Close Menu
sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    UNJUK KARYA
    webutama
    • Beranda
    • Sastra
      • Cerita Pendek
      • Puisi
      • Resensi Buku
      • Info Sastra
    • Visual
    • UKM
    • Tentang Kami
      • Sastra untuk Semua
      • Unjuk Karya
      • Kontak
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Home»Cerita Pendek»Stasiun Terakhir
    Cerita Pendek

    Stasiun Terakhir

    Nurita W. Prasaja28 Juli 2025
    Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
    Stasiun Terakhir

    Pagi itu, Pak Suryo tidak datang seperti biasa. Jam tujuh lewat, para petugas stasiun mulai resah. Sudah lima puluh tahun—lima puluh tahun!—laki-laki berambut putih itu tak pernah terlambat. Bahkan saat hujan lebat atau sakit demam, ia tetap hadir di bangku nomor tiga, platform dua, dengan tas kecil berisi termos kopi dan roti tawar.

    “Mungkin dia sakit,” bisik Mbak Sari, petugas loket yang sudah mengenal Pak Suryo selama dua puluh tahun.

    Tapi jam delapan, jam sembilan, jam sepuluh—bangku itu tetap kosong.

    Hingga akhirnya Mas Budi, cleaning service senior, menemukan sosok itu terduduk tenang di bangku tunggu. Terlalu tenang. Mata yang biasa berbinar penuh harap kini terpejam damai, seolah akhirnya menemukan kedamaian yang sudah lama dicari.

    ***

    Suryo berusia tiga puluh empat ketika pertama kali duduk di bangku itu. Hari itu, kereta terakhir dari Surabaya baru saja tiba, dan para penumpang berduyun-duyun keluar. Matanya menyisir setiap wajah, berharap menemukan sosok yang sangat dikenalnya.

    Tapi Kartini tidak ada di sana.

    “Mungkin kereta berikutnya,” gumamnya sambil merapatkan jasnya. Angin malam di stasiun selalu dingin, tapi hatinya masih hangat dengan janji yang terpatri: “Aku mungkin tidak akan kembali, tetapi aku juga mungkin akan kembali.”

    Hari demi hari, Suryo datang setelah pulang kerja dari pabrik tekstil. Jam setengah delapan malam hingga sebelas malam, ia duduk di bangku yang sama, menunggu. Dalam tas kecilnya selalu ada termos kopi pahit—kopi yang dulu sering mereka nikmati bersama di warung Mbah Dalijo.

    “Suryo,” Kartini pernah berkata sambil menyeruput kopi pahit itu, “rasa pahit ini seperti hidup kita. Tapi kalau diminum bersama, rasanya jadi manis.”

    Tiga Tahun Sebelum Pensiun

    Para petugas stasiun sudah menganggap Suryo bagian dari keluarga. Setiap malam, mereka menyapa dengan hangat. Pak Darman, kepala stasiun, bahkan sering mengajaknya makan di kantin.

    “Mas Suryo, yakin dia akan datang?” tanya Pak Darman suatu malam.

    Suryo tersenyum tipis. “Pak, cinta itu seperti kereta. Kadang terlambat, tapi pasti sampai juga.”

    Pak Darman terdiam. Ia tidak tega mengatakan bahwa sudah empat puluh tujuh tahun Suryo menunggu, dan tak ada kabar apapun tentang perempuan bernama Kartini itu.

    Masa Pensiun

    Ketika pensiun tiba, rutinitas Suryo berubah. Ia datang sejak pagi, membantu Mas Budi membersihkan lantai, membantu penumpang yang membawa barang berat, menjaga anak kecil yang terpisah dari orangtuanya. Ketika ditawari uang, ia selalu menolak halus.

    “Saya tidak butuh uang, Mas. Saya hanya butuh… waktu.”

    Waktu untuk menunggu. Waktu untuk berharap. Waktu untuk tetap setia pada janji yang mungkin sudah dilupakan orang lain.

    ***

    Kilas Balik: 1974

    Kartini duduk di teras rumahnya yang sederhana, memandangi surat yang baru saja ia tulis. Tintanya masih basah, seperti air mata yang mengering di pipinya.

    “Kartini,” panggil ibunya dari dalam rumah, “Mas Hasan sudah datang dengan keluarganya.”

    Hasan. Laki-laki pilihan orangtuanya. Baik, mapan, terpandang. Sementara Suryo… Suryo hanya pekerja pabrik dengan mimpi-mimpi besar yang belum tentu terwujud.

    “Aku mungkin tidak akan kembali, tetapi aku juga mungkin akan kembali. Semua karena aku ingin menjatuhkan pilihan dengan caraku. Bukan karena dijodohkan.”

    Kata-kata itu ia sampaikan pada Suryo malam sebelum keberangkatan. Ia melihat mata laki-laki itu berkaca-kaca, tapi Suryo hanya mengangguk dan berkata, “Aku akan menunggu, Kartini. Sampai kapanpun.”

    Di kereta menuju Jakarta, Kartini menitikkan air mata. Ia tidak tahu bahwa keputusannya untuk mencari jati diri di kota besar akan menjadi penyesalan seumur hidup. Ia tidak tahu bahwa bertahun-tahun kemudian, ketika ia sudah menikah dengan Hasan dan memiliki anak, hatinya masih akan terasa hampa setiap kali mengingat senyum tulus Suryo.

    ***

    Pagi yang Terakhir

    Para petugas stasiun berkumpul di sekitar bangku nomor tiga. Wajah Pak Suryo terlihat damai, seperti orang yang akhirnya sampai di tujuan. Di tangannya, selembar foto lusuh—foto dirinya bersama seorang perempuan cantik, keduanya tersenyum di bawah pohon flamboyan.

    Mbak Sari menangis. Mas Budi mengusap mata. Pak Darman membuka tas kecil Suryo dan menemukan sebuah buku harian. Halaman terakhirnya bertuliskan:

    “Hari ke-18.250. Kartini masih belum pulang. Tapi tidak apa-apa. Mungkin besok. Mungkin lusa. Yang penting, aku sudah membuktikan bahwa cinta sejati itu ada. Cinta yang tidak menuntut balasan. Cinta yang hanya memberi. Terima kasih, Kartini, karena sudah mengajariku arti kesetiaan.”

    ***

    Epilog

    Berita tentang kematian Pak Suryo tersebar cepat. Yang mengejutkan, tiga hari kemudian, seorang perempuan tua datang ke stasiun. Rambutnya sudah memutih, langkahnya lambat, tapi matanya masih menunjukkan kecantikan masa lalu.

    “Apakah… apakah Suryo benar-benar sudah…” suaranya bergetar.

    Mbak Sari mengangguk sambil menangis. “Ibu… Ibu Kartini?”

    Perempuan itu terduduk lemas di bangku nomor tiga. Ia mengeluarkan selembar surat kusam dari tas tuanya—surat yang ia tulis lima puluh tahun lalu tapi tak pernah berani kirim.

    “Suryo, maafkan aku. Aku memilih keamanan daripada cinta. Aku memilih yang mudah daripada yang benar. Setiap hari, aku menyesal. Setiap hari, aku ingin pulang. Tapi aku tidak berani menghadapi kekecewaanmu. Maafkan aku, maafkan aku…”

    Angin sore itu membawa daun-daun kering menari di sekitar stasiun. Di bangku nomor tiga, seorang perempuan tua menangis untuk cinta yang datang terlambat, sementara di suatu tempat, mungkin Suryo akhirnya tersenyum—karena cintanya terbukti tidak pernah sia-sia.

    Cinta sejati memang tidak selalu memiliki akhir yang bahagia. Tapi ia selalu memiliki makna yang indah.

    ***

    Stasiun adalah tempat pertemuan dan perpisahan. Tapi bagi mereka yang sungguh-sungguh mencinta, stasiun adalah tempat dimana waktu berhenti, dan cinta menjadi keabadian – Yogyakarta 2023

    Cinta kematian stasiun kereta api
    Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp
    Previous ArticleLukisan di Balik Kabut
    Next Article Serpihan Waktu yang Tertinggal

    Karya Lainnya

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    10 Juli 2026

    Yang Pergi Lebih Dulu

    26 Juni 2026

    Lampu Kamar Anshar

    13 Juni 2026

    Amplop Berwarna Cokelat

    6 Juni 2026

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    4 Juni 2026

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    1 Juni 2026
    Karya Sastra Terbaru

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    By Kuntoro Rido A

    Yang Pergi Lebih Dulu

    By Hendro D. Laksono

    Lampu Kamar Anshar

    By Nurita W. Prasaja

    Amplop Berwarna Cokelat

    By Anindya Bethari

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    By Anindya Bethari

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    By Idrus Zamuji

    Perempuan di Ambang Senja

    By Idrus Zamuji

    Bangku Nomor Tujuh

    By Katelyn Mandasari

    Perbincangan Minggu Pagi

    By Anindya Bethari

    Minimarket dan Jalan Pulang Itu

    By Aldi Hilman Anshar
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Beranda
    • Sastra
    • Tentang Kami
    • BERITAJATIM MENGUNDANG PENYAIR DAN CERPENIS
    • Arsip
    © 2026 Sastra Beritajatim.com | sastra untuk semua .

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.