Close Menu
sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    UNJUK KARYA
    webutama
    • Beranda
    • Sastra
      • Cerita Pendek
      • Puisi
      • Resensi Buku
      • Info Sastra
    • Visual
    • UKM
    • Tentang Kami
      • Sastra untuk Semua
      • Unjuk Karya
      • Kontak
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Home»Puisi»Wajah Tulungagung
    Puisi

    Wajah Tulungagung

    Mohammad Thoriq Miftahuddin17 Januari 2021
    Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
    Wajah Tulungagung

    Kakiku melangkah telanjang
    tubuhku sempoyongan sepanjang jalan
    namun gunung-gunung dan perbukitan
    memberiku sandaran untuk peraduan
    dan luas laut selatan
    menjadi muara tangis bagi perantauan.

    Di langit warna-warni layang-layang
    melambai-lambai menghiburku agar senang
    sedang pepohonan nan rimbun dan rindang
    merengkuh peluk diriku yang ketakutan
    daun-daunnya bergesakan melantunkan
    tembang-tembang tinggalan warisan yang menenangkan.

    Meski begitu aku tetap ingin jawaban
    dari pusat peradaban:
    “Berjalanlah”
    Lewat kicau burung di pagi hari
    pelajaran dan hikmah tumpah dalam warung kopi
    di sudut-sudut pedesaan
    bekas kerajan-kerajaan.

    (Tulungagung, 2019)


    Terminal Gayatri

    Aku sengaja keluar dini hari
    ke arah terminal Gayatri
    Sebelum bermimpi.

    Aku tak sengaja melihat seorang bapak
    sedang menahan kantuk di atas sepeda motor
    di bagian depan kedua anaknya heran
    memperhatikan jalanan yang bergerak
    padahal tidak.

    Mereka kudahului
    “Duh, bukankah ini masih jam tidur”
    Mereka menatapku tak biasa.

    Melalui spion kulihat sang kakak
    Berbisik pada telinga adiknya
    “Ayo dik, kita lihat, siapa
    yang lebih dulu sampai kota
    kita atau dia atau takdirNya”
    Di depanku lampu berwarna
    Merah sedang tertawa.

    (Tulungagung, 2020)


    Perantau

    I
    Adalah seseorang yang tandang
    Atas pencarian bagi pencapaian
    Masa mendatang.

    II
    Adalah seseorang yang berjelaga ke ujung waktu
    Dan ibu dianggapnya tempat pulang rindu
    ayah dianggapnya sebagai ruang pengaduan
    sedang keluarga ialah kota kelahiran.

    III
    Kelak aku dan kau
    menjadi seperti mereka
    yang diam di rumah menunggu anak-cucu
    kembali, lalu merayakan senyum mereka.

    (Tulungagung, 2020)


    Kekuatan Dua Dewi

    Di halaman buku-buku aku bertemu
    dengan tokoh-tokoh yang bernasib sepertiku
    memasak sepi, sunyi, dan sendiri
    menjadi puisi.

    Ada yang meracau, mengigau hingga marah-marah
    Berbicara tentang; rindu, cinta, semuanya
    Padahal mereka tahu seisi dunia fana.

    Betapa selamat tinggalnya hidup ini
    Yang tak bisa merasakan kopi hijau dan dua dewi
    Sebagai bekal abadi menuju haribaan pagi.

    (Tulungagung, 2020)


    Suatu Pagi di Pinggir Pantai

    Suatu pagi di pinggir pantai
    Aku mendengar suara gemuruh yang tak biasa
    melebihi debur ombak laut selatan
    pada bibir karang, kekasih.

    Kuperhatikan setiap perciknya
    melemparkan seluruh kenangan kita.
    Saat airnya ke permukaan ingatan
    senyummu yang dulu kau berikan datang
    menyiksaku lalu menghilang.

    (Watu Limo, 2019)


    Nelayan

    Tuhan paham
    kantung matamu selalu surut
    akibat air di matamu sesalu pasang.

    Tuhan mengerti
    sepanjang hari ombak berdebur
    kencang dalam dadamu yang berdebar-debar.

    Dan Tuhan lebih tahu
    kapan mimpimu berhenti berlayar
    kemudia kau pulang dengan sekeranjang ikan
    sebagai penyambung kehidupan.

    (Tulungagung, 2020)


    Ziarah Makam Mursyid

    00.00
    Jendela dan gerbang makam
    tertutup malam, tak ada percakapan
    sebagaimana ombak dengan pasir yang berdebur
    sebagaimana dedaunan dengan angin malam yang berdesir
    sebagaimana jarum jam dengan detik yang berdetak
    Aku merasa tenang dan aman
    sebab aku menjelma doa
    yang menyentuh keyakinan
    lalu sungkem melalui ijazah dan fatihah.

    (Tulungagung, 2020)

    Karya : Mohammad Thoriq Miftahuddin

    Lahir di Jombang. Sedang nyantri dan menyelesaikan kuliah di salah satu perguruan tinggi kota Tulungagung, juga bergiat di komunitas sastra pesantren (KSP).

    Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp
    Previous ArticleGadis Terperundung
    Next Article Perginya Burung Putih

    Karya Lainnya

    Perempuan di Ambang Senja

    31 Mei 2026

    Tunjungan Plaza

    12 Oktober 2025

    Surabaya Bernyanyi dalam Hati

    7 September 2025

    Perjamuan di Midtown

    31 Agustus 2025

    Jejak Kota Tua di Bawah Lembayung

    24 Agustus 2025

    KBS

    17 Agustus 2025
    Karya Sastra Terbaru

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    By Kuntoro Rido A

    Yang Pergi Lebih Dulu

    By Hendro D. Laksono

    Lampu Kamar Anshar

    By Nurita W. Prasaja

    Amplop Berwarna Cokelat

    By Anindya Bethari

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    By Anindya Bethari

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    By Idrus Zamuji

    Perempuan di Ambang Senja

    By Idrus Zamuji

    Bangku Nomor Tujuh

    By Katelyn Mandasari

    Perbincangan Minggu Pagi

    By Anindya Bethari

    Minimarket dan Jalan Pulang Itu

    By Aldi Hilman Anshar
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Beranda
    • Sastra
    • Tentang Kami
    • BERITAJATIM MENGUNDANG PENYAIR DAN CERPENIS
    • Arsip
    © 2026 Sastra Beritajatim.com | sastra untuk semua .

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.