Close Menu
sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    UNJUK KARYA
    webutama
    • Beranda
    • Sastra
      • Cerita Pendek
      • Puisi
      • Resensi Buku
      • Info Sastra
    • Visual
    • UKM
    • Tentang Kami
      • Sastra untuk Semua
      • Unjuk Karya
      • Kontak
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Home»Resensi Buku»Sky Burial : Mitos para Dewa dan Cinta
    Resensi Buku

    Sky Burial : Mitos para Dewa dan Cinta

    Bias Maneka5 Juni 2020
    Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
    Sky Burial : Mitos para Dewa dan Cinta

    Sky Burial (Pemakaman Langit)
    Xinran Xue | PT Serambi Ilmu Semesta

    Dereten pegunungan dengan puncak bersalju, padang rumput maha luas tiada bertepi, kesunyian panjang dan kegetiran tiada akhir. Setidaknya itulah gambaran tantangan yang harus ditaklukkan di Negeri Tibet. Dimana Shu Wen, tokoh utama, seorang wanita tangguh dari China mencoba menemukan kembali cinta sejatinya.

    Mereka harus berpisah karena sang suami ditugaskan sebagai Menba, dokter, untuk membantu korban perang di Tibet. Namun sejak saat itu Kejun, sang suami tak pernah kembali. Merasa penasaran dan disertai tekad yang begitu besar untuk menemukan keberadaan Kejun, Shu Wen memutuskan untuk pergi menyusul ke ranah perang.

    Selama 30 tahun lebih pengelanaannya, Shu Wen mengalami berbagai cobaan dan ujian yang begitu mengharukan. Demi menemukan kembali sang suami, Shu Wen harus rela meninggalkan kehidupannya di China. Wen memutusan bergabung dengan dinas kemiliteran tempat suaminya ditugaskan, yang hendak dikirimkan kembali ke medan tempur Tibet. Namun begitu sampai di Tibet, Shu Wen ternyata tak langsung bisa bertemu dengan Kejun. Tanpa petunjuk apapun, buta segala informasi tentang gejolak politik maupun struktur kehidupan sosial budaya di Tibet, Shu Wen nekad mencari sang suami. Shu Wen yakin, Kejun belum mati.

    Alam Tibet ternyata tak seramah yang Shu Wen bayangkan. Berkali-kali Shu Wen harus berhadapan dengan keganasan alam maupun kehidupan masyarakat Tibet yang terkenal bengis. Cerita seram tentang pemakaman langit, dimana sebuah mayat harus dibelah bagian-bagian tubuhnya untuk kemudian diserahkan pada burung naza. Burung-burung pemakan bangkai itu dipercaya masyarakat Tibet akan mampu mengantar arwah si orang meninggal ke surga.

    Pola hidup primitif yang coba dihadirkan Xinran, juga cukup mampu menggugah emosi pembaca ke alam fantasi yang berbeda. Pembaca seolah dibawa untuk menemukan sebuah kehidupan tua, yang terpisah dari peradaban, di tengah zaman yang serba modernitas. Sebuah hubungan yang kuat antara alam dengan agama. Keluasan dan keheningan.

    Serta budaya patriarki yang samasekali tidak berlaku. Dimana sebagian tugas-tugas wanita seperti menjahit, membuat pakaian dari lembaran-lembaran kulit dan bulu binatang dikerjakan kaum laki-laki. Bahkan Shu Wen sempat terperangah ketika mengetahui kaum wanita Tibet, diijinkan untuk memiliki suami lebih dari satu. Benar-benar sebuah kehidupan yang samasekali baru bagi Shu Wen. Dimana masyarakatnya memasrahkan diri sepenuhnya pada alam dan surga.

    Pemakaman langit juga sarat dengan cerita dan mitos tentang dewa-dewa penjaga bumi, dewa perang serta legenda raja Gesar dan Putri Wencheng. ‘Ornamen’ lain yang juga cukup mampu menggugah rasa ingin tahu pembaca sekaligus menambah daya keagungan budaya kuno Tibet adalah kisah tentang pertapa tua penjaga danau, yang ternyata mengetahui keberadaan Kejun, suami Shu Wen. Kuil-kuil dengan para lama yang selalu melantunkan naskah-naskah suci kepercayaan Budha, berbagai perayaan suci masyarakat Tibet dan beragam “keanehan” lain yang mengajak pembaca untuk menyelami suatu kehidupan yang samasekali asing.

    Sampai kapan Shu Wen mampu bertahan dalam keterasingan itu? Sampai kapan Shu Wen akan berkelana mencari Kejun, yang seolah lenyap tanpa petunjuk yang pasti? Seberapa banyak kehilangan dan kemenangan yang dilalui Wen dalam pengembaraannya di negeri tak bertuan? Selama apakah kekuatan cintanya akan bertahan? Dengan susunan terjemahan serta kosakata yang mudah untuk dipahami, rasanya pembaca tidak akan sulit untuk mengikuti setiap alur cerita.

    Buku ini cocok untuk anda yang mencoba mencari tahu serta mempercayai kekuatan cinta. Sebuah buku yang luar biasa yang mengisahkan perjuangan seorang wanita yang luar biasa dan ditulis oleh seorang wanita yang juga luar biasa. Selamat menikmati dan selamat menyelami arti cinta sejati.

    Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp
    Next Article Potret Perjuangan Cinta Kaum Marginal

    Karya Lainnya

    Satu Buku, Dua Pandangan

    24 Mei 2022

    Ironi Transaksi Kematian

    1 Juli 2021

    Bangkitnya Kisah yang Tak Pernah Usai

    15 Mei 2021

    Mengasah Empati Berbekal Imaji

    3 Januari 2021

    Xu Sanguan dan Semangkuk Kisah Perjuangan

    15 November 2020

    Mengurai Simpul Kelam Vegetarian

    1 November 2020
    Karya Sastra Terbaru

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    By Kuntoro Rido A

    Yang Pergi Lebih Dulu

    By Hendro D. Laksono

    Lampu Kamar Anshar

    By Nurita W. Prasaja

    Amplop Berwarna Cokelat

    By Anindya Bethari

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    By Anindya Bethari

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    By Idrus Zamuji

    Perempuan di Ambang Senja

    By Idrus Zamuji

    Bangku Nomor Tujuh

    By Katelyn Mandasari

    Perbincangan Minggu Pagi

    By Anindya Bethari

    Minimarket dan Jalan Pulang Itu

    By Aldi Hilman Anshar
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Beranda
    • Sastra
    • Tentang Kami
    • BERITAJATIM MENGUNDANG PENYAIR DAN CERPENIS
    • Arsip
    © 2026 Sastra Beritajatim.com | sastra untuk semua .

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.