Susanti menatap langit Tokyo yang kelabu melalui jendela apartemen mungilnya di Shibuya. Sudah tiga tahun berlalu sejak ia memutuskan meninggalkan Jakarta—dan luka yang tak kunjung sembuh. Setiap kali hujan turun seperti ini, ia selalu teringat pada Rendra yang dengan entengnya berkata, “Sus, maafin aku ya. Aku udah janji sama Mama untuk nikah sama Dian.”
“Tiga tahun,” gumamnya sambil menyeruput teh hijau. “Masih aja mikirin dia.”
Ponselnya bergetar. Pesan dari Tanaka-san, atasannya di kantor konsultan IT.
“Otsukaresama, Susanti-san. Besok ada meeting dengan klien baru. Tolong siapkan presentasi untuk sistem inventory mereka.”
Susanti tersenyum tipis. Setidaknya di Jepang, ia punya tujuan yang jelas setiap hari. Tidak seperti di Jakarta dulu, di mana ia hanya menunggu janji-janji kosong Rendra yang tak pernah ditepati.
Keesokan harinya, di ruang meeting yang serba putih dan minimalis, Susanti mempresentasikan proposal mereka dengan lancar dalam bahasa Jepang yang sudah cukup fasih. Klien—seorang pria paruh baya bernama Yamamoto-san—tampak terkesan.
“Sugoi desu ne, Susanti-san,” puji Yamamoto-san. “Presentasi yang sangat komprehensif.”
Setelah meeting, Tanaka-san menghampiri Susanti dengan senyum yang jarang ia perlihatkan.
“Susanti-san, kau tahu? Yamamoto-san bilang ini presentasi terbaik yang pernah ia dengar dari orang asing,” kata Tanaka-san. “Mungkin sudah saatnya kau dipromosikan jadi senior consultant.”
Susanti merasa hatinya menghangat. “Arigatou gozaimasu, Tanaka-san.”
“Tapi…” Tanaka-san terdiam sejenak. “Kau terlihat kesepian akhir-akhir ini. Sudah berapa lama kau tidak pulang ke Indonesia?”
“Tiga tahun,” jawab Susanti cepat. Terlalu cepat.
Tanaka-san mengangguk paham. “Aku tahu perasaan itu. Kadang kita lari ke tempat jauh, tapi luka hati kita ikut terbang bersama.”
***
Akhir pekan itu, Susanti memutuskan mengunjungi Galeri Seni Harajuku yang sedang mengadakan pameran “Indonesian Contemporary Art.” Ia rindu melihat karya seni dari tanah airnya, meski hatinya masih enggan pulang.
Galeri itu sunyi, hanya beberapa pengunjung yang berkeliling. Susanti terpesona pada sebuah lukisan abstrak berwarna merah menyala dengan goresan hitam yang dramatis. Ada sesuatu dalam lukisan itu yang membuatnya merasa… dimengerti.
“Menarik ya, lukisan itu.”
Susanti menoleh. Seorang pria Indonesia yang tinggi, berambut agak gondrong dan berjenggot tipis, berdiri di sampingnya. Wajahnya tampak lelah tapi matanya tajam dan cerdas.
“Iya,” jawab Susanti. “Seperti… marah dan sedih dalam waktu bersamaan.”
Pria itu tersenyum. “Pelukisnya orang Indonesia. Namanya Bayu Anggara. Dia melukis ini setelah putus dari pacarnya yang selingkuh.”
Susanti tersentak. “Kamu… mengenalnya?”
“Kenal banget. Soalnya itu lukisan gue sendiri.”
Mereka berdua terdiam, lalu tertawa bersamaan.
“Bayu,” kata pria itu sambil mengulurkan tangan.
“Susanti,” sahutnya sambil berjabat tangan.
“Eh, tunggu. Kamu Susanti yang kerja di Moritech Consulting itu bukan?”
Susanti terkejut. “Kamu kenal aku?”
“Tentu. Gue sering denger cerita tentang consultant Indonesia yang jenius dari temen-temen di komunitas expat. Katanya orangnya cantik, pinter, tapi agak… misterius.”
“Misterius?” Susanti tertawa. “Aku cuma introvert aja.”
“Introvert atau lagi sembunyi dari sesuatu?”
Pertanyaan Bayu menohok tepat sasaran. Susanti terdiam.
“Sorry, gue kebiasaan langsung to the point,” kata Bayu sambil nyengir. “Profesi sampingan gue selain pelukis adalah jadi tukang baca orang.”
“Profesi sampingan? Terus profesi utamanya apa?”
“Rahasia.” Bayu mengedipkan mata. “Tapi bukan gigolo, tenang aja.”
Susanti tertawa lepas untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan. “Kamu gila ya.”
“Gila tapi harmless. Gimana kalo kita ngobrol sambil makan ramen? Gue tahu tempat ramen halal yang enak banget di Shibuya.”
***
Di kedai ramen kecil yang hangat, mereka duduk berseberangan sambil menyeruput kuah yang mengepul.
“Jadi, cerita dong kenapa bisa nyasar sampai Jepang?” tanya Bayu sambil meniup ramennya.
“Standard story. Cowok selingkuh, hati patah, kabur ke luar negeri buat healing,” jawab Susanti dengan nada sarkastik.
“Healing atau hiding?”
“Same thing.”
Bayu menggeleng. “Nggak sama. Healing itu lo ngadepin masalah terus move on. Hiding itu lo cuma ngubur masalah di tempat lain.”
Susanti menatapnya tajam. “Terus lo healing atau hiding?”
“Touché,” Bayu tersenyum pahit. “Gue juga hiding sih. Cuma beda alasannya.”
“Apa?”
“Rahasia.” Bayu menyeruput kuahnya. “Tapi bukan karena patah hati. Lebih ke… masalah keluarga.”
Mereka makan dalam diam sejenak. Susanti merasa nyaman dengan keheningan ini—sesuatu yang jarang ia rasakan bersama orang lain.
“Lo tahu nggak,” kata Susanti pelan, “sejak di sini, gue merasa kayak jadi orang yang berbeda. Lebih mandiri, lebih kuat. Tapi…”
“Tapi?”
“Tapi kadang gue ngerasa kayak kehilangan jati diri. Kayak gue jadi robot yang cuma bisa kerja dan pulang.”
Bayu mengangguk. “Gue ngerti. Kadang kita terlalu sibuk jadi orang lain sampai lupa siapa kita sebenarnya.”
“Filosofis banget sih lo.”
“Habis sering ngobrol sama lukisan. Mereka diem tapi pinter ngasih nasihat.”
Susanti tertawa. “Gila. Tapi… makasih ya. Udah lama gue nggak ngobrol se-nyantai ini sama orang.”
“Same here. Gimana kalo kita jadi temen curhat? Lo butuh orang buat denger keluhan lo tentang Jepang, gue butuh orang buat ngingetin gue kalau gue mulai terlalu antisosial.”
“Deal.”
Mereka berjabat tangan di atas meja. Ada sesuatu dalam genggaman Bayu yang membuat Susanti merasa aman—sekaligus was-was tanpa alasan yang jelas.
***
Dua bulan kemudian, Susanti dan Bayu sudah menjadi sahabat dekat. Mereka sering bertemu di galeri, kedai kopi kecil di Harajuku, atau taman Ueno saat weekend. Bayu punya cara bercerita yang menarik tentang seni, kehidupan, dan filosofi sederhana yang selalu membuat Susanti tertawa.
“Gue punya teori,” kata Bayu suatu sore saat mereka duduk di bangku taman sambil melihat bunga sakura yang mulai mekar.
“Teori apaan lagi?”
“Orang Indonesia yang kabur ke luar negeri itu ada dua tipe. Tipe pertama, yang bener-bener mau move on dan mulai hidup baru. Tipe kedua, yang cuma ganti tempat tapi tetep hidup di masa lalu.”
“Terus gue tipe yang mana?”
“Lo? Masih transisi dari tipe kedua ke tipe pertama.”
Susanti menoleh. “Gimana lo tahu?”
“Karena lo masih nyimpen foto mantan di dompet lo.”
Susanti terkejut dan langsung meraih dompetnya. Benar, ada foto kecil Rendra yang sudah lusuh di balik kartu identitas.
“Lo ngintip dompet gue?”
“Keliatan waktu lo bayar ramen kemarin. Santai, gue nggak judge. Gue juga masih nyimpen sesuatu dari masa lalu.”
“Apa?”
Bayu menunjukkan kalung tipis di lehernya dengan liontin berbentuk huruf ‘A’. “Dari adik gue.”
“Adik lo di mana sekarang?”
Ekspresi Bayu tiba-tiba berubah gelap. “Dia… udah nggak ada.”
Susanti merasa bersalah. “Sorry, gue nggak bermaksud—”
“Nggak papa. Justru karena dia gue bisa sampai di sini.” Bayu tersenyum tipis. “Suatu hari gue cerita deh. Tapi belum sekarang.”
Mereka duduk dalam diam, menikmati angin sore yang membawa kelopak sakura.
“Yu,” kata Susanti pelan.
“Hmm?”
“Lo… kerja di bidang apa sih sebenarnya? Gue sering nanya tapi lo selalu ngalih in topik.”
Bayu terdiam lama. “Import-export.”
“Import-export apa?”
“Macem-macem. Antik, seni, perhiasan… pokoknya barang-barang unik.”
Ada sesuatu dalam nada bicara Bayu yang membuat Susanti merasa ia tidak berkata jujur sepenuhnya. Tapi ia memilih tidak mendesak. Setiap orang punya rahasianya masing-masing.
***
Seminggu kemudian, Susanti mulai menyadari keanehan-keanehan kecil tentang Bayu. Ia selalu punya uang cash dalam jumlah besar, tapi tidak pernah memakai kartu kredit. Ponselnya sering bunyi tengah malam, dan ia selalu mengangkat dengan nada tegang. Kadang ia menghilang berhari-hari tanpa kabar, lalu muncul lagi dengan alasan “lagi sibuk.”
Yang paling aneh, suatu malam saat mereka makan di restoran, Susanti melihat Bayu berbicara dalam bahasa yang tidak ia kenali dengan seorang pria berkulit gelap yang berjas mahal. Percakapan mereka terlihat serius dan menegangkan.
“Siapa temen lo tadi?” tanya Susanti saat pria itu pergi.
“Klien. Mau beli lukisan gue.”
“Kok kayak lagi negotiating drug deal ya?”
Bayu tertawa, tapi tidak menyentuh matanya. “Lo kebanyakan nonton film action.”
Malam itu, dalam perjalanan pulang, Susanti memutuskan untuk mengikuti Bayu dari jauh. Ia melihat Bayu masuk ke sebuah gedung tua di distrik Kabukicho—daerah yang terkenal dengan bar dan klub malamnya.
Keesokan harinya, Susanti googling alamat gedung itu. Yang muncul adalah informasi tentang sebuah perusahaan ekspor-impor bernama “Sakura Trading Co.” dengan track record yang mencurigakan.
***
Dua minggu kemudian, saat mereka sedang minum kopi di kedai langganan, Susanti memberanikan diri bertanya.
“Yu, gue boleh nanya sesuatu nggak?”
“Shoot.”
“Lo… beneran cuma pelukis dan importir barang antik?”
Bayu meletakkan cangkir kopinya perlahan. “Kenapa nanya?”
“Karena gue ngerasa lo nyembunyiin sesuatu. Dan gue… gue mulai sayang sama lo. Jadi gue butuh tahu siapa lo sebenarnya.”
Bayu terdiam lama. Matanya menatap keluar jendela, ke jalan Tokyo yang ramai.
“Sus,” katanya akhirnya. “Ada hal-hal yang lebih baik lo nggak tahu.”
“Seperti apa?”
“Seperti… kenyataan bahwa dunia nggak sesederhana yang kita pikir. Ada area abu-abu di mana orang-orang seperti gue hidup.”
Susanti merasa jantungnya berdegup kencang. “Maksud lo?”
Bayu menghela napas panjang. “Gue bukan cuma importir antik, Sus. Gue juga… facilitor buat orang-orang yang butuh barang-barang tertentu yang sulit didapat secara legal.”
“Barang-barang apa?”
“Dokumen palsu, identitas baru, jalur keluar negeri buat orang yang lagi bermasalah dengan hukum… hal-hal seperti itu.”
Susanti merasa dunia berputar. “Lo… kriminal?”
“Gue lebih suka bilang ‘penyedia jasa alternatif.'” Bayu tersenyum pahit. “Tapi ya, di mata hukum, mungkin iya.”
“Kenapa… kenapa lo lakuin itu?”
“Karena adik gue.” Bayu menyentuh kalung di lehernya. “Dia dulu terjerat masalah sama debt collector. Gue nggak bisa nolongin dia. Dia… bunuh diri.”
Air mata mulai menggenang di mata Bayu. “Sejak itu, gue bersumpah bakal bantu orang-orang yang terjerat masalah seperti dia. Ya, caranya mungkin nggak legal, tapi setidaknya gue bisa tidur nyenyak knowing that I saved someone’s life.”
Susanti tidak tahu harus berkata apa. Antara terkejut, kecewa, dan… iba.
“Sus,” kata Bayu pelan. “Gue ngerti kalau lo mau ngejauh dari gue setelah ini. Gue nggak mau lo terlibat dalam hidup gue yang rumit.”
***
Malam itu, Susanti tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan pengakuan Bayu. Di satu sisi, ia merasa dibohongi dan kecewa. Di sisi lain, ia bisa merasakan ketulusan dalam cerita Bayu tentang adiknya.
Dua hari kemudian, Bayu mengirim pesan: “Gue mau pamit. Gue akan pindah ke kota lain. Makasih udah jadi temen baik selama ini, Sus. Take care.”
Susanti panik. Ia langsung berlari ke galeri tempat mereka pertama bertemu, tapi Bayu tidak ada. Ia mencoba menelpon, tapi nomor Bayu sudah tidak aktif.
Tanpa sadar, ia berlari ke gedung tua di Kabukicho. Di sana ia bertemu dengan seorang wanita Jepang paruh baya yang ternyata pemilik Sakura Trading Co.
“Excuse me, saya cari Bayu. Bayu Anggara,” kata Susanti dalam bahasa Jepang yang terpatah-patah.
Wanita itu menatapnya curiga. “Anda siapa?”
“Saya… temannya. Saya perlu bicara dengannya.”
Setelah beberapa lama, wanita itu menghela napas. “Dia sudah pergi tadi malam. Ada masalah dengan polisi. Dia harus menghilang untuk sementara.”
Susanti merasa dadanya sesak. “Dia… dia aman?”
“Untuk sementara, ya. Tapi dia bilang, kalau ada wanita Indonesia yang nyari dia, suruh bilang bahwa dia minta maaf dan dia berharap Anda bisa melupakan dia.”
Susanti keluar dari gedung itu dengan langkah sempoyongan. Hujan mulai turun, dan ia berjalan tanpa arah di jalanan Tokyo yang basah.
***
Seminggu kemudian, Susanti menerima paket di apartemennya. Di dalamnya ada sebuah lukisan kecil—potret dirinya yang sedang tersenyum di taman sakura—dan sebuah surat.
Sus,
Maaf gue nggak bisa pamit langsung. Situasi gue lagi rumit dan gue nggak mau nyeret lo ke dalam masalah ini.
Gue tahu lo pasti bingung dan mungkin marah. Gue ngerti. Tapi gue mau lo tahu bahwa waktu-waktu yang kita habiskan bareng adalah momen paling bahagia gue selama bertahun-tahun. Lo ngasih gue alasan untuk percaya bahwa masih ada kebaikan di dunia ini.
Jangan pernah berpikir bahwa lo nggak berharga. Lo salah satu orang terbaik yang pernah gue kenal. Dan jangan kayak gue—jangan sampe lo terjebak dalam lingkaran balas dendam dan penyesalan. Lo pantas dapet kebahagiaan yang sesungguhnya.
Lukisan ini gue bikin dari ingatan. Lo terlihat paling cantik waktu ketawa. Jangan berhenti ketawa, Sus.
Someday, kalau dunia udah lebih ramah sama gue, mungkin kita bisa ketemu lagi. Tapi untuk sekarang, move on. Pulang ke Indonesia. Hadapi masa lalu lo. Mulai hidup yang beneran.
Thank you for being the light in my darkness.
Bayu
Susanti menangis sambil memeluk lukisan itu. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia menangis bukan karena Rendra, tapi karena kehilangan seseorang yang benar-benar ia sayangi.
***
Enam bulan kemudian, Susanti duduk di café di Jakarta, menunggu seseorang. Ia sudah memutuskan untuk pulang dan menghadapi masa lalunya. Rendra yang dulu ia anggap sebagai satu-satunya cinta ternyata hanya kenangan kecil dibandingkan dengan perasaannya pada Bayu.
“Susanti?”
Ia menoleh. Rendra berdiri di sampingnya, wajahnya sedikit berubah—lebih tua dan ada lingkaran hitam di mata.
“Hai, Ren,” sapa Susanti tenang.
“Kamu… cantik banget sekarang. Beda.” Rendra duduk di hadapannya. “Gimana Jepang?”
“Mengubah hidup gue.”
“Kamu masih… marah sama gue?”
Susanti tersenyum. “Nggak. Justru gue mau ngucapin makasih.”
“Makasih?”
“Karena lo ninggalin gue, gue jadi belajar hidup mandiri. Gue jadi tahu kalau gue lebih kuat dari yang gue kira.”
Rendra terlihat lega sekaligus kecewa. “Jadi… kita bisa mulai lagi?”
Susanti menggeleng sambil tersenyum. “Kita udah nggak cocok lagi, Ren. Lo udah berubah, gue juga udah berubah. Dan gue udah belajar bedain antara cinta dan kebiasaan.”
Setelah Rendra pergi, Susanti menatap langit Jakarta yang berawan. Di tangannya masih ada kalung dengan liontin berbentuk kuas—hadiah terakhir dari Bayu yang ada di dalam paket.
Ponselnya bunyi. Email dari sebuah NGO di Jakarta yang mencari konsultan IT untuk program bantuan korban perdagangan manusia.
Susanti tersenyum dan mulai mengetik balasan. Mungkin ini cara untuk melanjutkan apa yang pernah dilakukan Bayu—membantu orang dalam kesulitan, tapi dengan cara yang legal dan lebih bermakna.
Di pojok tasnya, foto Bayu yang tersenyum di depan lukisan mereka masih tersimpan rapi. Kadang cinta tidak selalu berakhir dengan kebersamaan, tapi dengan transformasi menjadi orang yang lebih baik.
Susanti akhirnya membuang foto lama Rendra dari dompetnya, dan mulai melangkah menuju chapter baru dalam hidupnya—tidak lagi lari dari masa lalu, tapi menghadapinya dengan kekuatan yang didapat dari perjalanan panjangnya di negeri sakura.
“Sometimes, the people who break us are not the ones who hurt us the most, but the ones who force us to become stronger,” gumamnya, mengutip kata-kata terakhir Bayu di lukisan yang kini terpajang di apartemen barunya di Jakarta.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Susanti merasa benar-benar pulang.
Jakarta, 14 Februari 2025


