Close Menu
sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    UNJUK KARYA
    webutama
    • Beranda
    • Sastra
      • Cerita Pendek
      • Puisi
      • Resensi Buku
      • Info Sastra
    • Visual
    • UKM
    • Tentang Kami
      • Sastra untuk Semua
      • Unjuk Karya
      • Kontak
    sastra.beritajatim.idsastra.beritajatim.id
    Home»Cerita Pendek»Di Tengah Hujan Sore Hari
    Cerita Pendek

    Di Tengah Hujan Sore Hari

    Fathur M Rohman4 Agustus 2020
    Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
    Di Tengah Hujan Sore Hari

    Hujan dan kenangan memang kombinasi yang indah. Keduanya, sama-sama bisa datang tanpa harus diundang dan sering tak kunjung hadir meski sangat diharapkan. Hari yang indah penuh kebahagiaan, bisa tetiba menjadi duka. Tak perlu alasan yang rumit.

    Hanya karena secara tidak sengaja berpapasan dengan orang yang sedang melantunkan sebuah lagu, misalnya, bisa membangkitkan kenangan mengenai mantan yang begitu dikasihi dan terpaksa pergi. Mengubah secara radikal senyum dan tawa yang sedetik lalu bergema menjadi kepiluan membawa ribuan beban duka.

    Hujan sore ini pun begitu. Siapa sangka, hari yang sedari pagi dipenuhi terik mentari, tanpa mendung dan pertanda apapun, tetiba saja berganti hujan. Sebenarnya, perempuan yang sedang berada di pertengahan usia 20-an ini pun juga tak membenci hujan. Ia bahkan masih sering menari bersama hujan hanya untuk bisa melepas segala penat dan berbagi curhat bersama hujan. Ia penggila hujan.

    Hanya saja, momen kali ini tidak tepat. Ia baru saja pulang dari acara di kantor desa setelah seharian mengajar anak-anak usia sekolah dasar yang tak punya kesempatan untuk bersekolah. Yang membuatnya rikuh dengan datangnya hujan kali ini adalah karena ia mengenakan setelah kemeja putih dengan rok selutut warna hitam dan tas punggung penuh buku. Ia lupa membawa jaket.

    Di atas sepeda, ia mengayuh sembari terus memperhatikan sekeliling jalan. Berharap menemukan gubuk atau pohon yang cukup rindang untuknya berteduh. Menyelamakan buku-bukunya yang sementara masih terlindung di dalam tas punggung, sekaligus menyelamatkan dirinya sendiri. Sebab, bajunya yang berwarna putih semakin tak mampu mempertahankan ketebalannya karena air hujan. Memperlihatkan pakaian dalam tubuh bagian atasnya. Karena ia pun terlanjur menanggalkan kausnya sebab terik yang sedari pagi sudah menembus angka 25 derajat celcius.

    Tapi sayangnya, sepanjang jalanan yang didominasi pemandangan persawahan dan hutan-hutan kecil, tak juga ada gubuk yang bisa ia jadikan tempat perlindungan dari serangan rintik hujan yang terus menelanjanginya.

    Ia sempat menyumpahi dirinya sendiri. Andai saja siang tadi ia tak harus menerima undangan ke kantor desa untuk mempresentasikan perkembangan sekolah alamnya demi mencari tambahan biaya, semua kesialan ini tak akan terjadi. Mungkin saja ia akan lebih menikmati perjalanan pulang kali ini bersama hujan jika ia tak ke kantor desa dan tak mengenakan setelan baju khas pencari kerja ini.

    Perempuan berkemeja putih yang sedang bersepeda di tengah hujan ini adalah seorang lulusan salah satu kampus terbaik di Jakarta. Ia telah menyelesaikan kuiahnya sejak dua tahun lalu setelah menempuh pendidikan selama 7 tahun atau 14 semester dan hampir difatwa Drop Out.

    Ketika kemudian ia berhasil menyelesaikan tugas akhir dan mendapat kesempatan menjadi wisudawati, kedua orang tuanya begitu bahagia dan bangga. Mereka, yang tinggal di Bandung, sudah sejak dua hari sebelum wisuda telah sampai di Jakarta. Kebetulan, mereka juga punya rumah di sana. Perempuan ini, sebenarnya diminta untuk tinggal di rumah tersebut, tetapi ia menolak. Ia lebih memilih hidup menyewa kamar kos dan sesekali tidur di kampus.

    Tanpa listrik cukup, berkasur tikar berbantal buku, kadang tangan sendiri. Itu pun setelah aksi kejar-mengejar dengan satpam.

    Kedua orang tuanya memang sengaja datang lebih awal untuk mempersiapkan segala keperluan wisuda. Bahkan, ia dibelikan lima pasang kebaya hanya untuk menentukan mana yang lebih cocok. Ibunya memang memiliki selera fashion yang tinggi. Meski ia sendiri tak begitu peduli apa yang akan ia kenakan. Asal tubuhnya tertutupi. Bahkan, ia sempat berpikiran menggunakan kaus hitam dan celana jins biru. Toh, akan tertutup oleh baju wisuda, bukan? Pikirnya.

    Ia memang anak yang cukup bandel menurut orang tuanya. Sejak tinggal di Jakarta untuk kuliah, ia sering kelayapan keliling Jakarta. Bukan di mall atau café atau bioskop atau tempat-tempat nongkrong premium lainnya. Melainkan ke pasar-pasar tradisional, ke daerah-daerah kumuh pinggiran Jakarta, menelusuri sisi-sisi bantaran kali ciliwung. Bukan karena tak memiliki uang untuk bisa nongkrong di mall atau menonton bioskop, sebab tak kurang dari lima juta rupiah uang saku perbulan yang ia dapatkan dari ayahnya. Tapi meski begitu, sebatang smartphone pun ia tak punya.

    “Bukankah lebih menarik jika berkenalan dengan orang lain secara langsung? Internet memang mendekatkan dan mempermudah, tetapi menumpulkan insting manusia. Aku akan membelinya jika aku sudah tak mampu mengunjungi kawan-kawan ku lagi,” ungkapnya suatu kali saat teman-teman kampusnya protes.

    Ia tak ikut organisasi apapun di kampus. Tetapi berteman akrab dengan hampir semua aktivis organisasi di kampus. Sebab, ia memang dikenal sebagai perempuan yang suka berteman. Meski hanya berpenampilan sederhana tanpa riasan, tanpa hiasan. Lipstick pun jarang menepel di bibirnya yang tipis itu. Dengan kaus oblong dipadu celana jins kadang celana kain warna gelap dengan rambut terurai apa adanya, ia tetap menjadi perempuan yang cantik dan menawan.

    Buktinya, puluhan lelaki harus bersedia sakit hati karena menerima penolakan yang cukup menyakitkan. Bukan karena ucapannya yang mengiris, tetapi kejenakaan dan kelenturannya menolak mereka. Sebab, setelah menolak laki-laki yang memintanya menjadi kekasih, ia pasti mengajak mereka jalan-jalan, mentraktir makan dan secara rutin menyapanya selama seminggu penuh. Tujuannya, agar mereka tak rikuh dan tetap mau berteman akrab sebagaimana sedia kala.

    Ia memang dikenal sebagai perempuan yang aneh. Dan tak ada yang tahu bagaimana cara berfikirnya, dan mengapa. Perempuan ini, adalah misteri itu sendiri.

    Setelah lulus dari universitas ternama di Jakarta, ia mengikuti saran Ayahnya untuk bekerja di salah satu perusahaan keluarga. Tentu saja setelah melalui perdebatan panjang yang tak kunjung selesai selama satu minggu. Ia sebenarnya bisa saja terus menolak dan terus mendebat. Tetapi, ia kemudian memutuskan untuk menerima keputusan orang tuanya sebagai bentuk penghormatan.

    Setelah bekerja selama enam bulan dan mengalami dua kali masa promosi, ia sudah menjadi salah satu manager bagian di perusahaan asuransi milik keluarganya. Sebagai lulusan Fakultas Ekonomi Dan Bisnis, ia dianggap telah mampu bekerja dengan baik. Terbukti sejak ia masuk menjadi pegawai, pendapatan perusahaan terus meningkat. Nasabah mereka pun dari hari ke hari terus bertambah dengan cukup signifikan dan menyebar bukan hanya di Jabodetabek, tetapi juga mulai masuk kepasar Bandung Dan Banten.

    Ayahnya sangat senang dengan hasil kerjanya. Sehingga, tepat satu tahun ia bekerja, ayahnya menyatakan berjanji akan mengabulkan apapun permintaan putri pertamanya tersebut, sebagai hadiah. Tanpa di sangka-sangka, perempuan itu meminta agar ia diizinkan untuk keluar dari perusahaan. Ia ingin pergi ke jalanan lagi, menemani anak-anak miskin dan mengajari mereka baca tulis. Ayahnya, tentu saja sangat kaget. Perdebatan yang satu tahun lalu berlangsung, kini terulang.

    Namun, kali ini si perempuan yang menang. Ia diizinkan untuk keluar dari perusahaan dan pergi kemana pun ia suka. Ia kemudian mengatakan ingin pergi ke Sulawesi Utara, Kalimantan, Papua, dan pulau-pulau terluar lainnya. Ia ingin hidup dan tinggal di sana bersama orang-orang yang terpinggirkan. Mereka yang sudah sejak merdeka, terlupakan atau dilupakan Negara.

    Dengan berat hati, ayahnya memberi izin, dengan syarat, ia tak akan mendapatkan uang dan bantuan sepeserpun jika tetap mau menjalakan rencanaya. Ayahnya berharap ia akan mengurungkan niatnya setelah mendapat ancaman. Tetapi tidak, ia menerimanya, bahkan dengan tertawa penuh bahagia memeluk ayahnya.

    Dan di sinilah ia sekarang. Mengayuh sepeda di tengah hujan dengan kemeja warna putih yang telah menempel dikulit tubuhnya dan memperlihatkan warna kuning langsat kulitnya dan pakaian dalam warna abu-abu. Setelah menghabiskan waktu selama enam bulan di Pulau Bintang, ia kini berada di salah satu desa di Ujung utara Selawesi. Membangun sebuah gubuk bambu bersama anak-anak yang tak bisa sekolah, dan megajari mereka baca, tulis, bercerita.

    Ia tak punya idealisme yang telalu muluk. Ia hanya ingin masyarakat yang selama ini terabaikan bisa menikmati pendidikan, menyelami kenikmatan berkisah, membagi keceriaan ketika membaca, dan menggeloraka setiap cita-angan mereka dalam tulisan-tulisan jujur penuh semangat optimisme.

    Dan di tengah kuyup oleh hujan, ia teringat, terkenang Ayah dan Ibunya di sana. Juga adik perempuannya yang baru saja menikah dua bulan lalu. Hujan juga datang hari itu. Bersama mendung. Tapi hari ini, hujan datang tanpa permisi, seperti kenangan yang membawa ribuan mimpi. Tentang kehidupan penuh cinta. Penuh optimisme. Sebelum kemudian ia pergi, dan tak lagi kembali kecuali dalam tetesan hujan yang selalu mampu membawanya menari.

    “Andai kau tak pergi, kita mungkin sudah merawat anak-anak kita sendiri. Di sebuah rumah yang sepi dari kehidupan kota yang tiada henti,” bisiknya kemudian untuk dirinya sendiri. Bersama air mata yang membaur bersama hujan. Turut membasahi kemejanya yang tak lagi mampu melindungi.

    Oleh : Fathur M Rohman
    Cerpenis dan pegiat literasi asal Kediri. Lahir Februari 1994 lalu dan sekarang tinggal di Surabaya

    Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp
    Previous ArticleSorot Mata yang Menyala
    Next Article Dermaga

    Karya Lainnya

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    10 Juli 2026

    Yang Pergi Lebih Dulu

    26 Juni 2026

    Lampu Kamar Anshar

    13 Juni 2026

    Amplop Berwarna Cokelat

    6 Juni 2026

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    4 Juni 2026

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    1 Juni 2026
    Karya Sastra Terbaru

    Pamit yang Tak Pernah Terucap

    By Kuntoro Rido A

    Yang Pergi Lebih Dulu

    By Hendro D. Laksono

    Lampu Kamar Anshar

    By Nurita W. Prasaja

    Amplop Berwarna Cokelat

    By Anindya Bethari

    Secangkir Kopi Sebelum Pulang

    By Anindya Bethari

    Awam dan Semesta yang Tak Pernah Memihak

    By Idrus Zamuji

    Perempuan di Ambang Senja

    By Idrus Zamuji

    Bangku Nomor Tujuh

    By Katelyn Mandasari

    Perbincangan Minggu Pagi

    By Anindya Bethari

    Minimarket dan Jalan Pulang Itu

    By Aldi Hilman Anshar
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Beranda
    • Sastra
    • Tentang Kami
    • BERITAJATIM MENGUNDANG PENYAIR DAN CERPENIS
    • Arsip
    © 2026 Sastra Beritajatim.com | sastra untuk semua .

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.