Kami mengundang sastrawan untuk berkirim karya ke media online beritajatim.com, kolom sastra.beritajatim.com. Karya sastra dalam bentuk puisi dan cerita pendek (cerpen).
Silakan kirim ke email [email protected]. Karya akan tayang pada hari Minggu. Akan kami kirimkan sebuah kaos kepada setiap sastrawan yang karyanya dimuat. Karya yang telah dikirimkan selama sebulan, dan tidak tayang di beritajatim.com, itu artinya tidak lolos kurasi.
Pada proses kurasi, kami mengabaikan kemungkinan karya sastra diciptakan dengan bantuan fasilitas artificial intelligence (AI). Kami menganggap AI sebagai fasilitas penunjang penciptaan karya seni. Sebagaimana kuas, cat pabrik, MS Word, Corel, gitar, organ, atau lainnya. Jadi silakan mencipta karya sastra bersama AI.
Kami menganggap, yang utama dari penggunaan AI, adalah, kombinasi perintah-perintah (prompt). Rancangan prompt mengandaikan kecerdasan dan kekuatan ide. Selanjutnya tentu editing akhir, yang mengandaikan sentuhan estetik sastrawan.
Kami terbuka dengan eksplorasi bentuk yang keluar dari batas karya sastra konvensional, yakni karya sastra sebagai sekumpulan kata-kata. Silakan mengombinasikan kata-kata dengan sketsa, grafis, potongan kutipan (screenshot). Sehingga karya mungkin dikirimkan dalam format jpeg dan bukan word. Toh tradisi puisi Indonesia telah mengajari melalui puisi mbeling, puisi gambar, puisi konkret. Begitu pula pada wilayah cerpen.
Gagasan estetik peleburan segala hal bukan berarti berangkat dari kekosongan dan berakhir dari kekosongan. Justru estetik demikian berangkat dari latar keluasan dan menuju latar keluasan yang lain. Pilihan ini menjadikan sastra dapat mewujudkan gagasan “kebudayaan post-Filosofi” (post-Philosophical culture) dari Richard Rorty. Sebuah karya sastra cerdas: “Dia yang bergerak dengan cepat dari Hemingway ke Proust ke Hitler ke Marx ke Foucault ke Mary Douglas ke situasi Asia Tenggara mutakhir ke Gandhi ke Sophocles. Seorang penetas nama-nama, ia yang memakai nama-nama semacam ini untuk mengacu kepada kepada perangkat-perangkat deskripsi, sistem simbol, cara pandang”.
Kami menyadari bahwa teknologi, mau tidak mau, harus diakui telah mengubah banyak hal. Termasuk juga cara hidup dan cara berpikir manusia. Bahwa, mungkin, kemanusian perlu ditafsirkan kembali. Telah terjadi perubahan persepsi terhadap kemanusiaan.
Kedirian manusia dalam jagad online merupakan suatu hal yang misteri. Misalnya kami membikin akun, membuatnya menjadi alamat. Di situ, kami bisa menghubungi kerabat, mengikuti kuis, mendaftarkan karya ke penerbit, dan siapa pun akan dapat menghubungi kami tanpa takut salah alamat.
Dengan akun, manusia sudah menjadi pribadi digital. Manusia lebih berpijak dalam waktu daripada ruang. Akun memberikan mobilitas luar biasa tanpa seorang pun harus terikat tempat berada.
Spesialitas kepribadian inilah yang patut mendapat sorotan dalam karya sastra. Bahwa telah terjadi perubahan konsepsi kemanusiaan. Di dalam sastra, perubahan ini tentu berpengaruh terhadap cara manusia berbicara, memandang, menjalani kehidupan, memilih peran, standar obsesi, dan perubahan utopia. Sebuah perubahan yang juga akan terasa dalam penokohan cerpen. Sebuah pribadi ataau tokoh yang mengandaikan kenyataan virtual (‘virtual reality’ istilah yang ditemukan oleh Jaron Lanier pada tahun 1086 untuk menggambarkan lingkungan interaktif yang diciptakan komputer).
Jadi, bikin saja karya seeksploratif mungkin dan kirimkan ke redaksi beritajatim. Kami akan lakukan kurasi. Boleh pula menyertakan paparan poses kreatif ataupun argumen gagasan puitik. Sekalian paparan itu nanti kami tayangkan.
Namun, tentu saja, kami tetap menaruh hormat kepada karya puisi atau cerpen konvensional. Karya yang bertaruh pada kocokan maut kata-kata. [but]

