Close Menu
sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    UNJUK KARYA
    webutama
    • Beranda
    • Sastra
      • Cerita Pendek
      • Puisi
      • Resensi Buku
      • Info Sastra
    • Visual
    • UKM
    • Tentang Kami
      • Sastra untuk Semua
      • Unjuk Karya
      • Kontak
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Home»Cerita Pendek»Bayangan di Balik Tabebuya yang Tak Pernah Berbunga
    Cerita Pendek

    Bayangan di Balik Tabebuya yang Tak Pernah Berbunga

    Mualif Hidayatulloh7 September 2025
    Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
    Bayangan di Balik Tabebuya yang Tak Pernah Berbunga

    Setelah bertahun-tahun masa kelam Karmin sirna, mata itu melawat lagi semalam, mata yang kemerahan, tajam, dan penuh dendam. Membuatnya terjaga sepanjang dini hari. Baru saja tiba di ranjang, di samping Istrinya, Karmin memberangus kedua lubang kupingnya, memastikan suara-suara kelam itu tidak menusuk-nusuk kepalanya lagi. Tidak terasa, tubuhnya terkapar karena terlalu penat. Karmin tersadar saat kaki mentari menerobos masuk lewat sela-sela gedhek kamarnya, lalu membelai wajah Karmin. Hangat. Menyilaukan.

    Karmin bangkit dari atas dipan, tanpa menunggu lebih lama lagi,  lelaki tua itu segera mempersiapkan karung, kemudian memacu sepeda jengki ke kantor. Tak seperti pagi-pagi biasanya, Karmin datang terlambat hari ini.

    “Tumben baru datang, Mbah?” tanya Atmo dari balik lubang kecil di pos satpam, saat melihat Karmin menuntun sepeda jengki butut melewatinya.

    “Sapu lidi saya rontok, Ndan, jadi saya benerin dulu,” jawab Karmin, gegas menuju markas kebesarannya. Atmo merasa janggal dengan lelaki tua itu. Karmin selalu merawat peranti kebersihannya, tidak mungkin sapu lidinya sampai rontok, pikir Atmo.

    Lebih dari perihal peranti kebersihan, yang membuat Atmo semakin yakin ada kejanggalan dari lelaki itu, adalah ketika dia mendapati dahi Karmin mengernyit, wajahnya tampak pucat dan berkeringat, padahal dia belum sempat mengayunkan senjata. Mengintip dari balik pintu ruang kebersihan, beberapa kali Karmin menoleh ke kanan, ke kiri, ke atas, dan ke bawah dengan tatapan seakan mencari sesuatu.

    Sejurus kemudian, lelaki itu keluar ruangan, menuju halaman kecamatan membawa senjata pamungkasnya: sapu lidi. Sebelum mulai menjalankan misi, ia sempatkan untuk bersikap siap di depan tiang bendera merah putih, sedikit mendongak ke atas, memberi hormat pada simbol kehormatan negara. Hal ini sudah menjadi ritus bagi Karmin. Mata Karmin tajam seperti kemarin, tetapi kini mata itu terbuka lebih lebar.

    Meski warna maupun jumlah rambutnya telah memudar, Karmin dikenal sebagai sosok yang teliti dalam bebersih. Dia membersihkan segala macam kotoran, di mana pun, sebanyak apa pun. Tidak saja debu, apa-apa saja yang berpotensi mengotori negeri ini, digilasnya habis, tak tersisa!

    Sederhananya tampak dari semua ruangan yang baru ia jajaki, tak sejengkal pun tertanggal kotoran mengerak. Termasuk halaman kecamatan, tak luput dari tebasan senjata Karmin. Sapu itu baris-berbaris seperti pasukan paskibra yang hendak mengibarkan bendera pusaka. Bukan saja kotoran di halaman, Karmin tidak meninggalkan debu setitik pun di seluruh ruangan yang ada di kantor, termasuk dua pigura dan sebuah ukiran lambang garuda yang terpajang di pendopo.

    Tak ingin hanyut dalam pikiran yang tidak-tidak, Atmo beranggapan mungkin karena terlalu menuntut kebersihan, sapu lidi itu rontok saat melibas sesuatu, membuat pekerjaan Karmin bertambah, sehingga datang terlambat pagi ini. Toh, Atmo juga tidak tahu pasti latar belakang lelaki tua itu. Atmo saja baru mengenal Karmin dua belas pekan belakangan. Yang pasti, tidak pernah satu hari pun Atmo menjumpai Karmin tiba setelah mentari lahir.

    Atmo sendiri, hanya seorang satpam kecamatan pengganti sang ayah, yang meninggal karena tertabrak mobil tepat di luar gapura masuk kecamatan, saat mengarahkan mobil pak camat beranjak keluar. Saya Karmin, Ndan. Sudah puluhan tahun mengabdi di sini, kurang lebih begitu perkenalan singkat mereka berdua pada hari pertama Atmo bertugas.

    Di sela-sela pekerjaannya sebagai petugas kebersihan di kantor kecamatan, Karmin mencari tambahan penghasilan dengan mengais sampah yang masih bernilai jual, dan beberapa kali menyapu jalan maupun ruang publik lain di kotanya. Memang hasilnya tidak seberapa, tapi cukup untuk membeli beras dan bahan-bahan makanan esok hari.

    Sewaktu sisa usia tinggal puing-puing yang hampir runtuh, Karmin masih harus menghidupi dia dan sang istri. Mereka menjalani hidup di rumah tua yang tak setitik pun tersentuh adonan semen maupun batako di samping pematang sawah, di ujung desa. Rumah itu berdinding gedhek, tanpa kaca jendela, tanpa keramik yang menghiasi lantai-lantai tetangganya. Di belakang rumah itu, masih tersisa reruntuhan gubuk tua yang hampir rata dengan tanah. Saksi bisu masa lampau yang suram.

    Bukan tanpa alasan Karmin dibuatkan surganya tersendiri di ujung desa, jauh dari hiruk-pikuk perkampungan oleh sang ayah. Saat kumat, Karmin muda suka mengamuk. Dia berteriak kesetanan, membungkam kuping dengan telapak tangan sambil berteriak, diam! Pergi kalian! Jangan menggangguku! Tidak saja cemas, wajahnya seringkali tampak seperti orang ketakutan. Orang-orang menganggapnya tidak waras.

    “Pasti Kang Min kena karma karena peristiwa malam itu!”

    “Dia pasti dihantui arwah orang yang dia habisi!”

    Begitulah suara-suara sumbang yang sering hinggap di telinga keluarga Karmin. Penyakit ini perlahan membaik ketika Lastri melabuhkan hatinya pada Karmin—entah apa maksud dan tujuannya. Meskipun, keturunan belum ikut berlabuh pada pernikahan mereka hingga ‘senja’ datang memeluk Karmin sekalian.

    ***

    Semalam, ada pesta rakyat di alun-alun kota, tentu saja Karmin tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Tepat saat acara rampung, Karmin menyapu bersih area alun-alun, kemudian memasukkan beberapa sampah yang masih bisa dijual ke karung yang sedari tadi ditentengnya. Botol bekas, gelas plastik bekas minuman, hingga plastik bekas gelaran yang berserakan masuk dalam dua karung yang dia pikul dengan sebatang bambu.

    Angin malam bukan tandingan lelaki jangkung itu. Semasa muda, saat angin malam menusuk-nusuk kulitnya, ia ditugasi untuk membantu penumpasan golongan kiri dari negeri. Dia hanya pemuda biasa-biasa saja sampai para tentara mendatanginya. Mereka diutus jendral mencari orang-orang kuat untuk membantu ‘menyekolahkan’ para pemberontak. Postur Karmin yang tinggi tegap juga berisi itu membuat kepala desa mengajukannya sebagai perwakilan desa yang dikirim ke tanah eksekusi.

    Saat akan memasukkan plastik bekas jajanan yang masih berlumuran cairan merah kental berminyak ke karung di punggung, tak sengaja plastik itu jatuh ke atas telinganya. Kejadian ini membuat ingatan lelaki bermata tajam terbang ke masa muda. Karmin masih ingat ketika baru sampai di depan rumah saat dini hari, sepulang dari Turus, Alas Tuwo, tempat para pemberontak ditanam setelah di sembelih, dia mencium aroma anyir di sekitarnya. Karmin menoleh ke segala sisi, namun tidak menemui hal yang janggal. Hingga dia baru menyadari, seperti ada yang melekat di kepalanya, di atas telinga. Ketika menyentuh lalu mengambilnya, Karmin terkejut menemukan potongan tengkorak basah bersemayam di rambutnya.

    ***

    Beberapa saat lalu, alun-alun sempit sesak karena massa yang membeludak. Di era kini, masyarakat berbondong-bondong memenuhi alun-alun karena pesta rakyat. Lebih dari setengah abad lalu, saat alun-alun ini masih berupa lapangan sepak bola, masyarakat berdesakan untuk menyaksikan upacara kematian Kades Eromoko dan seorang bawahannya. Mereka berdua diadili dengan cara di tembak mati karena dituduh berafiliasi dengan partai kiri.

    Karmin berjalan tertatih-tatih memikul batang bambu di bahu kanannya. Usia memang tak bisa berbohong kalau soal tenaga. Dulu, Karmin mampu menggotong puluhan mayat orang kiri itu ke tempat peristirahatan—mungkin lebih cocok di sebut tempat pembuangan—terakhirnya seorang diri. Yang tersisa hanya mata elang yang setia menempel di bawah dahi yang telah banyak berkerut.

    Pelan-pelan Karmin memasuki taman pahlawan untuk melanjutkan pekerjaan yang ketiga: tukang sapu ruang publik. Di sana, ada banyak tanaman bunga dan beberapa pohon tabebuya menjulang. Remang. Hanya cukup menyinari bangku-bangku karatan di bawahnya. Karmin menyenderkan karung di pohon tabebuya terbesar, kira-kira batangnya sebesar tiang lampu. Sapu lidi yang sedari tadi nangkring di genggaman kirinya, kini menari-nari dalam alunan musik dini hari, menyisir seluruh area taman dari dedaunan tabebuya kering yang tak pernah berbunga. Matanya tetap tajam mengamati area yang penuh daun-daun kering berserakan. Betapa bangganya negeri ini padaku. Dulu aku turut membersihkan pemberontak di sini, sekarang aku membersihkannya dari sampah dan debu-debu jalanan, gumam Karmin, melawat masa lalunya.

    Pikiran Karmin masih melayang-layang karena kejadian di alun-alun mengingatkannya pada masa lalu membanggakan dan kelam. Sejak keluar dari alun-alun, dia merasa ada yang mengamati pergerakannya sampai ke taman. Sembari berdansa dengan sapu lidi, Karmin tetap waspada mengamati sekitar, kalau-kalau ada penjahat yang akan melukainya. Keringat mengucur lebih deras dari tadi siang, padahal hawa dingin menelisik kulit lewat baju lusuhnya.

    Hampir seluruh bagian taman telah menerima sabetan sapu lidi Karmin. Tersisa satu bagian lagi yang belum tersentuh; sekitar pohon tabebuya tertinggi di taman pahlawan. Kokok ayam jago mulai mengalun pelan di telinga Karmin. Lelaki berkaus abu-abu bergambar lambang garuda itu mulai menyisir area yang belum dibersihkan. Karena tidak mendapat penerangan cukup, Karmin harus lebih jeli mengamati rerumputan yang dipijaknya, agar tidak menginjak bunga-bunga liar yang tumbuh.

    Sama jelinya saat membawa mayat-mayat ‘calon siswa’ ke lubang galian selebar dua kali tiga meter dengan dalam sekitar dua meter. Hutan pinus yang kini jadi Bumi Perkemahan Alas Tuwo itu masih sama seperti dulu; minim penerangan. Supaya tidak terjerembap dan ikut tertanam, dia harus berhati-hati saat melempar mayat-mayat ke lubang.

    ***

    Karmin telah memasukkan semua sampah ke dalam bak yang ada. Ia kembali pada pohon tabebuya terbesar. Ketika hendak memungut karung, ia mendapati bayangan hitam dengan tinggi tak melebihinya berdiri di balik senyap. Karmin terperanjat, tetapi, mau tidak mau, dia harus mengambil barangnya.

    Selangkah Karmin mendekat, dia mendapati bayangan hitam tadi telah memendarkan cahaya dari matanya. Mata itu, Karmin tidak pernah bisa melupakannya. Kemerahan, tajam, dan penuh dendam. Mata yang seakan menusuk tubuh Karmin. Pikiran lelaki itu kembali terbang ke Hutan Pinus di Turus malam silam. Karmin masih ingat dengan jelas ketika seseorang yang ia sembelih menoleh ke arahnya dengan mata kemerahan, tajam, penuh dendam.

    Tubuh Karmin tiba-tiba beku. Ia merasa rantai memeluk erat tubuhnya seperti pasca kejadian malam itu, saat dia mengamuk pada suatu malam dan menebaskan parang ke segala arah sambil berteriak seperti orang kesetanan. Semua orang menganggapnya gila, termasuk keluarganya, hingga memutuskan untuk merantai Karmin di gubuk kecil bikinan sang ayah di tengah ladang.

    Karmin seperti bernostalgia dengan bayangan hitam bermata kemerahan, tajam, dan penuh dendam. Setiap malam, saat Karmin tinggal di gubuk tengah ladang, dia selalu di datangi bayangan itu, dengan mata yang tidak pernah berubah. Ia membisikkan berbagai hal yang membuat gendang telinganya seakan pecah.

    Karmin berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari jeratan rantai ketakutan dalam pikirannya sendiri. Setelah bisa bergerak, Karmin berbalik badan, mencoba meninggalkan barang-barang yang berada tepat di depan bayangan hitam bermata kemerahan, tajam, dan penuh dendam. Nahas, Karmin malah tersungkur saat akan melangkah. Detak jantung lelaki itu berdegup lebih cepat, secepat langkah bayangan hitam yang telah berada di depannya. Karmin tergagap, lalu berteriak,

    “Pergi kau! Apa maumu! Aku hanya membersihkan sampah!”

    ***

    Sore hari di kota Karmin bisa dibilang waktu paling sesak dengan hiruk pikuk para penduduknya. Sepulang dari kantor, Karmin menenteng karung di punggung menyusuri trotoar, meninggalkan sepeda di parkiran masjid besar kecamatan. Matanya awas menoleh kanan dan kiri, kalau-kalau ada puing rupiah yang tercecer. Bukan saja sampah, mata Karmin masih waspada kalau-kalau kejadian semalam terulang. Di kota Karmin, trotoar merupa lahan kosong dan gratis bagi para pedagang liar. Karena itu, tanpa berpayah Karmin cepat mendapat apa yang dicarinya di sela-sela lapak pedagang.

    Karung milik Karmin baru saja terisi setengah saat tiba-tiba sirene berdengung dari kejauhan. Semakin keras. Semakin jelas. Senja hangat memerah cerah seketika terbakar oleh kecemasan, ketakutan, dan kemarahan. Pedagang liar berlarian seperti semut berhamburan manakala sarangnya dihancurkan. Merasa terancam, Karmin turut bergegas menjauh dari jangkauan Polisi Pamong Praja. Tetapi usia telah sempurna menggerogoti energi hidupnya. Saat berniat untuk beranjak, Karmin tersungkur karena kakinya tidak kuat berpijak.

    Dengan sigap dua petugas memegangi kedua tangan Karmin.

    “Sudah, Mbah. Jangan melawan. Kami cuma membersihkan kota dari kotoran.”

    Membersihkan kota dari kotoran? ada parang yang seakan menebas ulu hati Karmin tiba-tiba. Apakah ini balasan darimu, negeri? Dulu, aku bahkan membersihkan negara dari pemberontak, apakah ini penghargaan untukku? gumam Karmin.

    Cengkeraman mereka semakin menjerat. Pikiran lelaki tua pembawa karung itu melayang, mendapati mata yang kemerahan, tajam, dan penuh dendam. Saat itu, dia tengah bersiap dengan parang di genggaman. Dua prajurit menyeret seorang lelaki paruh baya yang akan ‘disekolahkan’. Karmin muda tak sedikit pun ragu mengayunkan parang. Lelaki paruh baya bersimpuh di depannya, namun menghadap ke sebelah kanan Karmin. Bukannya menunduk seperti ‘calon siswa’ sebelumnya, lelaki paruh baya justru mendongak sedikit ke kanan, menatap Karmin muda dengan mata kemerahan, tajam, dan penuh dendam. Sejurus kemudian, parang di ayunkan, lelaki paruh baya tersungkur, mengalirkan darah segar dari leher yang menganga.

    Karmin dituntun perlahan oleh kedua petugas, menuju kendaraan dinas bersirene yang sejurus yang lalu membuyarkan barisan pedagang liar. Karena langkahnya masih sempoyongan, petugas setengah menyeret Karmin dengan kasar.

    “Pak. Sebentar, Pak. Jangan bawa saya….” Karmin mencoba menjelaskan, namun ucapannya tak diacuhkan petugas dan berkata, jelaskan saja di kantor nanti, Mbah. Tidak bisa tidak Karmin pasrah meratapi nasib hidupnya.

    Kebun Literasi SSC, 31 Juli 2025


    Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari STKIP PGRI Ponorogo. Mulai berkarya sejak bergabung di komunitas Sutejo Spektrum Center Ponorogo dan Himpunan Mahasiswa Penulis. Cerpennya berjudul Aku Menyesal, Puisi Kembali berhasil merebut peringkat kedua penulis terbaik di ajang Antologi Jejak Kasih yang diselenggarakan oleh Lumiere Publishing.

    Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp
    Previous ArticleSurabaya Bernyanyi dalam Hati
    Next Article Tunjungan Plaza

    Karya Lainnya

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    10 Juli 2026

    Yang Pergi Lebih Dulu

    26 Juni 2026

    Lampu Kamar Anshar

    13 Juni 2026

    Amplop Berwarna Cokelat

    6 Juni 2026

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    4 Juni 2026

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    1 Juni 2026
    Karya Sastra Terbaru

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    By Kuntoro Rido A

    Yang Pergi Lebih Dulu

    By Hendro D. Laksono

    Lampu Kamar Anshar

    By Nurita W. Prasaja

    Amplop Berwarna Cokelat

    By Anindya Bethari

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    By Anindya Bethari

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    By Idrus Zamuji

    Perempuan di Ambang Senja

    By Idrus Zamuji

    Bangku Nomor Tujuh

    By Katelyn Mandasari

    Perbincangan Minggu Pagi

    By Anindya Bethari

    Minimarket dan Jalan Pulang Itu

    By Aldi Hilman Anshar
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Beranda
    • Sastra
    • Tentang Kami
    • BERITAJATIM MENGUNDANG PENYAIR DAN CERPENIS
    • Arsip
    © 2026 Sastra Beritajatim.com | sastra untuk semua .

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.