaza

    12 Oktober 2025

    Surabaya Bernyanyi dalam Hati

    7 September 2025

    Perjamuan di Midtown

    31 Agustus 2025

    Jejak Kota Tua di Bawah Lembayung

    24 Agustus 2025

    KBS

    17 Agustus 2025
    Karya Sastra Terbaru

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    By Kuntoro Rido A

    Yang Pergi Lebih Dulu

    By Hendro D. Laksono

    Lampu Kamar Anshar

    By Nurita W. Prasaja

    Amplop Berwarna Cokelat

    By Anindya Bethari

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    By Anindya Bethari

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    By Idrus Zamuji

    Perempuan di Ambang Senja

    By Idrus Zamuji

    Bangku Nomor Tujuh

    By Katelyn Mandasari

    Perbincangan Minggu Pagi

    By Anindya Bethari

    Minimarket dan Jalan Pulang Itu

    By Aldi Hilman Anshar
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Beranda
    • Sastra
    • Tentang Kami
    • BERITAJATIM MENGUNDANG PENYAIR DAN CERPENIS
    • Arsip
    © 2026 Sastra Beritajatim.com | sastra untuk semua .

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.