Apa di telingamu tidak pernah keluar cacing lautan? Mengerikan bila benar makhluk kenyal mengendap di situ. Tak apalah, sisi hati cacing lautan itu memang dilekuk lubang. Binatang itu mencari liang nyaman. Seperti manusia, hidup harus nyaman.
Cuma saja, liang nyaman itu kelihatannya tambah sempit. Sebagaimana banyak orang yang menganggap bahwa kenyamanan hidup adalah hal yang wajar, dan mereka berusaha keras untuk meraihnya. Kenyataannya, apa yang Aku saksikan di kampung ini jauh dari kata nyaman. Di tanah yang dahulu subur, sekarang hanya ada ladang-ladang tandus dengan kumpulan rumah yang kian rapuh. Pemerintah seharusnya mengurusi kami, tapi malah sibuk dengan urusan mereka sendiri-berbagi deviden sumber daya alam yang tak pernah mengucur ke kantong kami. Semua sektor kehidupan menjadi ladang korupsi yang tak habis-habis. Manipulasi serta pungli bagai pukulan tinju ke muka kami. Gigitan jari hanya bisa kami lakukan manakala semua itu terjadi.
Kami, orang-orang yang hidup dari rerimbun daun teh, yang memetiknya dengan tangan kasar penuh kapalan, melayukan, melakukan pememaran, lalu mengeringkannya dengan hati yang sudah lelah. Kami hanya bisa mengutuk nasib yang tak kunjung berubah, bertahan dengan apa yang ada. Ayahku, seperti banyak petani di sini, bekerja keras, benar-benar bekerja keras setiap hari, memetik daun teh yang tak lagi melimpah karena tanah yang dulu subur kini tak memberi hasil. Setiap pagi kami harus berjuang untuk mendapatkan sedikit uang, yang bahkan tak cukup untuk membeli beras sebulan.
Kami juga hidup di antara tumpukan masalah yang tak pernah terurus. Bahkan udara yang dulu segar, sekarang mulai terasa tercemar, seperti kumpulan janji yang sekarang hitam, karena tak pernah ditepati oleh pemerintah. Di kampung, hanya rasa aman yang masih kami miliki. Karena maling pun miris melihat kemiskinan kami.
Ibu selalu mengatakan, “Di balik kesabaran, pasti ada hikmahnya. Yakinlah hidup memang penuh rintangan, kesedihan dan penderitaan. Tanpa semua itu, kamu tak akan pernah merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Kita harus tetap sabar, nak. Rezeki tak datang begitu saja.”.
Ibu selalu meletakkan dirinya seperti lampu minyak. Kata-kata “sabarnya” memberi cahaya di saat hati kami gundah gulana. Ia pelembut sekaligus penawar hati yang keras.
Tapi setiap kali Aku melihat wajah ayah yang dipenuhi keriput, Aku tahu, sabar itu bukan jawaban, tapi sejenis selimut untuk menutupi kesedihan dan ketidakberdayaan.
Di penghujung tahun, sejumput angin membawa berita yang cukup membuat dada kami sesak. Seorang pejabat daerah yang tidak disebutkan namanya mengumumkan bahwa pemerintah akan kembali menaikkan pajak pendapatan, sementara harga teh, satu-satunya hasil bumi yang kami andalkan malah turun.
“Peningkatan pajak akan menyebabkan lonjakan harga barang-barang penting, termasuk harga teh”, kata orang itu, “Jadi, kenaikan pajak jangan disikapi dengan pandangan negatif, sisi positifnya juga ada”. Pejabat itu tersenyum dengan percaya diri di layar televisi.
Warga di kampung ini hanya bisa tertawa kecut. Omong kosong itu sudah biasa kami dengar. Mereka bicara tentang kemajuan dan kesejahteraan, sementara kami hanya tahu satu hal: hasil kebijakan mereka hanya sedikit yang kami terima, itu pun sisa-sisa. Selebihnya, entah ke mana.
Ayahku bersandar di kursi reot menghisap rokok kretek dengan pelan, matanya menerawang dengan pikiran meraba-raba. Jemarinya yang keriput memainkan batang kreteknya, diputar putar hingga membentuk ironi. “Kondisi perekonomian rakyat, terkhusus di kalangan kita, saat ini berat. Bahkan Ayahmu ini merasa seperti sapi, hanya diperah sampai keluar darah. Yang kaya makin jumawa, yang miskin tambah menderita” katanya pelan, “Tapi kita harus bertahan, apa pun kondisinya, karena kita tak punya banyak pilihan. Yang tersisa hanya nyawa serta tekad”. Gulungan asap kretek menampar wajahku. Menusuk ke dalam hidung, mencari lubang penghiburan, mirip cacing-cacing lautan yang terusir. “Sekarang daun teh ini hanya jadi komoditas tanpa kekuatan tawar, inilah penjajahan, bukan kebebasan yang sebenarnya”, katanya serasa pasrah. “Padahal sejarahnya dulu, ketika dedaunan ini masih dikelola perusahaan Belanda”, lanjut Ayah, “Daun teh ini ibarat emas hijau. Ini menjadi komoditas andalan yang menyelamatkan negeri kincir angin dari kebangkrutan kala kas negara mereka kosong akibat perang dan hutang. Tapi jaman serta nasib telah berbalik, sekarang kita yang terhempas”. Ayahku masih melontarkan daya resahnya, “Aku dengar, beberapa anak-anak di desa sebelah terpaksa harus berhenti sekolah. Mereka dipaksa keadaan, berdiri antre di tengah terik matahari untuk mencari pekerjaan di kota yang kian sulit-bahkan sekedar menjadi pelayan di warung makan”. Wajah ayah menatap keluar, entah apa yang ia lihat. Tapi sepertinya gundah gulananya belum hilang, “Keadaan ini harus kita terima. Begitulah kondisi sekarang walau harus memanen daun teh yang tak lagi sesubur dulu. Dulu saat tangan ayah beserta pemetik lain masih kuat dan suasana lingkungan begitu mendukung, kami sangat bahagia. Kehidupan begitu nyata nyamannya. Sekarang berbalik, daun teh mirip lembaran besi, sulit di petik untuk sekedar mendapatkan sedikit uang. Itu pun tak cukup untuk hidup”.
Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Kata-kata itu terasa seperti luka yang terus tergores.
Pagi itu, aku pergi ke ladang teh. Tanahnya sudah semakin tandus dengan bau kutukan, daun-daun teh yang dulu lebat kini terlihat jarang. Aku melihat ayah di kejauhan, badannya membungkuk mirip udang di lautan, memetik daun-daun yang sedikit itu. Wajahnya banjir keringat, tubuhnya tampak menua dengan gelambir kulit, lelah, serta rapuh. Aku rasa hatinya pun juga begitu. Seperti tanah ini yang perlahan terkikis oleh waktu dan ketidakpedulian. Seperti daun teh ini yang menyisakan lara. Kami adalah cacing-cacing yang terjebak dalam liang sempit. Inilah periode paling sulit bagi generasi pemetik daun teh.
Hari demi hari, kami tambah terjerat dalam lingkaran kemiskinan yang tak pernah berakhir. Kalau beberapa orang berujar, “Kalian kurang semangat. Bekerja keraslah agar lepas dari lubang kemiskinan”. Orang itu ingin aku pukul dengan ujung rotan sampai mampus.
Ketahuilah! Kami bertahun-tahun bekerja keras bagai kuda beban, namun hasilnya selalu tak mencukupi. Pemerintah hanya memperlihatkan program serta janji-janji indah yang memabukkan. Ketika sudah di bawah, kadang tidak sesuai harapan, bahkan kosong. Sedangkan hak-hak kami telah dikebiri. Kami tidak dikasih peluang untuk menikmati sedikit saja hasil keuntungan dari kibar kemerdekaan. Di tengah ketidakpastian itu, ragam pertanyaan muncul dalam benakku: Apakah para pejabat negeri benar-benar mengurusi kami? Bagaimana mereka bisa tidur nyenyak jika satu persoalan tak bisa teratasi? Masih adakah harapan di negeri ini? Sedangkan gelombang kesrakat mengayun tinggi. Kondisi ini apakah memang di sengaja? Seperti terstruktur.
Suatu pagi, aku mendengar kegaduhan yang tak biasa. Ternyata ada sekelompok warga yang berkumpul di depan kantor desa, meminta agar pemerintah segera memperbaiki keadaan. Mereka menuntut harga daun teh dinaikkan, sedangkan harga bahan bakar jangan terus dilonjakkan, supaya mereka bisa hidup lebih layak. Namun, tak ada pejabat yang muncul untuk mendengarkan jeritan mereka.
Di tengah keramaian itu, terlihat ayahku berdiri gagah bak Gatotkaca, badannya di tegap-tegapkan dengan wajah serius, matanya menyala penuh dengan api perjuangan. Ada sesuatu yang berbeda dari dirinya. Ia maju ke depan, ingin berbicara lantang dengan para pejabat yang tidak pernah datang. Sayang, ketika sampai di depan kantor desa, api itu telah padam, seperti disiram air hujan. Ayahku hanya berdiri tanpa bersuara. Wajahnya kebingungan bak melihat hantu di siang bolong. Tatapannya berubah kosong. Tak ada yang bisa ia lakukan. Warga yang lainnya ikut bungkam, seakan memahami bahwa mereka sudah tidak memiliki kekuatan lagi. Mereka semua seperti cacing dalam liang yang sempit, yang tak bisa melawan arus ombak yang lebih besar.
Dalam suasana yang membeku, tiba-tiba sebuah mobil hitam melaju kencang dan berhenti tepat di depan kantor desa. Dari dalam kabin keluar sesosok pria yang mengenakan jas rapi, wajahnya bersih, baunya wangi, penuh percaya diri. Ia adalah pejabat yang tampangnya wira-wiri di layar televisi. Kami menjulukinya “si munafik”. Berita mengenainya penuh kamuflase. Dulu kala kampanye, citranya seolah-olah gambaran pas pembasmi ketidakadilan; mengunjungi rakyat jelata. Merangkulnya penuh empati, tampilannya bersahaja. Memakai kaos oblong, bersandal jepit, memakan apa yang terhidang, menyeruput minuman dari gelas yang pinggirnya berdebu. Setelah jadi, “si munafik” itu tak pernah peduli pada kami. Sekarang, Ia berjalan melewati kami, lagaknya acuh tak acuh. Kami hanya bisa menunduk. Kami sudah terbiasa dengan perlakuan tengik itu.
Sebelum pria itu masuk ke dalam kantor desa, ia berhenti sejenak dan menatap kami. “Kalian harus tahu, kemajuan itu tidak bisa datang begitu saja. Ada prosesnya. Sama halnya ketika kalian mengolah daun teh. Dibutuhkan kesabaran. Pemerintah tetap memikirkan nasib kalian. Percayalah”, katanya dengan nada yang menekan, sama sekali tidak menyentuh perasaan. Kata-katanya seperti kentut, bikin kepala cenut-cenut. Lalu pria itu masuk ke dalam, seperti cacing, terbirit-birit ke lubang kubur, meninggalkan kami yang berdiri mematung.
Aku kembali ke ladang teh beberapa bulan kemudian. Tetapi yang ku dapati tanah yang kian mengering, serta daun-daun teh yang semakin menguning. Di bawah rerimbun daun teh, Aku duduk lelah memandangi jejak kaki ayah yang telah pergi bersama cacing-cacing, meninggalkan tanah yang kini menjadi saksi bisu perjuangannya. Di hamparan tanah berbukit itu, Aku menyadari bahwa kami seperti lintingan daun teh. Dipetik, digulung, diperas, tanpa pernah diberi kesempatan untuk berkembang. Kami hanya bisa menunggu sebuah keajaiban yang tak pernah datang.
Tetapi di balik itu semua, sebuah pesan dari langit masih rutin aku terima. Pesan yang mengingatkan, bahwa daun teh ini mungkin akan terus digulung, namun di suatu waktu, akan ada yang mengubahnya menjadi lebih dari sekedar daun yang terbuang. Mungkin, seperti cacing lautan yang mencari liang nyaman, kita akan menemukan tempat impian pribadi, walaupun sulit dan penuh pengorbanan. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, pesan itu menjauh, terhanyut pusaran angin. Seperti harapan yang perlahan menghilang, hanya menyisakan debu-debu kenangan.
Daun teh yang tergeletak di telapak tanganku perlahan terlepas dan jatuh ke tanah. Aku memandang sejenak, membayangkan bagaimana daun-daun itu dulu tumbuh dengan lebat, memberi kehidupan layak bagi banyak orang. Kini, hanya menjadi serpihan yang terbuang, tak lagi punya arti.
Tanpa aku sadari, air mataku jatuh mengalir di wajah yang sudah lelah ini. Aku menangis tersedu-sedu karena ingatanku pada perjuangan ayah. Tapi Aku tahu-di balik setiap sepak terjang beliau dan daun yang terbuang, ada sesuatu yang terus tumbuh, meski tak terlihat. Seperti harapan yang kadang hilang, tetapi selalu ada di garis cakrawala yang jauh. Suatu hari nanti, semoga kami menemukan cara untuk menanam kembali apa yang telah hilang.[]
Pria yang gemar makan bubur kacang ijo bersama roti bakar isi coklat kacang. Selain membaca, ia juga suka mancing ikan serta menjelajah alam. Beberapa tulisannya(Cerpen, puisi, artikel) baik cetak maupun online pernah dimuat di beberapa media.


