Apa yang kau rindu dari perbincangan kecil di Minggu pagi? Setelah enam hari tak bertemu, lalu kita duduk di ruang kecil kita. Bercerita tentang apa saja, termasuk pekerjaan yang kadang mengasyikkan dan kadang membosankan. Sejujurnya aku tak selalu mengerti apa yang kau katakan. Aku lebih memahami matamu yang selalu berbinar, dan senyum manis yang terus menghiasi bibirmu.
Pagi ini, kursi di seberang meja makan kosong. Seperti dua ratus tiga puluh Minggu sebelumnya. Aku sudah terbiasa, kataku pada diriku sendiri. Tapi jari-jariku masih saja menyeduh dua cangkir kopi. Satu untukku, satu lagi… entah untuk siapa.
Pertama kali aku bertemu Lintang, dia sedang tersesat di kampus. Mahasiswa baru Fakultas Teknik yang kebingungan mencari gedung E, sementara dia malah berputar-putar di area Fakultas Ekonomi tempatku kuliah. Wajahnya panik, keringat membasahi dahinya, dan dia terus melirik jam tangan setiap sepuluh detik.
“Kamu tersesat?” tanyaku.
Dia menoleh, dan aku melihat mata itu untuk pertama kali. Cokelat terang, seperti madu yang kena cahaya pagi.
“Sangat,” jawabnya jujur, lalu tersenyum malu. “Hari pertama, sudah mau telat.”
Aku mengantarnya ke gedung E. Sepanjang jalan, dia bercerita tentang Bogor, kampung halamannya, tentang hujan yang hampir tiap sore, tentang ibunya yang khawatir dia kuliah di Surabaya sendirian. Suaranya hangat, seperti teh di sore hari.
“Terima kasih ya,” ucapnya saat sampai. “Namaku Lintang.”
“Rara,” balasku. “Fakultas Ekonomi. Kalau tersesat lagi, kabari saja.”
Dia tersenyum. “Boleh aku kabar walau tidak tersesat?”
Dan sejak itu, dia tak pernah berhenti mengabariku.
Pesan pertamanya datang malam itu juga. “Terima kasih lagi untuk tadi pagi. Semoga kamu gak kapok ketemu mahasiswa nyasar.” Lalu menyusul pesan kedua. “Eh, aku beli bakso depan kampus. Enak banget! Kamu sudah coba?”
Aku tertawa membacanya. Ada sesuatu yang tulus dari cara dia berkomunikasi. Tanpa basa-basi, tanpa pura-pura cool.
Sejak itu, kami mulai makan siang bersama. Lintang selalu punya cerita—tentang dosennya yang cerewet, tentang tugas gambar teknik yang bikin matanya perih, tentang mimpinya membangun rumah sederhana di pinggir kota. Aku lebih banyak mendengarkan. Bukan karena aku tak punya cerita, tapi karena aku suka melihat dia bicara. Matanya yang berbinar, tangannya yang bergerak-gerak menjelaskan sesuatu, senyumnya yang tulus.
“Kamu kok diem aja sih?” tanyanya suatu hari.
“Aku suka dengar kamu cerita,” jawabku jujur.
Dia diam sebentar, lalu tersenyum lembut. “Kalau gitu, aku cerita terus ya. Setiap hari.”
Dan dia menepati janjinya. Sampai hari terakhir.
Kami lulus hampir bersamaan. Lintang lebih dulu, aku menyusul enam bulan kemudian. Saat itu, dia sudah dapat pekerjaan di sebuah konsultan arsitektur di Jakarta. Gajinya pas-pasan, tapi dia bersemangat sekali.
“Rara, aku dapat kerjaan!” teriaknya di telepon. “Di Jakarta. Kecil sih, tapi ini awal yang bagus!”
Aku turut senang, meski ada perasaan lain yang mengganjal. Jakarta itu jauh. Dan kami… apa kami?
Seolah membaca pikiranku, suaranya melembut. “Tunggu aku ya. Nanti kalau kamu lulus, kita ke Jakarta bareng. Kamu cari kerja, aku sudah ada. Kita mulai hidup bareng.”
“Memangnya kita apa?” tanyaku, pura-pura tak mengerti.
“Kita itu… ya kita,” jawabnya polos. “Aku kan sudah bilang ke Ibu, nanti aku nikah sama Rara.”
Jantungku berdegup kencang. “Kamu bilang gitu?”
“Iya dong. Dari semester dua.”
Dan aku tak bisa menahan senyum. Bodoh, pikirku. Bodoh tapi manis.
Pernikahan kami sederhana. Di Bogor, rumah orangtuanya. Undangannya tak sampai seratus orang. Ibuku datang dari Surabaya, membawa oleh-oleh dan air mata bahagia. Lintang memakai jas yang dia beli cicilan tiga bulan. Aku memakai gaun sederhana yang dijahit Ibu mertuaku sendiri.
“Kamu cantik,” bisiknya saat ijab kabul usai.
“Kamu juga,” balasku, lalu kami tertawa bersama.
Kami tinggal di Bogor, sewa rumah kontrakan kecil dua kamar. Setiap pagi, kami berangkat ke Jakarta naik KRL. Pulangnya, kadang jam tujuh, kadang jam sembilan. Tapi Minggu selalu jadi milik kami berdua. Kami bangun siang, membuat kopi, lalu duduk di ruang kecil kami. Bercerita tentang seminggu yang baru lewat.
“Klienku minggu ini rewel banget,” keluhnya suatu Minggu. “Minta desain diubah lima kali. Padahal yang pertama sudah bagus.”
“Terus gimana?” tanyaku sambil menyeruput kopi.
“Ya aku ubah aja. Namanya juga kerja.” Dia tersenyum. “Tapi aku tetap semangat kok. Soalnya aku ingat, aku kerja buat kita.”
Kalimat itu hangat. Sederhana, tapi hangat.
Tahun ketiga pernikahan, Lintang mulai sering sakit. Awalnya hanya batuk yang tak kunjung sembuh. Lalu berat badannya turun drastis. Aku memaksanya periksa, dan dokter merujuk ke rumah sakit besar.
Kanker paru-paru. Stadium tiga.
Dunia terasa berhenti saat itu. Aku ingat tanganku gemetar memegang hasil lab. Lintang justru tersenyum, meski senyum itu rapuh.
“Gak papa,” ucapnya pelan. “Kita jalani aja.”
Tapi bagaimana bisa gak papa? Usianya baru dua puluh delapan. Kami baru menikah tiga tahun. Kami bahkan belum punya anak.
“Rara,” panggilnya suatu malam setelah kemoterapi ketiga. Rambutnya sudah rontok, kulitnya pucat. Tapi matanya masih sama. Cokelat madu. “Janji ya, kalau aku… kalau nanti aku gak ada, kamu jangan nangis.”
“Jangan ngomong gitu,” potongku.
“Janji, Ra.” Suaranya tegas. “Aku gak mau kamu sedih terus. Aku mau kamu inget aku sambil senyum. Inget perbincangan Minggu pagi kita. Inget gimana aku tersesat waktu pertama kali ketemu kamu. Inget hal-hal yang bikin kamu bahagia.”
Aku tak sanggup menjawab. Hanya mengangguk sambil menggigit bibir.
Lintang meninggal lima bulan kemudian. Tenang, di rumah sakit, tanganku menggenggam tangannya.
Dua ratus tiga puluh Minggu tanpanya. Aku menepati janji. Aku tak menangis. Aku bekerja seperti biasa, pulang ke rumah yang sepi, memasak untuk satu orang, tidur di ranjang yang terlalu lebar. Aku kuat. Aku harus kuat.
Sampai pagi ini.
Hari ulang tahun pernikahan kami yang kelima. Bel rumah berbunyi pukul tujuh pagi. Seorang kurir membawa rangkaian bunga mawar putih. Bunga kesukaanku.
“Untuk Nyonya Rara, dari Bapak Lintang,” kata kurir itu.
Tanganku bergetar menerima bunga itu. Ada kartu kecil tersembunyi di antara kelopak.
“Untuk istriku tercinta. Lima tahun kita bersama. Terima kasih untuk setiap Minggu pagi. Terima kasih sudah jadi rumah bagiku. Aku mencintaimu, kemarin, hari ini, dan selamanya. – Lintangmu.”
Tulisan tangannya. Tulisan tangan yang sudah lama tak kulihat.
Aku terduduk di lantai. Bunga-bunga itu jatuh berserakan. Dan untuk pertama kalinya dalam dua ratus tiga puluh Minggu, aku menangis.
Ibu datang sore itu. Mungkin dia tahu hari ini berat bagiku. Dia tak bicara apa-apa, hanya memelukku erat. Dan aku menangis lebih keras lagi. Menangis untuk semua Minggu pagi yang takkan pernah kembali. Menangis untuk perbincangan-perbincangan kecil yang kurindukan. Menangis untuk mata cokelat madu yang takkan pernah lagi berbinar menatapku.
“Gak papa, sayang,” bisik Ibu, mengusap rambutku seperti dulu saat aku masih kecil. “Gak papa untuk merindukan. Gak papa untuk sedih. Dia pasti mengerti.”
Ya. Lintang pasti mengerti.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku kembali ke album foto kami. Melihat wajahnya yang tersenyum. Mendengar tawanya dalam ingatan. Mengingat perbincangan Minggu pagi kami.
Aku masih rindu. Sangat rindu.
Tapi aku juga bersyukur. Karena pernah memiliki seseorang yang mencintaiku dengan tulus. Seseorang yang bahkan dalam kepergiannya, masih ingat untuk mengirimkan bunga di hari spesial kami.
Dan besok, aku akan kembali menyeduh dua cangkir kopi. Satu untukku. Satu lagi untuk kenangan.
Untuk perbincangan Minggu pagi yang takkan pernah padam dalam hatiku.
Bogor, Mei 2025


