Close Menu
sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    UNJUK KARYA
    webutama
    • Beranda
    • Sastra
      • Cerita Pendek
      • Puisi
      • Resensi Buku
      • Info Sastra
    • Visual
    • UKM
    • Tentang Kami
      • Sastra untuk Semua
      • Unjuk Karya
      • Kontak
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Home»Puisi»Di Teras Rumah
    Puisi

    Di Teras Rumah

    Rafif Amir24 Januari 2021
    Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
    Di Teras Rumah

    Di teras rumah, kau selalu menyambutku
    dengan rautmuka paling bahagia

    Kita duduk dan berbincang tentang apa saja, hingga kau dan aku lupa
    bahwa kita pernah samasama meneteskan airmata

    “Kesedihan hanya datang untuk menyempurnakan kebahagiaan,” katamu suatu ketika

    “Dan kebahagiaan adalah ketika bersamamu,” hanya dalam hati aku mengatakannya

    Kita tak pernah saling mengucap cinta, karena kita tahu, cinta tidak sesederhana itu — Kita membiarkan ia tumbuh, sampai Tuhan menentukan takdirnya
    Agar kelak, ketika cinta itu tumbang oleh jarak dan usia, kita tak akan benar-benar terluka

    Kita hanya cukup saling merasakan, memendamnya dalamdalam, dan sekalikali menyeka ujungnya dengan kenangan-kenangan
    seperti saat kita berbincang di teras rumah, dengan mata berbinar, dan dada yang berdebardebar

    “Lisan kita fasih melafalkan, tapi hati begitu sulit”

    Dan aku tak tahu, sampai kapan kita akan saling mencintai

    Sidoarjo, 2019


    Sekilas Cinta

    Ia datang secepat hembusan sepoi angin
    Lalu pergi dengan tiupan paling kencang
    Serupa badai, yang melantakkan hatiku menjadi kepingkeping

    Aku tertegun diam
    Segala perih kutahan
    Segala luka kusimpan
    Segala nyeri kupendam
    Lalu ia kembali datang
    seperti gulagula manis di tangan bocah yang menangis terisak
    Kukira ini keajaiban
    Tapi tibatiba ia kembali menghilang
    gulagula manis berubah racun mematikan

    Aku tertegun diam
    Satu persatu napasku hilang
    Sakit tak tertahankan
    Kumelihat pintu ajal demikian dekat
    Pintu itu terbuka
    Ia memanggilku dengan lambaian tangan
    Inikah yang sesungguhnya cinta?
    Aku berlari ke arahnya
    Dengan tubuh hancur
    Terurai
    Hingga aku menjadi debu

    Itulah pertama kali aku memelukmu

    Sidoarjo, 2019


    Seharusnya Bahagia

    Cinta tumbuh karena dua sebab, kata Al-Hallaj, keintiman dan tawa

    Tapi bukankah telah berpuluh purnama kita bersama
    bukankah telah beribu kali kita saling menyapa dan melempar senyum
    Mengapa cinta tak kunjung hadir?

    “Mungkin itulah takdir. Sekeras apapun engkau berusaha, cinta tak akan pernah tiba”
    Lalu untuk apa kita bersama?
    “Memelihara kehidupan”
    Dan kita tak berhak untuk bahagia?
    “Seharusnya kita bahagia. Cinta bukan satu-satunya yang membuat kita bahagia”
    Lalu apa?
    “Saling menjaga”

    “Jangan terpesona oleh cinta, karena kadang ia membuatmu rapuh”
    tapi kebersamaan yang disertai tanggung jawab akan membuat kita kuat?
    “Kau mulai paham. Kita dilahirkan untuk merampungkan tugas, bukan bersenangsenang”

    Mungkin Al-Hallaj keliru. Seharusnya keintiman dan tawa melahirkan bahagia, bukan cinta

    Sidoarjo, 2019


    Pertemuan

    “Aku ingin bertemu denganmu,” katamu satu waktu
    “Aku juga”
    Tapi ini belum saatnya
    Kita masih harus menyimpan rindu rapat-rapat
    dalam sekotak peti kesabaran
    Ini belum saatnya
    Kita masih harus belajar menyiapkan pertemuan
    Agar ketika kita kelak bersimuka, itulah sebenar-benar puncak bahagia.

    “Aku ingin bertemu denganmu,” pintamu malam itu
    Tapi jarak memisahkan kita begitu jauh
    “Temui aku dalam doadoamu”
    Karena sesungguhnya, jika mata tak bisa saling menatap, ada hati yang bisa saling mendekap

    Mari kita rayakan perjalanan panjang di ruang-ruang sunyi ini
    kita nyalakan rindu, lalu tegak melangkah, hingga setiap kuncup bunga yang kita lalui
    merekah

    “Aku ingin bertemu denganmu,” katamu pagi itu.
    “Kita telah bertemu”
    “Aku tak melihatmu”
    “Hati kita telah bertemu”

    Sidoarjo, 23 desember 2019


    Menuju Rembulan

    Apa yang kupetik dari kuntum yang layu
    yang gugur ke tanah sebelum waktunya

    Apa yang kuhela dari daundaun yang kuning dan ranggas
    yang jatuh tertiup angin
    sebelum senja tiba

    Apa yang kuhirup dari udara yang pengap
    yang membuat dadaku sesak, pandangku gelap

    Sebelum malam menghapus bayang-bayang
    dan aku pergi mengembara
    bolehkah aku bertanya
    :adakah rembulan di ujung sana?

    Sidoarjo, 2019

    Karya : Rafif Amir

    Tinggal di Sidoarjo. Bergiat di Forum Lingkar Pena (FLP) dan Komite Sastra Dewan Kesenian Sidoarjo. Buku kumpulan puisi tunggalnya Sejarah dan Kisah dan Kepak Cahaya. Serta tergabung dalam beberapa kumpulan puisi bersama penyair lain.

    Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp
    Previous ArticlePerginya Burung Putih
    Next Article Ida Rahima dan Jago Hitam

    Karya Lainnya

    Perempuan di Ambang Senja

    31 Mei 2026

    Tunjungan Plaza

    12 Oktober 2025

    Surabaya Bernyanyi dalam Hati

    7 September 2025

    Perjamuan di Midtown

    31 Agustus 2025

    Jejak Kota Tua di Bawah Lembayung

    24 Agustus 2025

    KBS

    17 Agustus 2025
    Karya Sastra Terbaru

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    By Kuntoro Rido A

    Yang Pergi Lebih Dulu

    By Hendro D. Laksono

    Lampu Kamar Anshar

    By Nurita W. Prasaja

    Amplop Berwarna Cokelat

    By Anindya Bethari

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    By Anindya Bethari

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    By Idrus Zamuji

    Perempuan di Ambang Senja

    By Idrus Zamuji

    Bangku Nomor Tujuh

    By Katelyn Mandasari

    Perbincangan Minggu Pagi

    By Anindya Bethari

    Minimarket dan Jalan Pulang Itu

    By Aldi Hilman Anshar
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Beranda
    • Sastra
    • Tentang Kami
    • BERITAJATIM MENGUNDANG PENYAIR DAN CERPENIS
    • Arsip
    © 2026 Sastra Beritajatim.com | sastra untuk semua .

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.