“Bu Larasati, boleh bertanya sesuatu yang agak pribadi?”
Ruangan kelas mendadak dingin. Seperti AC di ruang dosen yang biasa rusak, tiba-tiba berfungsi begitu baik. Para mahasiswa menoleh, mereka berpikir ada sesuatu akan pecah. Larasati mendadak terdiam. Tersenyum kecut.
“Silakan, Dhanu.”
“Saya dengar, di adat Jawa, tahi lalat di dada perempuan dianggap simbol gairah cinta. Apa benar, Bu?”
Semua mahasiswa terdiam, jam dinding seolah berhenti berdetak. Tubuh Larasati menegang sesaat. Dia menutup laptop, menyesap udara, lalu berdiri. Jari-jarinya saling mencengkeram erat di belakang tubuh. Dia merasa sepasang mata sedang menelanjanginya—bukan secara fisik tapi lewat wacana, lewat arah pikiran yang tak semestinya mengusik ranah privat seorang dosen.
Dia tidak bisa marah tetapi tubuhnya panas dingin.
Dosen perempuan yang biasa luwes menjelaskan eksistensialisme Sartre atau absurditas Camus, kini justru berdiri kikuk di tengah absurditasnya sendiri –menjadi objek rumor dan mitologi tubuh.
Larasati tahu arah pertanyaan itu, bukan murni ingin tahu. Sebuah jebakan. Satu gejala analitik. Itu menjadi bukti bahwa gosip tentang –tahi lalat didi dadanya—telah menyebar seperti jamur di musim hujan.
Ah, tahi lalat itu, yang kecil, hitam, sunyi, di sisi kiri dadanya—tiba-tiba menjelma simbol, fetish, bahan bisik-bisik, bahkan barangkali: fantasi mahasiswa.
Dua hari sebelumnya, dia sempat mendengar sekelebat percakapan dari dua mahasiswa di gazebo kampus, “Makanya dia betah sendiri, pasti udah tahu kekuatan tahi lalatnya.”
“Tahi lalat di dada kiri katanya, bisa bikin lelaki jatuh cinta dan gila.”
“Siapa yang tahu pasti letaknya?”
Larasati melewati mereka seolah tak dengar, tetapi tubuhnya menegak. Sesampainya di rumah, malam itu Larasati berdiri lama di depan cermin. Dia membuka blouse-nya perlahan. Memandangi tahi lalat kecil: bulat, legam, dan tenang di sana sejak remaja.
Dulu, ibunya pernah berbisik sambil mengusap dada itu, “Nak, tahi lalat ini bukan hiasan tetapi sebuah penanda takdir. Kalau lelaki yang tahu letaknya tak berhati bersih, hidupmu akan remuk.”
Waktu itu Larasati tertawa tetapi tidak untuk malam ini. Dia merasa seperti puisi tanpa makna—selalu dibaca dari sisi keliru. Asem, desisnya.
Di ruang kelas, dia mencoba menjawab, “Dalam kepercayaan Jawa, setiap bagian tubuh bisa bermakna. Ingat, makna bukan hukum; kita hidup di zaman nalar, bukan mitos.”
Dhanu tampak canggung, tetapi puas.
Sementara Damar—yang duduk di sudut kelas kuliah, menunduk dalam—terdiam. Dia tahu, dialah orang pertama yang pernah bercerita soal tahi lalat kepada Santiaji, teman diskusi di kafe pojok kampus.
“Dia dosen yang terlalu indah untuk dibahas,” katanya saat itu.
“Tahu nggak, katanya, dia punya tahi lalat tepat di sisi kiri dada seperti lambang rahasia. Api.”
Santiaji tertawa waktu itu. Cerita itu rupanya meluncur dari mulut ke mulut seperti batu dilempar ke danau yang tenang, kini danau itu bergelombang.
Malamnya, Larasati menulis di buku harian. “Aku tak pernah membuka dada, tapi dunia telah membacanya. Cinta yang semula kutanam sebagai sunyi, kini dipanen sebagai skandal. Mungkin memang benar bahwa tubuh perempuan selalu milik publik sebelum menjadi milik diri sendiri.”
Larasati memejamkan mata. Ingat Damar. Mahasiswa pintar yang diam-diam mencuri waktu lebih banyak dibanding yang lain: yang tahu semua baris puisi Sitor Situmorang, WS Rendra, Joko Pinurbo, dan Sapardi Djoko Damono. Cara menatap Damar lebih dalam dari kebanyakan lelaki dewasa.
Larasati tahu, barangkali Damar pernah mencintainya diam-diam. Barangkali, tahi lalat itu adalah magnet—bukan kutukan. Tetapi kini, yang tersisa hanya suara gaduh dan sesal.
Di perkuliahan minggu berikutnya, Larasati hanya membawa selembar kertas. Dia membacakan puisi yang dia tulis sendiri, lalu keluar ruangan tanpa menjelaskan satu pun teori.
Jika kau tahu letak tahi lalatku,
jangan kau sebar,
kecuali dengan niat menyentuh jantungku
dan diam atau tinggal di sana.
Setelah itu, Larasati cuti panjang. Mahasiswa bertanya-tanya, dosen bertanya-tanya, tapi tak ada kabar. Damar, pada hari kelulusannya, mengirim satu kalimat ke email Larasati yang tak pernah dibalas, “Saya tahu letak tahi lalat itu dari puisi. Tapi saya jatuh cinta bukan pada tubuhmu, Bu, melainkan sunyi yang kau bawa di antara kata dan diam.”
***
Langit menggumpal-gumpal, putih seperti kapas tua. Udara sepi dan tak bersuara seperti ruang antara dua puisi yang ditulis dalam kesedihan. Larasati berjalan menyusuri trotoar Oslo, Norwegia, dengan mantel wol tebal dan syal biru laut. Di dada kirinya, masih ada tahi lalat itu—sunyi, tak terganggu, seperti titik terakhir dalam sajak yang tak pernah diterbitkan.
Dia tak lagi mengajar, kini dia menjadi peneliti tamu di pusat studi pos-kolonial dan mitologi tubuh perempuan. Menulis dalam bahasa yang bukan bahasa ibu atau bahasa negaranya, dia menulis tentang luka-luka yang tak bisa dijelaskan dengan teori.
Setiap malam dia minum teh hitam dan menulis surat yang tak pernah dikirimkan. Salah satunya untuk Damar.
Damar,
Ada satu momen yang tak pernah selesai dalam hidupku—yaitu ketika kau memilih diam di kelas, saat pertanyaan itu dilontarkan. Di sana, dunia batinku pecah. Aku tak marah, aku hanya patah.
Kau tahu? Tubuhku, tahi lalatku, menjadi semacam kitab tak bertulisan—ditafsir seenaknya. Ironinya, kau yang paling kutunggu membaca dengan cinta, malah membiarkan gosip menjadi teks pertama yang dibaca dunia.
Kini aku di Oslo, Norwegia. Salju turun seperti doa-doa beku. Tapi dada kiriku tetap hangat. Barangkali karena tahi lalat yang tak pernah memudar. Seperti rasa yang tak bisa aku enyahkan padamu.
Aku tahu ini absurd. Tapi apa cinta pernah waras?
***
Sementara itu, Damar kembali ke kampus lama setelah kuliah pascasarjana di Leiden, Belanda. Dia diundang sebagai dosen tamu untuk mata tema Tubuh, Simbolisme, dan Kesunyian dalam Sastra Asia Tenggara.
Damar berjalan melewati ruang kelas yang sama, tempat Larasati dulu berdiri, di mana pertanyaan soal tahi lalat dilontarkan. Seperti peluru pelan yang membunuh tanpa darah. Tak ada Larasati. Damar mencari ke mana-mana. Hingga suatu sore, di ruang dosen lama, dia menemukan amplop lusuh—terselip di antara buku The Second Sex dan Nyai Ontosoroh.
Amplop itu tertulis satu kata: “Damar”. Isinya hanya satu halaman, surat yang ditulis tangan dengan tinta biru tua. Sudah menguning, tapi masih terbaca. Di bawah tanda tangan, satu titik hitam kecil digambar dengan teliti, bukan noktah tinta biasa. Tahi lalat. Damar menunduk, air matanya jatuh, dunia mendadak bisu.
Lima tahun setelah membaca surat itu, Larasati dan Damar dipertemukan di Festival Sastra secara tak sengaja. Atau, takdir menyukai dramanya sendiri. Mereka duduk satu panel bertema: Tubuh, Cinta, dan Mitos Jawa. Larasati mengenakan kebaya abu-abu muda dengan bros perak di dada kiri, tepat di bawah bros itu, tahi lalat itu mungkin masih ada. Atau, sudah ditutup dengan sengaja. Mereka berbicara tanpa saling menyapa tapi dunia di antara mereka bergetar.
Pada sesi tanya jawab, seorang mahasiswa muda bertanya, “Bu Larasati, apakah tubuh perempuan—dengan segala simboliknya—selalu menjadi kutukan dalam budaya kita?”
Larasati menatap Damar sejenak, lalu tersenyum dan menjawab, “Bukan kutukan tapi teka-teki, dan laki-laki yang hanya ingin membacanya tanpa mencintai, akan tersesat.”
Setelah sesi selesai, Larasati menoleh perlahan dan berbisik kepada Damar, “Tahi lalat itu masih di sana.”
“Aku tahu,” kata Damar lirih. “tapi sekarang, aku tak ingin menyentuhnya, aku hanya ingin menjaganya.”
Larasati tersenyum, lalu pergi. Langkahnya ringan, seperti puisi tak butuh panggung. Damar tahu, sejak saat itu, mereka sudah saling menyentuh—tanpa perlu menyentuh. Tahi lalat itu? Kini hanya simbol, karena cinta yang sesungguhnya, tak butuh titik penanda.
***
Tubuh itu buku tanpa sampul. Di atas meja kayu tua berwarna cokelat kelam, tumpukan kertas bersampul lusuh menanti untuk dibaca. Judulnya sederhana, tapi menghunjam.
Tubuh yang Minta Dibaca Ulang:
Catatan Reflektif Seorang Perempuan Jawa
Penulis: Larasati, Ph.D.
Penerbit: independen.
Tahun terbit: tidak ada tahun terbit.
Buku itu jadi serupa gema—tak mengguncang, tetapi tinggal. Bukan dipuja, tetapi untuk direnungi. Ia tak hadir di toko buku besar, hanya tersebar di lingkaran kecil akademisi dan pecinta sastra, dikirimkan langsung melalui email atau bertukar tangan seperti benda keramat.
Buku Larasati dibuka dengan paragraf berikut.
Tubuhku bukan milikku sebelum aku pahami bahwa ia bukan kutukan, bukan pula karunia. Ia hanyalah medium—tempat sejarah, trauma, dan cinta menulis huruf demi huruf. Dan tahi lalat di dadaku adalah titik, bukan karena ia menutup kalimat, tapi karena dunia mengira ia pusat segala makna.
Damar menerima naskah buku itu sebelum rilis publik lewat kiriman pribadi dan tanpa sepucuk surat. Hanya pesan pendek dari Larasati lewat email, “Bacalah, bukan sebagai kekasih yang tak jadi, tetapi sebagai pembaca yang gagal membaca pada waktu itu.”
Damar membaca buku itu perlahan. Setiap halaman adalah luka yang dijahit ulang, tetapi bukan untuk ditutup—melainkan ditampilkan sebagai galeri pengalaman perempuan yang hidup dalam tubuh yang terlalu sering dimaknai oleh orang lain.
Salah satu bagian yang menghentikan Damar begitu lama adalah, “Waktu Damar tak menjawab di kelas itu, aku sadar: tubuhku telah jadi legenda, tetapi hati tetap tak terbaca. Dunia sibuk menebak bagian mana bisa disentuh, tetapi tak ada yang menanyakan: apakah aku ingin disentuh.”
“Tahi lalatku adalah palung, tempat berenang ke sana tak akan menemukan mutiara, kalau niatnya hanya mencari peta.”
Larasati dalam sebuah wawancara daring di kanal sastra kecil, mengatakan satu kalimat yang menjadi kutipan ikonik, “Tubuh perempuan Jawa penuh simbol tetapi simbol pun bisa salah dibaca jika pembacanya tidak cukup hening.”
Wawancara itu viral di kalangan feminis, seniman, akademisi, dan spiritualis modern. Setelah itu ironisnya, Larasati menolak semua undangan tampil di TV atau seminar populer. Dia memilih membiarkan karyanya hidup seperti kenangan—diam tetapi mengendap.
Di ruang dan rumah sunyinya, Larasati menulis esai baru. “Aku mencintai tubuhku bukan karena ia indah, tetapi karena ia akhirnya diam. Ia tak lagi menuntut dipahami atau ditutup-tutupi. Ia cukup tahu: makna sejati lahir dari keberanian menjadi sunyi di tengah riuh tafsir.”
Tiga bulan setelah buku terbit, Larasati dan Damar bertemu lagi, bukan di panggung, bukan di ruang diskusi tetapi di makam ibu Larasati, di lereng Gunung Lawu. Tanpa janjian, tanpa rencana, seperti takdir memikirkannya sendiri.
Mereka duduk di batu nisan. Larasati berkata lirih, “Ibu percaya tahi lalat itu bukan sembarang tanda. Ia portal ke kehidupan yang lebih dalam.”
Damar menjawab, “Aku dulu berpikir itu simbol gairah.”
“Sekarang?” tanya Larasati.
“Aku tahu, simbol kehendak untuk memilih siapa yang boleh masuk.”
Mereka saling memandang cukup lama tetapi tidak saling menyentuh. Keduanya tak perlu saling memiliki dan saling paham: tubuh Larasati tak lagi menjadi misteri atau legenda. Ia menjadi puisi yang selesai dibaca, tetapi terus bergema.
Kita lahir tanpa tanda tetapi dunia menuliskan simbol di tubuh kita: tahi lalat, bulu roma, luka, kerut, bisik-bisik, dan yang paling kuat bukan tanda di kulit, tetapi makna yang kita beri sendiri.
Tubuh tak lagi menunggu dibaca, ia memilih membacakan dirinya sendiri dalam diam, dalam cahaya. Cinta, jika masih ada, tidak lagi lahir dari rasa ingin tahu tetapi dari bilik keberanian yang tak bertanya apa-apa lagi (*).


