1.
Ada yang lebih melelahkan dari kesepian, yaitu berpura-pura tidak merasakannya.
Setiap pagi aku tiba di kantor pukul tujuh lebih lima menit. Bukan karena disiplin. Bukan karena aku mencintai pekerjaan ini — meskipun mungkin aku pernah mencintainya, dua puluh tahun lalu, ketika semuanya masih terasa seperti pilihan dan bukan penjara yang kulukis sendiri dengan tangan yang sama yang menandatangani kontrak kerja. Aku datang lebih awal karena rumah terasa terlalu besar sejak Sinta menikah. Dan terlalu sunyi sejak Dewi menyusul setahun kemudian. Sebelum itu, ada Mas Tomo, yang pergi duabelas tahun lalu dengan cara yang tidak pernah benar-benar kusebut kepergian — lebih seperti: ia berhenti hadir, dan kami semua belajar melanjutkan hidup seolah itu wajar.
Jadi aku datang ke kantor. Kubuka komputer. Kuseduh teh sendiri di pantry yang baunya seperti lemari arsip lama. Dan aku duduk di kursi yang sudah tahu betul lekuk punggungku.
Kursi itu tidak pernah menghakimi. Itu yang kusuka dari benda-benda mati.
2.
Pertama kali aku memperhatikan Ramadhan adalah bukan ketika ia datang, melainkan ketika ia diam.
Rapat divisi. Direktur bicara tentang target kuartal, angka-angka yang sudah kuhafal bahkan sebelum presentasi dibuka karena akulah yang menyusun laporan itu. Ramadhan duduk dua kursi dari kananku, membawa buku catatan yang penuh coretan — bukan tulisan, tapi gambar kecil-kecil: pohon, rumah, sesuatu yang mungkin ombak. Aku tahu itu karena mataku diam-diam mencuri pandang.
Ia tidak mencatat apa-apa. Tapi ketika direktur selesai bicara dan membuka sesi tanya jawab, Ramadhan yang pertama angkat tangan. Dan yang ia tanyakan adalah pertanyaan yang bahkan aku — dengan dua puluh tahun pengalaman — tidak pernah berani mengucapkannya dengan lantang: mengapa target kredit UMKM terus naik sementara anggaran pendampingan justru dipotong?
Ruangan hening sebentar. Direktur tertawa kecil. Menjawab dengan kalimat panjang yang artinya: pertanyaan bagus, tapi jangan kau ulangi.
Ramadhan mengangguk. Menuliskan sesuatu di bukunya. Aku tidak bisa melihat apa.
Setelah rapat, di lorong menuju lift, ia berjalan di sampingku. “Bu Asih,” katanya, “laporan kuartal kemarin — bagian analisis risiko mikro — itu Bu Asih yang nulis sendiri, ya?”
“Kenapa?”
“Bagus. Serius. Nggak banyak orang yang mau lihat angka dari sudut itu.”
Itu saja. Lift datang. Pintu menutup. Aku naik ke lantai empat, ia turun ke lantai dua. Tapi setelah itu aku duduk di mejaku selama satu jam tanpa membuka satu pun berkas yang seharusnya kuselesaikan sebelum tengah hari.
3.
Sinta menelepon setiap Minggu. Dewi kadang-kadang, tergantung apakah mertuanya sedang berkunjung atau tidak. Percakapan kami punya pola yang sudah hafal: kabar baik-baik saja, anak-anak sehat, suami baik-baik saja, Mama makan yang teratur ya, jangan lupa minum vitamin.
Tidak ada yang salah dengan percakapan itu. Tapi tidak ada juga yang benar.
Yang ingin kukatakan, yang tidak pernah kukatakan: aku kesepian dengan cara yang tidak bisa dijelaskan kepada orang yang tidak pernah duduk sendiri di meja makan enam kursi sambil menyendok sup labu yang terlalu banyak karena terbiasa masak untuk empat orang.
Yang ingin kukatakan: kadang-kadang aku berdiri di depan lemari baju Mas Tomo yang masih ada di sana — kemeja-kemejanya masih rapi digantung, aku tidak pernah bisa membuangnya — dan aku tidak menangis, aku hanya berdiri, karena entah kenapa itu lebih menghibur daripada menelepon siapa pun.
Yang ingin kukatakan: ada karyawan baru di kantorku dan ia membuat gejolak yang tidak kuundang dan tidak kuinginkan dan ini sangat merepotkan.
Tapi kepada Sinta aku bilang: baik-baik saja, enak makannya, sehat.
4.
Kami mulai minum kopi bersama tanpa benar-benar merencanakan.
Pertama kali: kebetulan. Kami berdua di pantry pada waktu yang sama, pukul sepuluh pagi, dan ia sedang bingung dengan mesin espresso yang memang selalu rewel pada tombol ketiga.
“Tekan yang kedua dua kali,” kataku.
Ia mencoba. Berhasil. Ia tertawa — tertawa sungguhan, bukan tertawa sopan — dan menoleh padaku dengan ekspresi yang membuatku ingat bahwa aku pernah, dua puluh tahun lalu, punya wajah yang juga bisa tertawa seperti itu: spontan, tanpa perhitungan.
“Sudah berapa lama Bu Asih tahu trik ini?”
“Sejak mesinnya dipasang. Delapan tahun lalu.”
“Dan tidak pernah kasih tahu siapa-siapa?”
“Tidak ada yang tanya.”
Ia menatapku sebentar dengan cara yang tidak bisa kuartikan. Lalu: “Boleh saya temenin minum kopi di sini? Atau Bu Asih lagi mau sendiri?”
Aku ingin bilang: mau sendiri. Karena itu lebih aman. Tapi yang keluar: “Boleh.”
Setelah itu jadi kebiasaan. Tidak dijadwalkan, tidak dibicarakan. Tapi kalau pukul sepuluh pagi salah satu dari kami ada di pantry, yang lain hampir selalu menyusul. Kami bicara tentang pekerjaan, tentang buku yang sedang dibaca, tentang kota — ia dari Semarang, baru setahun di Yogyakarta, masih mencari warung soto yang pas. Aku memberinya nama tiga warung. Dua minggu kemudian ia laporan: yang pertama enak, yang kedua terlalu manis, yang ketiga belum sempat dicoba.
Hal-hal kecil seperti itu. Hal-hal yang tidak berarti apa-apa sendiri-sendiri, tapi kalau dikumpulkan menjadi sesuatu yang mulai sulit kuhiraukan.
5.
Surat pensiun dini yang ketiga kuajukan bulan Maret.
Pak Hendra, kepala divisi, membacanya dengan muka yang tidak berubah sama sekali. Lalu melipatnya kembali, meletakkannya di atas mejanya, dan berkata: “Bu Asih, saya tidak bisa approve ini.”
“Saya tahu prosedurnya, Pak. Tapi secara aturan—”
“Secara aturan bisa. Secara kebutuhan kantor tidak bisa. Siapa yang mau megang portofolio analisis kalau Bu Asih pergi? Mas Doni? Mas Doni belum bisa bedain mana laporan arus kas dan mana neraca.”
“Itu bisa dilatih, Pak.”
“Dengan berapa lama? Bu Asih mau pensiun bulan depan?”
Aku diam.
“Bu Asih terlalu bagus untuk pergi sekarang. Itu masalahnya.” Pak Hendra tersenyum dengan cara yang mungkin dimaksud sebagai pujian. “Dua tahun lagi, ya. Pas usia pensiun normal. Semua lebih rapi.”
Aku keluar dari ruangannya dengan senyum yang kupasang di depan pintu dan kulepas segera setelah pintu tertutup.
Dua tahun lagi. Seperti hukuman yang dibungkus penghargaan.
Malam itu aku duduk di teras rumah sampai pukul sebelas. Tidak ada yang kutunggu. Tapi ada sesuatu yang tidak kuinginkan masuk ke dalam — keheningan yang berbeda kualitasnya dari keheningan siang hari, lebih berat, lebih bertekstur.
Aku tidak mau pensiun karena Ramadhan. Aku mau pensiun supaya bisa berhenti memikirkannya. Beda.
Tapi entah kenapa perbedaan itu tidak membuatku merasa lebih baik.
6.
Ada satu sore di bulan April yang tidak sengaja jadi terlalu panjang.
Hujan turun deras sejak pukul empat. Hampir semua orang sudah pulang. Aku masih di meja karena ada rekonsiliasi yang belum beres, dan Ramadhan masih di mejanya karena — aku tidak tahu alasannya, tidak kutanya.
Pukul enam lewat, ia berdiri, mengambil jaketnya, lalu berhenti di depan mejaku.
“Bu Asih belum pulang?”
“Sebentar lagi.”
“Mau makan dulu? Di bawah ada yang jual pecel lele. Kalau hujannya reda.”
Aku menatap layar komputerku. Angka-angka yang sudah kuhafal. Rekonsiliasi yang sebetulnya bisa selesai besok.
“Baik,” kataku. Dan ini adalah kata-kata yang paling tidak bijaksana yang pernah kuucapkan dalam dua belas tahun terakhir.
Kami makan di bawah tenda plastik biru, hujan masih gerimis, dengan cahaya lampu jalan yang memantul di genangan air trotoar. Ia memesan lele dua ekor, aku satu. Kami bicara tentang hal-hal yang tidak penting: film yang sedang tayang, buku yang sudah setengah dibaca tapi tidak selesai-selesai, kenapa orang Yogyakarta menaruh gula di semua makanan.
Lalu ia bertanya, tiba-tiba, tanpa peralihan: “Bu Asih suka di sini? Maksud saya, di kota ini. Betah?”
Aku berpikir sebentar. “Sudah lama. Sudah jadi bagian dari tubuh.”
“Tapi suka?”
Aku tidak menjawab segera. Dan dalam jeda itu, ia melihatku dengan cara yang membuat sesuatu di dadaku bergerak ke tempat yang tidak semestinya.
“Saya kadang kepikiran pindah,” kataku akhirnya. “Surabaya. Adik saya di sana.”
“Oh.” Ia mengangguk. Memandang gerimis. “Jauh.”
“Ya.”
“Karena apa? Kalau boleh tanya.”
Karena apa? Karena rumahku terlalu besar. Karena anak-anakku sudah pergi dengan baik-baik dan Mas Tomo sudah pergi dengan cara yang tidak ada kata baik-baiknya. Karena aku ingin mengulang dari tempat yang tidak ada kenangan lama di setiap sudutnya. Karena ada seseorang di kantor ini yang tanpa sengaja mengingatkanku bahwa aku masih bisa merasakan sesuatu, dan itu sangat merepotkan.
“Mau ganti udara,” kataku.
Ia mengangguk lagi. Tidak mendesak. Tidak bertanya lebih jauh. Dan justru karena itu — justru karena ia berhenti pada titik yang tepat — aku merasa ada sesuatu yang sangat berharga dalam cara ia bicara.
Hujan berhenti. Kami berpisah di depan gedung parkir. Ia pergi ke arah kiri. Aku ke kanan. Tidak ada yang dramatis. Tidak ada yang diucapkan yang seharusnya tidak diucapkan.
Tapi di dalam mobil, sebelum menyalakan mesin, aku duduk diam selama mungkin lima menit. Menghitung napas seperti yang diajarkan terapis yang kutemui tiga tahun lalu dan berhenti kutemui karena ia bilang aku terlalu baik dalam menghindari inti persoalan.
7.
Aku tidak bodoh. Aku tahu apa yang sedang terjadi.
Empat puluh sembilan tahun, dua anak yang sudah punya kehidupan sendiri, satu suami yang sudah tidak ada, satu karir yang berlangsung lebih lama dari yang kurencanakan. Dan sekarang ada pria tiga puluh empat tahun yang membawa buku catatan penuh gambar ombak dan menanyakan pertanyaan yang tidak berani ditanyakan orang lain.
Aku tahu apa yang sedang terjadi dan aku tahu kenapa itu tidak boleh dilanjutkan.
Bukan karena umur — aku sudah melewati fase di mana aku peduli dengan hitungan semacam itu. Bukan karena apa yang dipikirkan orang — aku juga sudah melewati itu. Tapi karena ada sesuatu yang lebih sunyi dan lebih berat dari sekadar perasaan: ada ketidakadilan dalam membawa seseorang masuk ke dalam hidup yang masih penuh dengan benda-benda yang belum selesai kutinggalkan. Kemeja Mas Tomo di lemari. Kamar Sinta yang masih tertata seperti waktu ia SMA. Foto keluarga di ruang tengah yang sudah kusimpan tapi masih berbekas di dinding.
Aku belum beres. Itu masalahnya.
Dan orang yang belum beres tidak berhak menarik orang lain masuk.
Itu yang kukatakan pada diriku sendiri, berulang-ulang, seperti mantra atau seperti diagnosis, setiap malam sebelum tidur dan setiap pagi sebelum berangkat.
8.
Bulan Mei, Ramadhan masuk ruanganku membawa amplop putih tipis.
Aku tahu sebelum ia membuka mulut.
“Bu Asih, saya mau pamit.”
Aku menaruh pena. Menatapnya. “Resign?”
“Ada tawaran di Jakarta. Bank lain. Posisi lebih baik.” Ia meletakkan amplopnya di sudut mejaku dengan gerakan yang terlalu hati-hati untuk seseorang yang sedang menyampaikan kabar biasa. “Saya minta tolong tanda tangan Bu Asih sebagai atasan langsung, untuk kelengkapan administrasi.”
“Kapan terakhir?”
“Akhir bulan.”
Dua minggu. Aku mengambil pena. Membuka amplop. Membaca surat yang tidak perlu lama kubaca karena formatnya sudah hafal — sudah berapa kali aku menandatangani surat seperti ini untuk orang lain.
“Selamat,” kataku. Kutulis namaku. Kukembalikan amplop itu.
Ia mengambilnya. Berdiri di depan mejaku satu detik lebih lama dari yang diperlukan untuk transaksi administrasi.
“Bu Asih,” katanya, “makasih ya. Untuk semuanya.”
Aku tidak tanya: semuanya yang mana. Aku mengangguk. Ia keluar. Pintu tertutup dengan bunyi yang sangat biasa, tidak keras, tidak pelan, hanya biasa — dan entah kenapa justru itu yang paling berat.
9.
Dua minggu adalah waktu yang cukup untuk belajar pura-pura.
Kami masih bertemu di pantry. Dua kali, tiga kali. Masih bicara tentang hal-hal biasa. Ia bercerita tentang apartemen yang sudah dilihat di Jakarta, tentang biaya hidup yang lebih tinggi, tentang temannya yang akan jadi teman serumah. Aku mendengarkan dan memberi komentar yang wajar dan tidak ada yang bisa menuduhku melakukan sesuatu yang tidak seharusnya.
Tapi ada satu siang — tiga hari sebelum hari terakhirnya — ketika kami berdua di pantry dan tiba-tiba percakapan berhenti, dan kami berdua tidak mengisinya, dan itu berlangsung mungkin sepuluh detik tapi terasa seperti sesuatu yang jauh lebih panjang.
Ia yang pertama bicara: “Bu Asih jadi pindah ke Surabaya?”
“Belum tahu. Pengajuan pensiunnya belum di-approve.”
“Oh.” Ia mengangguk pelan. Memandang cangkir kopinya. “Sayang.”
Aku tidak tanya: sayang yang mana. Aku juga tidak memberitahu bahwa alasan sesungguhnya di balik surat-surat pensiun itu adalah untuk menjauhi sesuatu yang bahkan tidak pernah kami beri nama. Beberapa hal lebih mudah dibawa pergi tanpa diberi nama.
“Jakarta bagus,” kataku. “Kamu akan betah.”
Ia tersenyum. Tersenyum seperti orang yang mengerti lebih dari yang diucapkan tapi memilih untuk tidak mengucapkan yang dimengertinya.
Itu momen terakhir yang sungguh-sungguh antara kami. Setelah itu, hanya ada perpisahan formal, kue tart dari sekretariat, foto bersama seluruh divisi, tepuk tangan.
10.
Malam setelah Ramadhan pergi, aku masak nasi goreng untuk satu porsi.
Ini bukan hal yang penting. Tapi aku perlu mencatatnya: aku masak nasi goreng untuk satu porsi, bukan untuk empat seperti dua puluh tahun lalu, bukan untuk dua seperti lima tahun lalu, tapi untuk satu, dengan takaran yang tepat, tanpa sisa.
Aku makan di depan televisi yang tidak kutonton. Lalu mencuci piring. Lalu duduk di kursi ruang tamu sampai pukul sembilan, tidak membaca, tidak menelepon siapa-siapa.
Kemudian aku masuk kamar, membuka lemari, dan untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun, aku menyentuh kemeja-kemeja Mas Tomo. Satu per satu. Bahannya masih terasa sama. Baunya sudah tidak ada — sudah lama digantikan bau kayu dan waktu.
Aku duduk di lantai dengan kemeja biru kotak-kotak di pangkuan — kemeja yang dulu sering dipakai Mas Tomo ke kantor di hari Jumat — dan aku menangis. Bukan menangis karena Ramadhan. Bukan menangis karena ditinggal. Aku menangis karena baru sadar bahwa selama ini aku menyimpan kemeja-kemeja ini bukan sebagai kenangan, tapi sebagai alasan untuk tidak bergerak. Sebagai bukti bahwa ada sesuatu yang mengijinkan aku untuk tidak mencoba lagi.
Aku menangis cukup lama. Lalu berhenti. Melipat kemeja itu. Meletakkannya di atas tumpukan yang lain.
Besok, mungkin lusa, aku akan mengepaknya. Bukan karena siap, tapi karena tidak siap pun tidak ada bedanya sekarang.
11.
Surat pensiun dini keempat kuajukan minggu pertama Juni.
Pak Hendra membacanya. Melipat. Meletakkan.
“Bu Asih,” katanya, “ini sudah yang keempat.”
“Saya tahu, Pak.”
“Alasannya masih sama?”
“Saya ingin pindah ke Surabaya. Adik saya di sana. Saya sudah terlalu lama di sini sendiri.”
Itu pertama kalinya aku mengatakan “sendiri” dengan lantang di kantor ini. Kata yang selama bertahun-tahun kusembunyikan di balik kalimat-kalimat yang lebih rapi.
Pak Hendra menatapku lama. Lalu menghela napas.
“Beri saya dua minggu untuk bicara dengan HR.”
Aku tidak tahu apakah ini berarti iya atau belum tentu atau tidak yang disampaikan dengan lebih lembut. Tapi aku mengangguk. Berdiri. Keluar.
Di lorong menuju meja kerjaku, aku melewati pantry. Mesin espresso menyala, bunyi gemuruhnya familiar. Tidak ada orang di dalam.
Aku berhenti sebentar di depan pintunya. Lalu melanjutkan langkah.
12.
Kesepian, aku belajar, bukan keadaan yang bisa diselesaikan. Ia bukan soal tidak adanya orang — ada orang pun kesepian bisa tetap ada, tumbuh subur di antara percakapan dan keramaian. Ia lebih seperti ruangan di dalam diri yang pintunya terbuka atau tertutup bukan karena orang lain, tapi karena keputusan yang kita buat sendiri tanpa selalu sadar bahwa kita sedang membuatnya.
Ramadhan sudah di Jakarta sekarang. Mungkin sudah menemukan warung soto yang pas. Mungkin sudah lupa tentang mesin espresso di kantor lama yang tombol ketiganya tidak pernah berfungsi. Mungkin tidak.
Aku tidak menghubunginya. Ia tidak menghubungiku. Ini bukan karena kami bermusuhan atau menyimpan rasa berat. Ini karena beberapa hal memang berakhir tanpa resolution yang bersih — mereka hanya berhenti, seperti hujan yang reda tanpa ada pengumuman, dan tiba-tiba kamu sadar jalanan sudah kering.
Kemeja-kemeja Mas Tomo sudah kukemas. Tiga kardus, disumbangkan ke masjid dekat rumah minggu lalu. Dinding lemari itu sekarang kosong dan baunya sudah tidak sama. Aku berdiri di depannya semalam — bukan untuk merasa sedih, tapi karena penasaran: apa yang aku rasakan?
Yang kurasakan adalah: tidak banyak. Atau mungkin: terlalu banyak tapi sudah tidak tahu cara memilahnya.
Hari ini aku masih bekerja di bank yang sama, duduk di kursi yang sama. Pengajuan pensiun masih menunggu. Pak Hendra belum memberi kabar, dan aku sudah berhenti menghitung hari.
Tapi setiap pagi aku masih datang pukul tujuh lebih lima menit. Menyeduh teh. Membuka komputer. Mengerjakan angka-angka yang sudah kuhafal.
Dan kadang-kadang, pukul sepuluh pagi, aku berdiri di pantry sendirian, menekan tombol kedua dua kali, menunggu mesin espresso bekerja.
Tidak ada yang datang menyusul.
Aku minum kopi itu sendiri, berdiri, sambil memandang jendela yang menghadap ke halaman parkir dan sepotong langit Yogyakarta yang hari ini berwarna putih seperti halaman kosong.
Itu saja. Tidak ada lebih. Tidak ada kurang.
Tapi mungkin — dan ini bukan kesimpulan, hanya kemungkinan kecil yang kubiarkan ada tanpa kuterlalu pegang — mungkin Surabaya memang menunggu. Bukan sebagai pelarian. Tapi sebagai permulaan yang datang terlambat tapi tetap datang.
Seperti hujan bulan April itu.
Yang juga, akhirnya, reda.


