Wajah Sautil terlihat berantakan, seumpama habis diseruduk kapal tongkang yang hendak buang sauh. Langkah kakinya terseok-seok, seumpama digandoli sepasang hantu suster ngesot. Tangan kanannya menggenggam dua lembar uang kertas pecahan 100 ribu, sedangkan tangan kirinya menggenggam parang.
Di kejauhan, di bawah pohon juwet, Sukidal membidik perawakan Sautil dengan sorot matanya yang tajam laksana halilintar. Meskipun sudah berusia hampir seabad, Sukidal masih memiliki penglihatan sempurna. Jangankan Sautil, demit yang jaraknya ribuan kilometer, pun bisa disadap oleh mata Sukidal. Keampuhan Tuhan memang susah ditakar. Tuhan menganugerahi Sukidal dengan dua biji mata berkualitas super.
Sukidal masih tenang sambil mengisap rokok ketika Sautil duduk di sampingnya, di bawah bentang daun-daun pohon juwet. Sautil, si pejantan yang masih berusia belasan tahun, sambil bersungut-sungut, membuat lubang pada tanah di hadapannya dengan parang yang sudah karatan itu.
“Rasanya ingin kulubangi kepala para penulis itu,” gerutu Sautil.
Sukidal sudah paham dengan arah sumpah serapah remaja bau kencur itu. Tapi Sukidal memilih diam. Ia ingin memberi kesempatan pada Sautil untuk meluapkan sumpah serapahnya lebih panjang.
“Aku ditolak ikut kelas menulis,” Sautil menancapkan ujung parang pada lubang yang sudah ia bikin. “Uang pendaftaranku kurang 50 ribu. Aku hanya punya 200 ribu,” Sautil menunjukkan dua lembar uang yang kusut berantakan itu, seperti wajahnya, kepada Sukidal.
“Apa yang kau harapkan dari kelas menulis itu?” Sukidal membuang rokoknya ke lubang yang dibikin Sautil, parang masih menancap kokoh, barangkali topan tak sanggup menjatuhkannya. “Dengan ikut kelas menulis berbayar 250 ribu itu, yakin kau bisa menjadi penulis hebat? Yakin kau bisa menjadi sastrawan kanon di negeri ini?”
“Mungkin, Mbah!” Sautil menimpali seadanya. Kepalanya mendongak ke atas, melihat gerombolan juwet yang sudah matang.
“Parang itu untuk apa?”
“Untuk menumbangkan pohon pisang milik juragan kebun. Lumayan, pisangnya bisa kujual. Uangnya untuk menutup kekurangan biaya kelas menulis.”
“Sinting!” ucap Sukidal, tangan kirinya menyalakan korek untuk membakar rokok baru yang sudah terjepit di bibirnya.
“Ya, mau gimana lagi. Ini jalan satu-satunya yang kuketahui, Mbah.”
“Benar-benar sinting.”
Sautil memungut sebatang rokok di samping Sukidal. Membakarnya. Mengisapnya dalam-dalam. Ditahan sebentar, lalu mengembuskannya. Parang yang tertancap di tanah ia cabut, kemudian ditancapkan lebih dalam lagi.
“Benar-benar ingin kulubangi kepala para penulis itu, para pemateri itu. Masa’ tidak bisa menunggu barang sejenak, sementara aku mencari dana 50 ribu untuk menambal kekurangan. Katanya, mereka tidak bisa menunggu. Kuota kelas menulis hampir penuh. Setan!”
Sukidal kembali terdiam. Ia lebih memilih menikmati asap rokok ketimbang menimpali ocehan remaja ambisius itu. Dilihatnya parang itu secara gaib; Sukidal teringat peristiwa tahun 1945, saat itu usianya masih belasan tahun, ia menebas leher serdadu Jepang ketika benih-benih pemberontakan tumbuh di Surabaya. Senjata tajam atau senjata api yang dilihat Sukidal, bahkan korek api, begitu mudahnya menggeledah kenangannya. Ketika Sautil membakar rokoknya tadi, Sukidal teringat sebuah peristiwa saat ia melempar bom botol ke markas Jepang dekat stasiun kota.
“Kau tahu,” Sukidal mengambil ancang-ancang, ia ingin bercerita panjang-lebar kepada Sautil. “Di zaman perang dulu, di antara teman-teman seperjuanganku, ada yang menjadi penulis, sastrawan hebat. Mereka bukan dihasilkan dari kelas menulis. Tapi hasil belajar mandiri, bahasa sekarang disebut otodidak. Mereka melahap banyak buku sastra berkualitas. Dari bacaan-bacaan itulah, mereka terlibat pertarungan batin, perenungan panjang, penguasaan bahasa, dan di sebuah titik mereka sampai pada kemampuan menulis tingkat tinggi.”
Sautil mengunyah setiap kata yang dilontarkan Sukidal. Tapi sekeras apa pun menelannya, ia tetap tak bisa menggapai makna yang dimaksud Sukidal. Memang bukan salah Sautil, usianya masih bau kencur, otomatis ia susah menangkap makna yang terkandung dalam ucapan dan tindakan veteran perang macam Sukidal.
“Tapi, Mbah,” ia mencari kalimat yang cocok di kepalanya. “Aku hanya tamatan SMP, hanya dari kelas menulis aku bisa mendapatkan ilmu. Anggap saja semacam mondok.”
“Heh! Kau kira kaum penulis di zaman perang dulu ada yang sekolah. Tidak!” bentak Sukidal, tapi nadanya terdengar lembut, penuh kebijaksanaan. “Penulis di zaman perang dulu berangkat dari buta huruf. Kemauan yang keras untuk belajar baca tulis, lalu diimbangi dengan mengisap candu sastra, menyadap estetika dan gaya di dalamnya, adalah modal bagi mereka untuk turun ke gelanggang kepenulisan.”
“Berarti aku cukup belajar sendiri? Tak perlu ikut kelas menulis?” Sautil mulai menemukan makna dari wejangan Sukidal.
“Begitulah!”
Sautil mencabut parang yang tertancap. Mengelusnya perlahan-lahan. Ia melempar rokoknya yang tinggal sedikit ke dalam lubang itu, lalu menimbunnya dengan tanah. Sementara Sukidal, melempar rokoknya yang tinggal sedikit ke jalan setapak di hadapannya. Seekor biawak yang sedang melungker di jalan setapak mendadak kaget, berjingkat, tersenggol lemparan rokok Sukidal.
“Kau lihat biawak itu,” kata Sukidal menunjuk biawak yang terbirit-birit menuju parit. “Mana ada biawak yang mengikuti kelas berburu. Tidak ada! Mereka berburu karena naluri yang didapat dari pengalaman. Untuk konteks manusia, pengalaman itu adalah proses belajar. Nah, jadilah kau seperti biawak.”
“Maksudnya aku harus mencari pengalaman? Aku harus melakukan proses pembelajaran supaya bisa jadi sastrawan hebat?”
“Persis! Itulah yang kumaksud dari tadi.”
“Aku harus memulainya dari mana, Mbah?”
“Dari membaca!”
“Aku tak punya banyak buku.”
“Datanglah ke rumahku. Kau boleh meminjam koleksi bukuku. Apa saja yang ingin kau pinjam dan kau baca, pungutlah. Tapi harus dikembalikan.”
“Jadi aku tak perlu ikut kelas menulis?”
“Bacot! Tak perlu! Kelas menulis itu hanya akal-akalan para penulis atau sastrawan untuk mencari cuan. Atau minimal untuk menaikkan derajat, untuk gagah-gagahan, bahwa mereka sudah menyandang gelar tinggi karena memiliki banyak murid di kelas menulis yang mereka bikin. Persetan! Selain menghasilkan buku antologi yang sebenarnya tidak penting untuk tumbuh kembang sastra, kelas menulis hanya menghasilkan sampah. Kau bebas menafsirkan sampah yang kumaksud. Paham?”
“Paham, Mbah!” Sautil menggaruk lehernya yang sebenarnya tidak gatal. Ia diselimuti kebingungan. Tapi di antara keping kebingungan itu, ia menemukan secuil pencerahan.
“Coba kau bayangkan!” Sukidal membuat gerakan jari seolah-olah menghitung lembaran uang. “Satu peserta kelas menulis dikenakan tarif 250 ribu, misal kuota kelas menulis ada 50 orang, berapa cuan yang didapat pemateri? Banyak, kan? Licik! Tapi, setidaknya, dari kelas menulis, para pemateri yang sebenarnya berasal dari kaum penulis atau sastrawan kacangan yang menganggur, bisa mendapatkan upah untuk menyambung hidup. Hidup seorang penulis memang serba sulit di negara berkembang yang mematok pajak segunung. Aku lebih suka jika ada penulis yang membagikan ilmunya kepada pemula secara cuma-cuma, gratisan, misalnya melalui obrolan santai di warung kopi.”
Sautil menerawang jauh. Matanya menatap gulungan awan di langit biru.
“Sederhananya begini,” Sukidal melanjutkan. “Menjadi penulis bukan seperti membuat mie instan. Menjadi penulis butuh proses yang panjang. Harus sabar belajar. Harus memahami ilmu bahasa yang digunakan untuk menulis. Harus mengerti keindahan dan unsur-unsur penting dalam sastra. Semua tahapan itu pernah dilalui para penulis hebat di dunia. Demikian pula yang dilakoni Jack London dan Jack Kerouac; mereka tak pernah ikut kelas menulis. Persetan dengan kelas menulis! Nah, makanya, seorang Sautil jangan sampai terjerumus, jangan sampai latah ikut kelas menulis.”
“Aku tak ingin terjerumus, Mbah.”
“Sekarang tanamkan pada otakmu, bahwa haram mengikuti kelas menulis. Bahkan, jika ada kelas menulis yang menghadirkan hantu Gabriel Garcia Marquez sebagai pemateri misalnya, jangan kau ikuti. Hanya buang-buang waktu! Raihlah kemahiran menulis sastra melalui jalan yang benar, seperti yang kuucapkan tadi.”
“Siap, Mbah!”
“Menulis adalah kerja personal, mandiri. Nikmati proses kreatifmu dalam keheningan, tanpa harus dikotori oleh bacot-bacot pemateri di kelas menulis.”
“Tapi, Mbah,” Sautil mendadak diserang tanda tanya. “Di zaman sekarang ini, maksudku bukan zaman perang seperti yang Mbah ceritakan tadi, apakah ada penulis hebat yang lahir bukan dari kelas menulis?”
“Banyak!” jawab Sukidal mantap. “Sangat banyak! Mereka lahir dari ruang sunyi, melakoni proses kreatif tanpa hiruk pikuk kelas menulis.”
Sautil memungut parang. Uang 200 ribu miliknya ia ulurkan kepada Sukidal.
“Uang ini buat Mbah saja!”
“Tak perlu. Sebaiknya gunakan uang ini untuk membeli buku bacaan yang bagus, pergilah ke toko buku. Dan tawaranku meminjamkan buku kepadamu tetap berlaku.”
Lalu Sautil memasukkan uangnya ke dalam saku celana. Sambil menggenggam parang, ia berjalan ke sebuah arah, menelursuri jalan setapak yang masih berupa tanah. Di sebelah kirinya, pada permukaan parit, ia melihat biawak sedang menerkam tikus sawah.
“Aku harus menjadi biawak!” kata Sautil dalam hati.
Sukidal tersenyum saat mendengar Sautil mengucapkan kalimat itu dalam hati. Jangankan suara hati Sautil yang hanya berjarak sepelemparan batu, bahkan desis suara arwah Karl Marx di seberang benua sana mampu disadap telinga Sukidal.
Surabaya, 2025
Eko Darmoko, prosais kelahiran Surabaya. Rudi adalah nama panggilannya. Masuk dalam daftar 10 Penulis Emerging Indonesia dalam Ubud Writers and Readers Festival 2022. Buku kumpulan cerpennya Revolusi Nuklir (Basabasi, 2021) terpilih sebagai 10 besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2021. Buku lainnya yang sudah terbit adalah novel Anak Gunung (Pelangi Sastra, 2022) dan kumpulan cerpen Ladang Pembantaian (Pagan Press, 2015).
Cerpen-cerpennya dimuat Harian Kompas, Koran Tempo, Jawa Pos, Basabasi.co, BacaPetra.co, Detik.com, Kompas.com, dll. Berpartisipasi dalam Borobudur Writers and Cultural Festival 2019 dan 2023. Menjadi salah satu cerpenis terbaik dalam sayembara menulis cerpen Dewan Kesenian Surabaya 2019. Bergiat di Komunitas Sastra Cak Die Rezim Surabaya. Lulusan Sastra Indonesia Unair Surabaya.


