Kartika berlari kencang, keluar dari pagar besar rumah tuanya. Relif tulisan besar 1912 terpampang di atas gerbang dengan pintu kayu yang berat itu, dengan ornamen cengkeh di antara angka 19 dan 12. Muka gadis dua belas tahun itu merah padam. Lagi-lagi dia marah pada papanya. Dengan rambut seleher berjumpalitan saat dia berlari, mata melotot, bibir mengerucut, dan muka tertekuk dia kabur secepat kilat begitu kena bentak lagi setelah pertengkaran di meja kerja papanya.
Betapapun emosinya sedang membuncah, toh stamina bocah kota yang kutu gadged itu cuman segitu-segitu saja. Belum jauh di berlari, lalu ngos-ngosan, dengkulnya keringatan, sehingga segera dia ganti tipe langkahnya menjadi jalan cepat, perlahan melambat, menyusuri gang-gang yang permukaannya ditutupi paving blok itu.
Ini adalah gang aneh, baginya. Rumah-rumah tua berdiri berhimpit-himpit dan berhadap-hadapan dengan berbagai gaya. Banyak yang berpilar besar lebih lebar dari pelukan tangannya, ada pula yang berpilar besi tua silender kecil. Atapnya ada yang menjulang tinggi sekali, ada yang joglo, beberapa punya semacam pagar di pinggiran atap, semuanya model lama. Pintu-pintunya dobel kupu tarung, yang sepasang lebih kokoh untuk dibuka ke arah depan, sepasang lagi lebih ringan namun cantik di buka ke arah dalam—sama juga dengan pintu rumah yang ditinggalinya sendiri.
Belum lama dia pindah ke sini. Belum sebulan. Papanya suatu hari dengan bangga mengatakan pada anak sulung sekaligus ragilnya itu bahwa dia akan mengajaknya pindah ke rumah yang indah di pinggiran kota, setelah berbulan-bulan lamanya lelaki kurus keriting berceruk mata dalam itu murung pascakematian mama Kartika.
“Rumah itu kuno, antik, besar, berdiri di daerah terlupakan yang dulunya jalur penting perdagangan rempah zaman Belanda. Rumah kita itu dulunya kepunyaan saudagar cengkeh kaya raya, kemungkinan berdarah eropa. Dan, bukan cuma rumah kita tempati. Rumah-rumah lain di sana semuanya juga rumah kuno. Pasti menyenangkan tinggal di sana,” ujar papanya ketika coba meyakinkan Kartika untuk pindah.
Tentu saja, bocah perempuan itu sama sekali tidak pernah dibuat yakin. Tapi, mau apa? Lelaki dosen sekaligus peneliti sejarah dari kampus kenamaan Surabaya itu adalah satu-satunya orang tua yang sekarang dia punyai. Maka, ke situlah dia, tinggal di kampung asing dengan masyarakat perpaduan antara Jawa, Madura, dan keturunan Arab. Sepanjang nama desanya, lebih tepatnya di sebuah kampung bernama Bandar, yang berbentuk gang-gang padat dengan rumah-rumah kuno kesukaan papanya.
Kartika sendiri sebenarnya tak suka.
Anak ini sudah kelas VI. Meski tidak punya banyak teman di lingkungan perumahan lamanya, dia punya karib di sekolahnya. Kalau mau menunggu beberapa bulan lagi, toh dia akan berpisah juga dengan teman-teman itu. Kanapa papanya tidak menunggu? Itu protesnya dulu, sampai sekarang pun jadi dongkolan di hati Kartika.
“Papa menyebalkan, dari dulu sudah menyebalkan, apalagi setelah tidak ada Mama,” rutuk gadis itu sembari masih berjalan, melewati sebuah langgar yeng memajang tulisan aneh: ‘Di larang mencuri sandal di sini!’
Kartika mengeluarkan gawai hitam dari saku celana pendeknya.
Tak benar juga kalau dikatakan Kartika membenci papanya. Setidaknya dulu, saat masih punya mama, meski papanya selalu jadi bahan perolokan “papa menyebalkan” oleh mamanya dan dirinya sendiri, diam-diam kartika mengidolakan papanya. Karena itulah Kartika dengan hobinya menggambar manga di aplikasi handphone, mengarang komik dengan tema sejarah. Tentang romantika tentu saja, sesuai dengan kegemaran remaja-remaja perempuan. Berlatar kerajaan Majapahit. Dia berandai-andai kalau perang bubat tidak terjadi, bagaimana Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka Citrarasmi akan menjalin hubungan cinta. Yang anehnya, dia cipta alur romansa mereka dengan gaya drama Korea.
Komik bikinannya itu punya penggemar setia, seorang karib di SD lamanya. Teman itulah yang berniat Kartika hubungi begitu menyalakan layar gawai.
Tapi sial! Bocah itu lupa sudah kehabisan kuota data internet, membuat handphonenya mengeluarkan tanda tanya kecil di ujung simbol pagar menanjak di pojok atas layar, dan pesan yang dia kirim terlabeli tanda lingkaran jam dinding.
Hampir dia membantingna, kalau saja tidak ketakutan bahwa hidupnya akan jadi lebih menyebalkan tanpa keping persegi panjang itu.
Untungnya dia masih menemukan beberapa lembar uang ketika merogoh saku celana. Dengan langkah gontai karena saking lelahnya, dia mencari penjual minuman.
Sebelumnya dia tidak pernah berjalan-jalan keliling gang begini. Dia tidak tahu di mana tempat toko yang menjual minuman. Biasanya, kalau haus atau lapar Kartika cukup memesan online lewat handphone. Kali ini pun seandainya tidak sedang kehabisan kuota data, dia akan pesan online juga.
Warung kecil kusut itu terpaksa jadi pilihan Kartika di tengah kehausannya. Dengan pandangan kurang bergairah dia mengamati renteng-renteng sachet yang tergantung di atas meja. Dia tunjuk satu merk minuman susu coklat.
Penjaganya seorang ibu-ibu bermuka kusut sekusut warungnya, namun sok ramah. Dia ditemani anak laki-lakinya yang kira-kira seumuran Kartika, hanya saja lebih kurus, pendek, dan hitam. Ibu itu bertanya ini itu, semacam, “Wah, kok keringetan sekali, habis ngapain?” juga “Adik ini siapa, kok Ibu belum pernah lihat?”
Kartika sekenanya menjawab, berusaha secepat-cepatnya mengakhiri perbincangan. Tapi tetap saja mau tidak mau dia melajani selagi es susu coklat yang dia pesan belum disodorkan.
“Pak Anto itu yang mana, ya? Budhe kenal semua orang di sini tapi kok rasanya belum dengar nama itu?” tanya ibu bermuka kusut yang sok ramah itu setelah Kartika memperkenalkan diri sebagai anak papanya.
“Kami baru di sini. Itu, menempati rumah pojokan yang ada pekarangannya,” jawab Kartika dengan menyebutkan ciri-ciri rumah tua barunya.
“Oh, Pak Dosen,” sahut ibu itu cepat. Lantas dia towela anaknya yang sedang serius bermain gim di gawainya sampai manyun-manyun. “Mbak ini lho, anaknya Pak dosen idolamu,” ujarnya.
Anaknya sejenak terkesiap, menoleh pada Kartika lalu mengusap hidungnya.
“Bapakmu itu hebat ya, Mbak,” lanjut si ibu.
Kartika tersenyum dengan hati dongkol.
Mengakui papa yang baru membentaknya sebagai orang hebat tentu tidak ingin dilakukan Kartika. Meskipun dia tahu, memang banyak yang bilang papanya merupakan orang hebat.
Papanya itu dosen cerdas lagi brilian. Pernah kuliah S2 di luar negeri. Lalu, sangat aktif mengedukasikan pentingnya mempelajari sejarah kepada masyarakat, melalui berbagai kegiatan sosial. Wajahnya sering muncul di poster seminar. Apalagi akhir-akhir ini. Makin sering dia muncul di media-media lokal semenjak ikut menggerakkan kampanye kritis terhadap pemerintah, terutama tentang temuan-temuan hak guna di laut pesisiran Jawa.
Kartika tahu itu.
Mendiang ibunya pun selalu bilang, “Kartika nanti harus jadi orang pintar, seperti Papa.”
Beberapa waktu lalu saat ada teman-teman papanya main ke rumah, salah satu dari para bapak yang rata-rata bermuka serius dengan tawa lebar dan suara bicara menggelegar itu sempat bilang pada Kartika, “Papamu dijaga baik-baik, ya. Ini otak revolusi kita ini.”
Tapi, perasaan Kartika sekarang lebih mengatakan kalau papanya payah. Papanya jahat. Sama seperti kalimat yang juga selalu diucap oleh mendiang mamanya, “Papa itu nyebelin! Payah! Nanti Kartika jangan jadi seperti Papa, ya. Nggak peka, nggak punya perasaan! Pinternya aja ditiru, payahnya jangan!”
Setelah es susu coklat selesai dibuat dan disajikan dalam kantong plastik bening pun, ibu penjual es masih berbasa-basi.
“Le, ndak kenalan sama Mbak ini, tah? Anaknya Pak Dosen lho, ini,” katanya sambil menowel anaknya lagi, setelah menerima uang dari Kartika. “Namanya Vincent, Mbak.”
Yang ditowel menyodorkan tangan pada Kartika. Terpaksa mereka bersalaman.
“Kartika,” kata kartika.
Vincent tersenyum, lebih mirip nyengir. Katanya, “Papamu hebat, mobilnya bagus.”
Penulis asli Sidoarjo, kini mengajar di SMP Negeri 2 Sukodono.
Pernah terlibar dalam projek “Urai Tanah” dari Dewan Kesenian Sidoarjo
untuk menuliskan tafsir sedimentasi delta Sidoarjo dalam bentuk cerpen.


