Close Menu
sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    UNJUK KARYA
    webutama
    • Beranda
    • Sastra
      • Cerita Pendek
      • Puisi
      • Resensi Buku
      • Info Sastra
    • Visual
    • UKM
    • Tentang Kami
      • Sastra untuk Semua
      • Unjuk Karya
      • Kontak
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Home»Cerita Pendek»Yang Tak Pernah Cukup
    Cerita Pendek

    Yang Tak Pernah Cukup

    Hannan Fauziah Al Ulya31 Agustus 2025
    Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
    Yang Tak Pernah Cukup

    Acara tunangan Mbak Rani digelar di rumah makan milik Mbak Evi. Bangunan dua lantai dengan taman kecil dan kolam ikan di pinggir halaman. Sore itu, ruangan dipenuhi wangi bunga sedap malam dan denting alat musik petik yang lembut, dimainkan oleh grup musik lokal yang cukup terkenal di daerahku. Suaranya syahdu, membelah percakapan tamu-tamu yang mulai ramai berdatangan.

    Meja-meja dihias kain putih gading, piring-piring porselen tersusun rapi seperti di pesta pernikahan, dan suara perempuan-perempuan terdengar lebih nyaring daripada musiknya. Semua tampak serba teratur, memberi rasa akrab dan hangat.

    Aku duduk bersama beberapa teman kerja di salah satu sudut, menyeruput teh hangat sambil melihat tamu-tamu berdatangan. Mbak Rani terlihat cantik dengan kebaya hijau pastel, rambut disanggul, lehernya dihiasi kalung emas tipis. Semua terasa pas. Anggun tak berlebihan.

    Di antara obrolan dan tawa yang riuh, Mbak Meli dan Mbak Evi duduk di seberangku. Mereka tengah membahas perhiasan yang dipakai Mbak Rani, yang ternyata persis dengan gelang yang dipakai Mbak Meli hari itu.

    “Eh, gelangku sama kan kayak punyanya Mbak Rani? Lucu ya,” kata Mbak Meli sambil mengangkat lengannya, menunjukkan gelang tipis berwarna emas kuning. “Cuma tiga ratus ribu, Dek. Emas satu karat. Lagi banyak yang jastip loh, ayo beli juga!”

    Mbak Evi tertawa, “Samaan juga kayak punyaku!”

    Mbak Meli lalu menunjukkan beberapa foto dari Instagram. Gelang, cincin, anting, semua dalam kotak beludru merah, berderet rapi seperti katalog kilau.

    “Ayok, Dek. Biar couple-an. Murah kok, nggak sampai sejuta buat satu set.”

    Aku tertawa kecil dan menjawab pelan, “Aku nggak biasa pakai perhiasan.” Bukan karena tak suka, sebenarnya. Aku hanya… tidak tumbuh bersama kebiasaan itu.

    Padahal dalam hatiku, aku merasa canggung. Ingin berkata jujur bahwa uang 300 ribu bagiku bukan hal ringan. Tapi aku hanya tersenyum, karena aku tak ingin percakapan berubah kikuk.

    Dulu, aku punya anting emas kecil waktu masih SD. Tapi menjelang SMP, Ibu menjualnya. Katanya, untuk beli sepatu dan seragam baruku. Sebagai gantinya, aku dapat anting baru dari bahan logam ringan yang kadang bikin telinga gatal. Sejak itu, tak ada lagi perhiasan emas di rumah kami. Bahkan saat Idul Fitri pun ketika bude dan bulek-bulekku memakai cincin lebih dari 3 di jari-jari mereka, Ibu tetap memakai cincin kawinnya yang sudah mulai longgar.

    Saat sesi ramah tamah, Mbak Rani menghampiri kami. Obrolan kami beralih ke Bu Murni guru senior di sekolah yang usianya 20 tahunan diatasku. Sosoknya tak pernah benar-benar mencolok, tapi tak pernah luput dari sorotan.

    “Kalau Bu Murni lihat gelang ini, pasti udah ‘wah banget’ menurut dia,” celetuk Mbak Rani.

    “Iya! Padahal kan murah,” sambung Mbak Meli. “Kalo kita habis ganti barang baru dia suka melotot, ngeliatin secara detail dari tas sampai sepatu orang.” Mbak Evi mengangguk-angguk mengiyakan sambil tertawa.

    Aku hanya tersenyum. Bu Murni memang punya mata tajam, apalagi saat melihat sesuatu yang baru. Alih-alih memuji ia lebih sering bertanya. “Baru, ya?” atau “Beli di mana?”

    Beberapa minggu setelah acara tunangan, Mbak Meli datang ke sekolah dengan motor Astrea Grand miliknya. Motor jadul yang dulu sering dikendarai ayahnya, kini terlihat seperti barang koleksi. Warnanya biru tua, kulit joknya sudah sobek sebab cakaran kucing, tapi ia memperlakukan motor itu seperti benda berharga.

    “Motor beginian tuh sekarang langka, Dek,” katanya padaku sambil menepuk bodi motor dengan bangga. “Banyak yang cari. Ada klubnya loh, touring ke Bromo, ke Bali. Kalo kata mereka, motor nostalgia.”

    Aku tersenyum kecil. Motor itu mengingatkanku pada masa kecilku. Suara knalpot Bapak tetangga yang pulang malam dari sawah. Di antara deret motor modern di parkiran sekolah, Astrea Grand milik Mbak Meli memang tampak asing. Tapi entah kenapa, juga tampak jujur.

    Tak lama setelah itu, selang beberapa hari Bu Murni datang dengan motor serupa. Astrea Grand juga. Masih mengilap. Platnya baru. Bahkan stiker dealer-nya belum dilepas. Ia turun dari motor dengan langkah ringan, lalu duduk sebentar di teras sekolah sambil membuka topi kecil yang selalu ia bawa kalau naik motor.

    “Baru, Bu?” tanyaku waktu itu.

    “Iya. Gara-gara lihat punyanya Mbak Meli, jadi penasaran. Ternyata enak juga ya motornya.” Ia terkekeh kecil, ada nada bangga di suaranya.

    Ada jeda sesaat dalam pikiranku. Bu Murni, yang selama ini selalu tampil kalem dan konservatif, ternyata juga bisa tergoda oleh cerita nostalgia.

    Aku tak berpikir macam-macam waktu itu. Sampai kemudian tren berubah lagi.

    Dua minggu setelahnya, Mbak Evi datang dengan motor NMAX. Bodinya besar, catnya hitam doff, plat nomornya baru keluar seminggu. Semua mata menoleh saat ia masuk halaman sekolah.

    “NMAX itu nyaman banget, Dek,” katanya padaku. “Kursinya empuk, bagasinya luas, dan buat perjalanan jauh tuh tenang banget.” Ia semangat sekali bercerita. Katanya, ia beli atas rekomendasi Mbak Rani. “Mbak Rani punya dua, lho. Satu buat kerja, satu lagi buat jalan-jalan”.

    Aku hanya mendengarkan, sesekali mengangguk. Tapi dalam hati, aku merasa ada yang berubah.  Aura bangga yang dulu terasa hangat saat Mbak Meli bicara soal motor lamanya, kini digantikan semacam kegugupan terselubung dari orang-orang yang belum punya NMAX. Seolah motor itu bukan sekadar kendaraan, tapi pernyataan kelas.

    Tapi ada sepersekian detik, ketika aku sempat bertanya dalam hati: apa aku juga harus mulai mempertimbangkan motor semacam itu? Motor yang tampak besar dan gagah, yang tampaknya memberi tempat dalam lingkaran sosial kami. Tapi pikiran itu segera kutepis. Karena aku tahu, keinginan seperti itu datang dari letih, bukan dari butuh.

    Aku memperhatikan Bu Murni dari jauh. Ia mulai sering ikut dalam obrolan soal motor. Tak seperti biasanya. Kali ini, ia lebih banyak bertanya daripada menimpali tentang harga cicilan dan promo-promo akhir tahun.

    Sejak saat itu, motor NMAX seolah jadi topik baru di kalangan guru.  Kadang diselingi candaan, “Wah, habis ini siapa lagi yang ganti ke NMAX?”

    Tak kusangka, nama Bu Murni muncul di obrolan berikutnya.

    Awalnya, obrolan itu biasa saja. Bu Murni bertanya pada Mbak Rani soal jenis oli yang dipakai NMAX. Lalu keesokan harinya, ia bertanya pada Mbak Evi, “Servisnya gimana, Mbak? Spare part-nya mahal nggak?”

    Aku yang kebetulan duduk di dekat mereka hanya diam. Tapi telingaku menangkap satu kalimat Bu Murni yang sempat membuatku menoleh.

    “Mungkin saya ganti NMAX juga ya,” ucapnya ringan.

    Aku sempat mengerutkan dahi. Baru beberapa minggu lalu ia terlihat begitu antusias membeli motor Grand. Bahkan stiker dealernya pun belum pudar. Dan kini… ia bilang ingin ganti motor lagi?

    Karena aku guru honorer yang baru masuk sekitar 4 bulan ini, Aku tidak tahu pasti berapa gaji Bu Murni, tapi status WhatsApp-nya tentang dagangan suaminya yang ‘Alhamdulillah laris’ seolah memberi petunjuk bahwa ia sedang… menyeimbangkan sesuatu.

    Aku tak menjawab pernyataan Bu Murni yang cukup membuatku tertegun. Dalam hati, aku merasa seperti melihat seseorang yang sedang mengejar sesuatu yang belum tentu ia inginkan, tapi merasa perlu memiliki.

    Beberapa hari kemudian, status WhatsApp Bu Murni muncul: “Motor Grand dijual. Kondisi mulus.” Disusul foto sepeda anak-anak dengan caption “SOLD OUT”.

    Aku hanya membaca dengan sedikit teringat perkataan Bu Murni kemarin yang hendak ganti motor. Tapi selanjutnya sore itu, di ruang guru, kudengar bisik-bisik.

    “Katanya sekarang Bu Murni punya angsuran sembilan juta per bulan…”
    “Serius?”
    “Iya. Itu belum termasuk biaya sekolah anaknya.”

    “Padahal anaknya baru satu, ya…”

    Hening. Rasanya ada sesuatu yang mengganjal.

    Sembilan juta.

    Bagiku, jumlah itu terdengar seperti langit. Gaji dua guru honorer seperti aku pun tidak cukup untuk menutupnya. Dan di sinilah aku mulai benar-benar paham bahwa kilau, dalam bentuk apapun, memang punya harga. Dan kadang harga itu tidak selalu kasat mata.

    Sembilan juta.

    Angka itu menempel di kepalaku selama berhari-hari. Angka yang bagi sebagian orang bisa jadi ringan, tapi bagi sebagian lain, terasa seperti beban yang bisa menghimpit napas.

    Kupikir-pikir lagi, selama ini Bu Murni memang tak pernah benar-benar tampil mencolok. Bajunya sederhana, sepatunya pun biasa saja. Tapi caranya melihat, memperhatikan, kadang terlalu telanjang untuk disangkal. Seolah ingin tahu, ingin ikut. Ingin tak tertinggal.

    Aku jadi bertanya-tanya sendiri. Apakah ia benar-benar menyukai motor Grand itu? Atau hanya ingin merasa sepemikiran dengan yang muda? Lalu, ketika tren berubah menjadi NMAX, apakah ia sungguh butuh atau hanya takut ketinggalan lagi?

    Sejak kabar angsuran itu, Bu Murni masih seperti biasa. Ia masih datang tepat waktu, masih memberi arahan di rapat guru walau kadang pandangannya kosong, masih menyapa kami dengan senyum ramah. Aku jadi sering memperhatikannya diam-diam. Saat ia duduk sendirian di teras sekolah, menatap layar ponselnya lama, aku bisa melihat ada semacam letih yang tak ia ucapkan.

    Dan aku… entah kenapa, merasa iba.

    Bukan iba yang mengasihani, melainkan iba yang lahir dari pemahaman bahwa kita semua sedang berjuang dengan cara masing-masing. Ada yang menolak emas karena tahu itu bukan prioritasnya, ada yang mengejarnya karena merasa itu satu-satunya bukti bahwa ia masih pantas dipandang.

    Tak ada yang tahu rasanya, memaksa diri untuk terlihat mampu. Mungkin ia hanya ingin dianggap sepadan. Tak ketinggalan. Tak terlihat biasa-biasa saja.

    Pagi ini, aku menyalakan motor tuaku. Masih yang sama sejak kuliah. Suaranya berderak, joknya mulai robek, spionnya tinggal satu. Tapi ia selalu bisa membawaku pulang.

    Aku melirik pergelangan tanganku yang kosong. Lalu menarik napas dalam-dalam. Ada hal-hal yang bisa dibeli. Ada hal-hal yang tak perlu dimiliki. Dan ada hal-hal yang tak akan pernah cukup, sekeras apa pun kita mengejarnya.

    Aku menarik starter. Sekali, dua kali, motor menyala.

    Bukan motor tercepat. Bukan yang paling baru. Tapi itu pilihanku. Setelah semua yang kulihat, semua yang kupikirkan, aku memilih tetap seperti ini. Dan entah kenapa, rasanya justru lebih ringan.

    Aku melaju pelan, membiarkan angin pagi menyapu wajahku.
    Tak ada kilau. Tak ada gengsi. Tapi ada satu hal yang kupunya hari ini.

    Tenang.


    Lahir di Mekkah dan kini tinggal di Wonogiri. Aktif mengajar sebagai guru kelas 1 di SDN 1 Kismantoro dan menempuh pendidikan di STKIP PGRI Ponorogo. Selain cerpen, ia menulis opini dan resensi buku.

    Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp
    Previous ArticlePerjamuan di Midtown
    Next Article Surabaya Bernyanyi dalam Hati

    Karya Lainnya

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    10 Juli 2026

    Yang Pergi Lebih Dulu

    26 Juni 2026

    Lampu Kamar Anshar

    13 Juni 2026

    Amplop Berwarna Cokelat

    6 Juni 2026

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    4 Juni 2026

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    1 Juni 2026
    Karya Sastra Terbaru

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    By Kuntoro Rido A

    Yang Pergi Lebih Dulu

    By Hendro D. Laksono

    Lampu Kamar Anshar

    By Nurita W. Prasaja

    Amplop Berwarna Cokelat

    By Anindya Bethari

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    By Anindya Bethari

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    By Idrus Zamuji

    Perempuan di Ambang Senja

    By Idrus Zamuji

    Bangku Nomor Tujuh

    By Katelyn Mandasari

    Perbincangan Minggu Pagi

    By Anindya Bethari

    Minimarket dan Jalan Pulang Itu

    By Aldi Hilman Anshar
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Beranda
    • Sastra
    • Tentang Kami
    • BERITAJATIM MENGUNDANG PENYAIR DAN CERPENIS
    • Arsip
    © 2026 Sastra Beritajatim.com | sastra untuk semua .

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.