Close Menu
sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    UNJUK KARYA
    webutama
    • Beranda
    • Sastra
      • Cerita Pendek
      • Puisi
      • Resensi Buku
      • Info Sastra
    • Visual
    • UKM
    • Tentang Kami
      • Sastra untuk Semua
      • Unjuk Karya
      • Kontak
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Home»Cerita Pendek»Perempuan yang Tak Pernah Pulang
    Cerita Pendek

    Perempuan yang Tak Pernah Pulang

    Avita Diah Ayu Atalia1 Juni 2025
    Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

    Perempuan yang Tak Pernah PulangDia sungguh jelmaan hadiah berharga. Kayana bukan perempuan yang dikenal karena sorot matanya yang tajam atau langkahnya yang mencuri perhatian. Justru sebaliknya—ia adalah jenis manusia yang kehadirannya senyap, nyaris tak terasa, seperti aroma kayu manis yang samar dalam secangkir teh panas. Ia ada, tapi tidak menuntut dikenali. Ia hadir, tapi tidak pernah menunggu ucapan terima kasih. Dalam setiap hubungan, persinggungnan, bahkan pertemuan singkat yang mungkin terlupakan oleh orang lain—Kayana selalu meninggalkan sesuatu, pertolongan kecil, pelukan diam, atau senyum yang tampak ia wariskan dari matahari pagi.

    Sejak lama, Kayana menjadikan dirinya rumah bagi siapa pun yang tersesat. Ia tahu kapan harus diam, kapan harus menampung amarah orang lain, dan kapan harus menghapus air mata yang bukan miliknya. Ia seperti pelabuhan tua yang setia menanti kapal-kapal datang membawa badai, lalu kembali pergi setelah tenang, tanpa pernah menanyakan kapan kapal itu akan kembali berlabuh.

    Dalam setiap pertemuan baru, dari yang sekadar tetangga baru sampai orang asing yang bertanya arah di jalan, Kayana akan membuka percakapan dengan kalimat yang bagai mantra, “Apa yang bisa kubantu untukmu?”

    Bagi Kayana, pertanyaan itu bukan basa-basi. Itu adalah undangan, pintu terbuka bagi siapa pun yang ingin masuk dan berlindung. Tapi tak banyak yang tahu bahwa dalam setiap bantuan yang ia berikan, ada bagian dari dirinya yang diam-diam ia relakan pergi. Sedikit demi sedikit, ia mengikis dirinya untuk membalut luka orang lain. Dan lama-lama, ia lupa caranya membalut lukanya sendiri.

    Suatu malam, Kayana pulang membawa kantong plastik berisi makanan yang ia antarkan untuk tetangganya. Hujan belum reda. Ia basah. Tapi bukan itu yang membuatnya menggigil. Di depan cermin, ia menatap wajahnya. Ada garis-garis tipis yang tidak ia kenali. Mata yang semula lentera, kini seperti jendela yang lama tak dibuka.

    Ia menyentuh pipinya.

    “Apakah aku masih ada?” bisiknya, pelan, seolah takut mengganggu keheningan yang juga sudah lelah bersuara.

    Tapi ponsel berdering. Seseorang butuh didengarkan. Dan Kayana, seperti biasa, menghela napas dan berkata, “Apa yang bisa kubantu untukmu?”

    Waktu berjalan seperti air sungai yang tak pernah menoleh ke hulu. Kayana terus bergerak, menampung, menolong, merelakan. Tubuhnya rapuh, tapi tetap berjalan. Jiwanya haus, tapi tetap menuang. Ia tak mengerti mengapa ia merasa kosong di tengah banyaknya senyuman yang ia bantu ciptakan.

    Seperti hari itu, seorang sahabat lama menelepon. Bukan untuk menanyakan kabar, tapi untuk meminta bantuan mempersiapkan kejutan ulang tahun bagi sahabatnya yang lain. Kayana, tentu saja, langsung menyanggupi. Ia membantu membuat dekorasi, membungkus kado, bahkan menyumbang kue dari uang makannya hari itu. Pesta itu meriah. Semua tertawa, semua bahagia. Tapi tak ada satu pun yang menoleh padanya ketika semua lilin telah padam. Ia hanya menjadi bagian latar—seperti kursi, seperti musik pengiring, seperti pelangi yang menghilang setelah memberi warna.

    Dan lebih pilunya, di ulang tahunnya yang ke-20, tepat satu bulan setelah pesta itu digelar, Kayana membeli kue kecil dan menyalakan satu lilin seorang diri. Tidak ada yang mengirim pesan. Tidak ada suara dari luar kamar kosnya. Hanya dirinya sendiri dan suara nyala api yang berdansa sebentar sebelum ditiup. Bahkan sahabatnya itu lupa, bahwa Kayana juga bagian dari sahabatnya yang lain—meskipun dilihat hanya ketika butuh saja. Miris.

    Kayana tidak menangis. Ia hanya tersenyum kecil dan berbisik pada lilin itu, “Semoga tahun ini aku bisa lebih banyak membantu orang.”

    Esok paginya, tubuh Kayana mendadak lemas di tengah perjalanan pulang kuliah. Ia duduk di lapak bakso malang yang tutup dengan wajah pucat dan napas berat. Beberapa orang sempat menoleh, tapi segera melangkah pergi. Kayana tidak meminta tolong. Ia tak terbiasa melakukannya. Dalam benaknya, orang lain selalu lebih butuh pertolongan dibanding dirinya. Ia hanya duduk diam, menunggu tubuhnya tenang. Seperti selalu. Ia tidak ingin menambah beban dunia.

    Bahkan sorenya, ia tetap pergi ke rumah Bu Retno tetangga lansianya yang hidup sebatang kara. Ia mampir membawa satu termos air hangat, membantu membeli obat, mengganti air galon, juga menyuapinya makan. Lansia itu bahkan tidak tahu bahwa tangan yang menyuapinya itu pagi tadi sempat gemetar tak kuat menggenggam. Tubuhnya mulai memberontak, sesak napas, lelah yang tak hilang meski tidur yang panjang, dan detak jantung yang kadang seperti drum rusak—tak berirama.

    Malamnya, Kayana duduk sendiri. Langit di luar menggantungkan bulan yang setengah. Kayana menatapnya dan tersenyum.

    “Aku pun tidak utuh,” gumamnya.

    Ia tidak menangis. Ia sudah terbiasa kehilangan.

    Ibunya pernah berkata, “Perempuan kuat tidak pernah menangis. Mereka belajar menanggung.”

    Kayana mengingat itu setiap kali tubuhnya gemetar sendiri di balik pintu kamar mandi. Ia tidak membantah. Ia hanya tumbuh sesuai yang dunia minta, menjadi kuat, menjadi penampung, menjadi cahaya bagi rumah yang gelap.

    Tapi tak ada yang bilang bahwa pelita pun bisa kehabisan minyak. Dan malam-malam itu, saat dirinya dan dinding putih yang jadi teman, Kayana tahu, menjadi kuat tanpa ruang untuk lemah adalah cara paling sunyi untuk hancur perlahan.

    Keesokan harinya, mendung tipis menyelimuti kota Malang. Daun-daun bergerak lembut ditiup angin. Kayana berjalan ke sebuah taman yang biasa ia kunjungi diam-diam saat kepalanya terlalu berat dengan beban orang lain. Ia duduk di bangku panjang menghadap kolam yang ia tebak tak ada ikan hidup di sana, padahal ia amat menyukai tarian ikan. Di tangannya, tergenggam selembar kertas dan sebuah botol kecil. Ia menuliskan sesuatu tadi pagi—entah puisi, doa, atau catatan yang tak pernah dimaksudkan untuk dibaca siapa-siapa. Ia menatap air kolam yang tenang, lalu menghela napas seperti ingin menyerahkan sesuatu pada alam yang lebih besar dari dirinya.

    Dan saat itulah, seseorang datang.

    Langkahnya begitu ringan, seperti ada kedamaian dalam cara sosok itu berjalan. Wajahnya tenang, tak muda, tak tua, dan suaranya saat menyapa seperti desir angin yang membawa ketenangan. Ia duduk di samping Kayana, tidak berkata apa-apa. Hanya menatap dan menunggu, seolah telah lama mengenalnya, hanya lupa pernah bertemu di mana.

    Kayana menoleh perlahan, lalu dengan suara yang nyaris berbisik, ia tetap bertanya seperti biasanya, seperti mantra yang sudah jadi bagian dari dirinya.

    “Apa yang bisa kubantu untukmu?”

    Sosok itu tersenyum lembut. Senyum yang entah mengandung kasih sayang, iba, atau penyesalan yang bukan miliknya. Matanya dalam, seperti menyimpan ribuan kisah dari kehidupan yang tak pernah diceritakan siapa pun.

    Lalu, ia berkata, “Sudah cukup, Kayana. Dirimulah yang membutuhkan bantuan itu.”

    Dan saat kata-kata itu terucap, Kayana merasa angin di sekitarnya berubah. Udara menjadi hangat, damai, tidak menekan seperti biasanya. Dadanya yang semula berat, perlahan terasa ringan. Seolah sesuatu yang lama sekali ia pikul akhirnya dilepaskan dari pundaknya.

    Ia tak tahu siapa yang duduk di sampingnya. Tapi ia merasakan kedamaian yang tak pernah ia kenal sebelumnya.

    Bukan damai karena selesai memberi. Atau damai karena selesai menciptakan senyum terimakasih. Akan tetapi damai karena akhirnya diizinkan untuk berhenti.

    Di kejauhan, burung-burung terbang melintasi langit kelabu, dan udara berdesir lembut, menyapu wajah Kayana. Ia menutup matanya sejenak. Mungkin hanya untuk beristirahat. Atau mungkin… untuk hal lain. Selembar catatan jatuh bersamaan dengan bungkus obat penenang yang telah kosong dari genggamannya yang mengendur.

    Kalau nanti ada yang membutuhkan sesuatu, bilang saja. Aku akan membantumu.

    Dan dunia kehilangan jejaknya. Orang-orang tertegun. Orang-orang menangis. Tapi seperti biasa, semuanya terlambat untuk mereka yang terlalu pendiam dalam berteriak.


    Mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Ponorogo. Penulis tergabung dalam komunitas Sutejo Spectrum Center (SSC). Saat ini penulis juga bekerja sebagai shadow teacher di salah satu sekolah swasta dan jurnalis aktif di salah satu media organisasi islam Ponorogo.

    Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp
    Previous ArticleCinta yang Tak Terucap tapi Nyata
    Next Article Kamar Tanpa Jendela

    Karya Lainnya

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    10 Juli 2026

    Yang Pergi Lebih Dulu

    26 Juni 2026

    Lampu Kamar Anshar

    13 Juni 2026

    Amplop Berwarna Cokelat

    6 Juni 2026

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    4 Juni 2026

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    1 Juni 2026
    Karya Sastra Terbaru

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    By Kuntoro Rido A

    Yang Pergi Lebih Dulu

    By Hendro D. Laksono

    Lampu Kamar Anshar

    By Nurita W. Prasaja

    Amplop Berwarna Cokelat

    By Anindya Bethari

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    By Anindya Bethari

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    By Idrus Zamuji

    Perempuan di Ambang Senja

    By Idrus Zamuji

    Bangku Nomor Tujuh

    By Katelyn Mandasari

    Perbincangan Minggu Pagi

    By Anindya Bethari

    Minimarket dan Jalan Pulang Itu

    By Aldi Hilman Anshar
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Beranda
    • Sastra
    • Tentang Kami
    • BERITAJATIM MENGUNDANG PENYAIR DAN CERPENIS
    • Arsip
    © 2026 Sastra Beritajatim.com | sastra untuk semua .

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.