Bagaimanakah caranya menebus dosa kepada seseorang selain menemui langsung orang yang dia zalimi? Sekalipun orang yang dia zalimi mungkin saja sudah melupakannya mengingat peristiwa itu telah puluhan tahun berlalu.
Pada hari libur itu dia pergi menemui Rustam, office boy baru kantornya, di Pasir Gadung. Menenteng sendiri ranselnya tanpa ditemani sopir dan sedannya. Dia naik Bulan Merah, bis tiga perempat yang bangkunya berkaki pendek sehingga dia harus menekuk lututnya sampai kesemutan. Setelah puluhan tahun baru kali ini dia naik kendaraan umum lagi. Dia tidak mengira bis Jurusan Kalideres-Kresek berkelir kuning hitam dengan lukisan bulan purnama kemerahan di badannya itu masih beroperasi. Udara di dalam bis terasa pengap. Kipas kecil di dasbor dekat sopir sia-sia menghalau gerah. Bis ini tak ubahnya besi rongsokan, ruang kabinnya sekusam karbondioksida yang dikeluarkannya. Kaca jendelanya macet tak bisa digeser. Gordennya juga kumal. Di Jakarta sudah tak ada lagi bis angkutan umum seburuk ini. Pemerintah kota telah mengganti semua bis tua dengan yang baru, berpenyejuk udara, dengan halte dan jalur khusus yang memanjakan penumpang. Bebas pengamen dan asap rokok.
Dia duduk berdempetan dengan penumpang di sebelahnya dan beberapa penumpang lainnya yang berdiri karena tak kebagian bangku. Sepanjang perjalanan dia tersiksa lantaran harus menahan aneka rupa bau keringat serta lengkingan suara pengamen yang memekakan gendang telinga. Dia merasakan sekujur tubuhnya lengket. Bis masuk jalan tol, tidak lewat jalur biasa. Sehingga dia meminta sopir menurunkannya di perhentian liar di kolong jalan layang.
Dia keluar dari jalan tol, mendaki undakan curam untuk mencapai jalur angkot. Rustam tampak sudah menunggu di seberang jalur angkot, melambaikan tangan ke arahnya.
“Jadi, mau ke mana kita, Pak?” kata Rustam begitu dia berada di depannya.
“Langsung saja ke Balaraja, mumpung masih terang,” ujarnya.
Dia naik dan duduk di boncengan, lalu motor pun melaju ke Balaraja. Lewat tengah hari yang cerah dan hangat. Tetapi sepanjang jalan kota ini dia seperti memasuki kota yang sama sekali asing. Gedung-gedung, kompleks perumahan, ruko, kafe, toko, pabrik, bengkel, pergudangan, restoran, minimarket, hotel. Benarkah aku pernah tinggal di kota ini 25 tahun lalu, pikirnya. Dia meminta Rustam untuk memperlambat laju motor agar dapat mengamati lebih teliti. Namun dia gagal mengenali kota ini. Nyaris tak ada lahan kosong yang tersisa. Matanya mencari-cari kantor polisi yang bangunannya berbentuk setengah lingkaran. Tak dia temukan. Juga lapangan bola yang dulu jadi pasar malam saban akhir pekan dengan komidi putar, rumah hantu, tong setan, penjual martabak, tahu petis, gula kapas, dan berbagai penjual makanan, kini telah hilang berganti bangunan mal. Pabrik mi instan tempatnya dulu bekerja seperti amblas dan di atasnya tumbuh arena sepatu roda. Sebuah masjid terimpit toko-toko dan berbagai kedai.
Pada pertigaan ke arah pintu tol, dilihatnya jalan layang. Pasar yang dulu terbakar (atau dibakar?) di pojok pertigaan kini jadi deretan ruko. Dia ingat di seberang pasar, tepat di pojok pertigaan, ada pedagang gorengan yang ngontrak bersebelahan dengan kamar sewanya di belakang pasar yang sering memberinya sisa gorengan. Dia meminta Rustam tidak naik ke jalan layang, melainkan belok ke kiri lewat kolong, lurus ke arah Pasar Sentiong. Beberapa ratus meter dari sana dia menemukan jembatan.
Belok kiri, ikuti jalan sepanjang pinggir sungai, perintahnya kepada Rustam. Dia melihat sungai pekat dan berbusa oleh berbagai limbah. Dulu waktu baru datang ke kota ini dari kampung, dia mandi dan mencuci baju di sungai ini. Waktu itu airnya sudah tidak begitu jernih, namun tidak sekotor sekarang yang hitam kental.
“Kita berhenti sebentar di warung itu,” pintanya.
Dia memesan es jeruk dua gelas. Satu untuk dirinya, satu gelas lainnya dia berikan ke Rustam. Rustam langsung mereguk isinya sekali tandas. Beberapa meter dari warung, dia melihat perkuburan itu masih ada. Lebih tertata ketimbang dulu. Kepada pemilik warung dia bertanya jalan ke Kampung Tegal Murni yang tembus ke kompleks pabrik.
“Terus ke selatan, tapi jalan tembus ke pabrik sudah ditutup,” ucap pemilik warung.
“Oh,” ucapnya dengan kesedihan yang ganjil.
“Ikuti saja jalan ini. Nanti ada jembatan. Nah, dari jembatan belok kiri. Itu satu-satunya jalan tembus ke kawasan pabrik,” sambung pemilik warung.
Penjelasan pemilik warung membuat hatinya mencelus. Tujuan dia ke kota ini ingin melihat kamar kosannya dulu. Mencari informasi keberadaan teman sekamarnya. Kini dia tahu, perjalanan ini tampaknya akan sia-sia.
“Aku pindah kos dari belakang pasar ke kampung Tegal Murni, bersisian dengan kawasan pabrik. Kampung itu kini sudah lenyap jadi kawasan pergudangan,” ucapnya.
“Tahun berapa itu, Pak?” tanya Rustam.
“Sudah lama sekali. Kamu baru lahir,” ujarnya.
Waktu itu usianya baru genap 20 tahun. Dua tahun setelah lulus esema dia merantau ke kota yang dipenuhi aneka industri ini. Menjadi buruh pabrik: pabrik mi instan, pabrik sepatu, pabrik garpu. Di kosan terakhirnya dia satu kamar dengan Kasmin. Hubungannya dengan lelaki dari Lampung itu jadi begitu dekat. Saking dekatnya membuat dia merasa ganjil. Setelah di-PHK gara-gara ikut-ikutan unjuk rasa menuntut kenaikan upah, dia diajak teman sekampungnya yang berkarir sebagai wartawan, pindah ke Jakarta, dan tak pernah bertemu Kasmin lagi. Sengaja menghindarinya. Beberapa pekan ini dia seperti dikejar dosa dan ingin menyelesaikan semua dengan sebaik-baiknya. Namun dia tak mendapatkan nomor kontak seorang pun teman buruhnya dulu yang bisa ditanya tentang keberadaan Kasmin. Dia mencoba menyusuri di media sosial. Dari puluhan nama yang sama, tapi satu pun milik orang yang dia cari. Satu-satunya jalan mendatangi ke tempat dia ngekos dulu. Dan kini dia mendapati kampung Tegal Murni telah digusur. Mungkin aku harus menebus dosaku dengan cara lain, pikirnya.
“Ke mana lagi kita, Pak?”
“Pulang saja ke rumahmu,” ujarnya.
Tetapi kemudian mereka mampir di taman bacaan masyarakat yang berada di kolong jembatan layang. Setelah memarkir motor, mereka masuk taman bacaaan. Rustam memesan coklat dingin dan gorengan ke penjaga kedai di pintu masuk taman bacaan. Dia melihat rak-rak buku, meja baca, sebuah panggung dan telepon koin lengkap dengan biliknya.
“Kamu belum lahir waktu telepon koin jadi alat komunikasi populer,” ucapnya.
Rustam yang seumuran anaknya cuma nyengir. Sambil nyeruput coklat dingin dan mengigit gorengan dia bercerita bagaimana dia dulu jadi buruh di pengujung era Orde Baru yang bengis itu, bergabung dengan gerakan sastra buruh, ikut aksi demonstrasi. Tak terasa tahu-tahu hari sudah gelap dan cahaya dari lampu-lampu jalan dan pertokoan merambati udara.
Waktu Rustam membayar minuman dan gorengan, dia tertegun melihat laki-laki pemilik kedai. Dia merasa pernah sangat mengenalnya. Mula-mula dia ragu, lalu mengamati lebih teliti wajah laki-laki itu. Meski kulitnya tampak lebih legam, tetapi matanya yang sayu, bentuk hidungnya kecil dan runcing di bagian ujung, dan tentu saja bibir dan dagunya masih sama. Tak salah lagi ia Mardi, tetangga kamarnya dulu.
Setelah mengingat-ingat agak lama, Mardi akhirnya menyebut namanya. Mereka lalu terlibat obrolan. Setelah terjeda oleh rombongan anak-anak muda pengunjung taman bacaan yang memesan minuman, dia bertanya: “Kau ingat Kasmin?” tanyanya.
“Kasmin…”
“Ya, kamar sekamarku, masih ingat kan?” ujarnya seperti mendapatkan sepercik harapan yang tadi padam.
“Menyedihkan sekali nasibnya,” katanya, wajahnya berubah murung.
Dia tiba-tiba cemas.
Tetangga kamar kosnya yang bernama Mardi itu tercenung agak lama. Lalu dia mengatakan tak bisa menceritakannya sekarang, karena sedang bekerja.
“Datanglah besok ke rumahku,” katanya.
Malam itu dia menginap di sebuah losmen di Pasir Gadung. Sementara Rustam disuruhnya pulang dan berpesan besok menjemputnya. Semalaman dia tidak bisa tidur mengingat kata ‘menyedihan sekali nasibnya’ yang diucapkan Mardi. Apakah pengkhianatan yang dia lakukan dulu menyebabkan Kasmin mati?
Peristiwa 25 tahun yang lalu membayang di kepalanya seolah baru terjadi siang tadi. Dia sedang kesulitan uang waktu itu lantaran upahnya sebulan tidak dibayar pemilik pabrik sementara utangnya di warung sudah menumpuk. Lalu datanglah dua orang intel meggedor kamar kosnya malam-malam. Mereka memburu Kasmin, salah seorang dalang unjuk rasa di depan pabrik. Demi imbalan sejumlah uang dia memberi tahu keberadaan Kasmin kepada mereka. ***
Aris Kurniawan, gemar membaca, menulis dan membuat pupuk kompos. Buku cerpen terbarunya: Monyet Bercerita (Basabasi, 2019). Twitter: @KepalsuanAris, Facebook: Aris Kurniawan

