Close Menu
sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    UNJUK KARYA
    webutama
    • Beranda
    • Sastra
      • Cerita Pendek
      • Puisi
      • Resensi Buku
      • Info Sastra
    • Visual
    • UKM
    • Tentang Kami
      • Sastra untuk Semua
      • Unjuk Karya
      • Kontak
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Home»Cerita Pendek»Sayembara Mendengar
    Cerita Pendek

    Sayembara Mendengar

    Aan Haryono12 Agustus 2025
    Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
    Sayembara Mendengar

    Saya belum pernah ikut sayembara. Bahkan, untuk sekadar menghadiri acara arisan RT pun saya enggan. Saya tidak menyukai keramaian. Saya tidak suka dipaksa mendengarkan orang yang merasa suaranya penting.

    Namun kali ini berbeda. Undangan itu datang langsung dari pihak berwenang, ditempel di pintu rumah saya, disegel, dan ditandatangani oleh pejabat kelurahan yang namanya saya lupa, meski ia satu sekolah dasar dengan saya dulu.

    Isinya pendek saja:

    “Warga diminta mengikuti Sayembara Mendengar. Hadiah menarik. Hukuman untuk yang tidak ikut.”

    Saya menebak ini bukan jenis sayembara yang umum. Tidak ada kriteria kecantikan, tidak ada lomba balap karung, makan kerupuk, atau gobak sodor. Ini sayembara mendengar. Mendengar apa?

    Tentu saja, tak ada penjelasan. Tidak juga petunjuk teknis. Tidak juga FAQ. Ini negara yang tidak menjelaskan, hanya menyuruh. Segera hadir. Dan tidak bisa diwakilkan.

    Saya tiba di kantor kecamatan pada pukul delapan pagi. Di sana sudah ada 39 orang. Saya tahu karena saya menghitungnya satu per satu, karena saya tidak punya kebiasaan lain dalam menunggu. Melihat jarum jam yang terus berputar tanpa henti. Mereka semua tampak normal. Atau mungkin tidak.

    Saya melihat lelaki bertopi kupluk putih yang terus-menerus mengarahkan telinganya ke kipas angin. Saya melihat perempuan paruh baya membawa tape recorder yang terus memutar rekaman detak jantungnya sendiri.

    Lalu ada seorang pemuda kurus, rambutnya seperti sisir patah, yang berbisik pada satpam: “Saya bisa dengar suara orang sebelum mereka bicara.”

    Saya tidak percaya. Tapi saya juga tidak heran.

    Kami dikumpulkan dalam aula besar. Kursi plastik disusun seperti kelas. Tak ada papan tulis. Tak ada pembicara. Kami dibiarkan duduk dalam diam. Lama. Sangat lama. Seorang lelaki mulai tertidur dan mendengkur. Yang lain menoleh, lalu mencatat sesuatu. Ada juga yang diam dengan tatapan kosong, matanya berselancar entah kemana.

    Saya pun tidak tahu apakah dengkurannya bagian dari ujian. Atau barangkali seluruh sesi ini memang ujian. Tapi mana juga alat tulisnya, lembar-lembar yang harus diisi atau dicermati.

    Di dinding tertempel tulisan tangan:

    “Mendengar adalah awal dari ketaatan. Mendengar adalah akhir dari pertanyaan.”

    Saya membacanya tiga kali. Saya tidak mengerti. Tapi saya mencatatnya. Dan kembali menebalinya.

    Kami kemudian dimasukkan ke dalam ruangan kecil. Pengeras suara dipasang di sudut-sudut. Lalu diputar suara pasar, suara pabrik, suara demonstrasi, suara panggilan darurat, suara sirine, suara debat politik, suara anak kecil menangis, suara gergaji, suara burung, suara wortel dipotong, suara kentut.

    Kata panitia dengan lantang: “Tugas kalian adalah mendengarkan yang tidak terdengar!”

    Saya mencoba berkonsentrasi.

    Di balik suara berlapis-lapis itu, saya mendengar sesuatu. Seperti suara… lirih. Seperti seseorang memanggil nama saya. Atau mungkin hanya gema pikiran saya sendiri. Suara itu terus merayap. Seperti mau menerkam.

    Setelah dua jam, kami keluar.

    “Apakah Anda mendengar sesuatu?” tanya salah satu juri.

    “Tidak,” jawab saya, “tapi saya tidak tuli.”

    Kami pun kemudian disuruh mendengar suara orang-orang terdekat. Mereka hadir lewat rekaman. Diputar pelan dari kaset tua yang sudah usang.

    Saya mendengar suara ibu saya menyuruh makan. Suara itu terdengar tua. Lebih tua dari ingatan saya. Lalu suara ayah saya, menyuruh saya diam. Lalu suara  istri saya, tertawa sambil menyebut merk hermes dengan kecutnya.

    Beberapa peserta menangis. Seorang peserta meraung. Yang lain pingsan. Ada juga yang marah, membanting pintu dan kembali meratap.

    Saya tetap diam. Saya kira, saya sudah terlalu sering mendengar semuanya. Tidak ada yang baru. Dan karena itu, tidak ada yang menyakitkan.

    Kami kemudian dikurung sendirian dalam bilik kedap suara.

    Tidak ada suara apa pun. Tidak juga suara napas. Hanya suara pikiran.

    Saya mendengar suara saya sendiri mengomentari hal-hal yang sudah lewat. Seperti suara guru SD saya, atau komentar acak tentang mengapa saya tidak pernah mengganti seprai.

    Saya mendengar suara saya menuduh saya tidak bahagia.

    Saya tidak tahu bagaimana menjawabnya. Karena jika suara itu benar, saya akan kalah. Tapi jika saya membantahnya, saya akan membuktikan kebenarannya.

    Saya pun kini duduk di hadapan seorang juri yang tidak memperkenalkan diri. Pembawaannya datar. Tapi saya mengenal wajahnya. Ia adalah penyiar radio yang suaranya sering saya dengar di masa kecil. Ia tak pernah terlihat, tapi suaranya ada dalam setiap tidur siang saya.

    Ia berkata:

    “Mendengar itu seperti membuka pintu. Tidak semua yang masuk bisa kamu kunci kembali.”

    Saya tidak menjawab. Saya hanya memandangi telinganya yang kecil dan terlipat rapi.

    Ia mencatat sesuatu, lalu berkata:

    “Kau tidak mendengarkan, tapi kau tahu bagaimana pura-pura mendengar.”

    Saya mengangguk. Itu cukup adil. Tapi bagi sebagian orang terasa kejam.

    Akhirnya tidak ada pengumuman. Tidak ada pemenang. Tidak ada hadiah. Tidak ada penalti. Kami hanya disuruh pulang. Seperti itu saja. Tanpa upacara. Tanpa tepuk tangan. Dan sekedar simpul senyum yang menyertai.

    Di gerbang keluar, seorang lelaki tua menyerahkan secarik kertas pada saya. Tulisannya rapi:

    “Mereka yang sungguh-sungguh mendengar tak akan butuh pengakuan. Karena mendengar adalah bentuk paling rahasia dari mencintai.”

    Saya ingin membacanya dua kali, tapi kertas itu sudah terbang ditiup angin. Ah, sudahlah.

    Setelah sayembara itu, saya mendapati sesuatu berubah. Datang dari segala penjuru mata angin. Seperti menerkam, menjebak dalam ruang kosong. Dan semua seperti diam.

    Saya mulai bisa mendengar hal-hal kecil: suara air meresap di tembok, suara daun gugur mengenai tanah, suara senyuman yang dipaksakan, suara janji yang tidak akan ditepati, suara tangis yang ditahan di balik chat bertuliskan “aku baik-baik saja.”

    Kadang, saya berharap saya tidak pernah ikut sayembara itu.

    Karena semakin saya bisa mendengar, semakin saya ingin menutup telinga saya sendiri.

    Surabaya, Agustus 2025

    Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp
    Previous ArticleCahaya yang Ditelanjangi
    Next Article KBS

    Karya Lainnya

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    10 Juli 2026

    Yang Pergi Lebih Dulu

    26 Juni 2026

    Lampu Kamar Anshar

    13 Juni 2026

    Amplop Berwarna Cokelat

    6 Juni 2026

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    4 Juni 2026

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    1 Juni 2026
    Karya Sastra Terbaru

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    By Kuntoro Rido A

    Yang Pergi Lebih Dulu

    By Hendro D. Laksono

    Lampu Kamar Anshar

    By Nurita W. Prasaja

    Amplop Berwarna Cokelat

    By Anindya Bethari

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    By Anindya Bethari

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    By Idrus Zamuji

    Perempuan di Ambang Senja

    By Idrus Zamuji

    Bangku Nomor Tujuh

    By Katelyn Mandasari

    Perbincangan Minggu Pagi

    By Anindya Bethari

    Minimarket dan Jalan Pulang Itu

    By Aldi Hilman Anshar
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Beranda
    • Sastra
    • Tentang Kami
    • BERITAJATIM MENGUNDANG PENYAIR DAN CERPENIS
    • Arsip
    © 2026 Sastra Beritajatim.com | sastra untuk semua .

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.