Boss Rudi menyapanya di lobi, tepat ketika lift sedang batuk-batuk tidak mau menutup. Pertemuan yang tidak direncanakan, tapi terasa seperti jebakan.
“Pak Bandi! Sebentar lagi pensiun, ya? Sehat selalu, Pak.”
Hanya itu. Senyum, tepukan di bahu, lalu Boss Rudi sudah pergi ke arah ruang rapat dengan langkah orang yang tidak punya beban apa-apa. Tapi Bandi berdiri sebentar di depan lift yang akhirnya menutup sendiri tanpa ia masuki, dan merasakan sesuatu bergeser di dadanya — seperti batu yang tadinya cukup diam di tempatnya, tiba-tiba terusik.
Sebentar lagi pensiun. Kalimat yang sederhana. Kalimat yang, di mulut orang lain, mungkin berarti selamat. Tapi di mulut Boss Rudi, pagi ini, dengan nada itu — Bandi membacanya seperti membaca tanda tangan di dokumen proyek: bukan soal apa yang tertulis, tapi soal apa yang tidak ditulis.
***
Bandi Sudrajat, 55 tahun, kepala cabang PT Argatama Konstruksi Perkasa wilayah Bandung, sudah lama mendamaikan dirinya dengan kenyataan bahwa pensiun adalah anugerah. Ia bahkan sudah menyusun daftarnya — bukan daftar utang atau tagihan, melainkan daftar hal-hal kecil yang selama ini tidak sempat ia nikmati karena harus bangun pukul lima, mandi air dingin karena pemanas bocor dan belum sempat dipanggil tukang, lalu duduk di balik kemudi selama satu jam untuk menempuh jarak yang seharusnya bisa ditempuh dua puluh menit.
Bandung sudah bukan Bandung yang dulu. Macetnya bukan macet biasa — macet Bandung adalah macet yang punya karakter, punya ego, punya cara tersendiri untuk membuatmu kehilangan separuh pagi dan seluruh kesabaran. Dan di antara kemacetan itulah Bandi setiap hari bertemu Santi.
Santi, staf administrasi lantai dua, yang kos-kosannya di jalan yang sama dengan jalur Bandi menuju kantor. Gadis dua puluhan yang selalu berdiri di pinggir jalan dengan tas ransel besar dan tampang orang yang sudah pasrah pada nasib angkutan umum Bandung. Tidak ada bus yang melewati jalan itu. Bandi tahu, karena ia juga yang dulu protes soal pemilihan lokasi kantor ke pusat — dan kalah.
“Pak Bandi, numpang lagi ya?”
Setiap pagi. Bandi selalu bilang iya, karena memang searah, dan karena penolakan akan membuat parkir motornya canggung. Santi bicara banyak di mobil — tentang drama rekap anggaran, tentang printer yang rusak lagi, tentang kucing peliharaannya yang tidak mau makan. Bandi mendengarkan sambil memandang kemacetan di depannya. Sesekali mengangguk. Perjalanan ke kantor terasa sedikit lebih ringan karenanya.
Tapi mulai hari ini, pagi ini, setelah sapaan Boss Rudi di lobi — Bandi sadar bahwa daftar hal-hal kecil itu harus ditunda dulu. Ada hal lain yang lebih mendesak untuk dipikirkan.
***
Selama dua puluh tiga tahun menjadi kepala cabang, Bandi sudah menandatangani ribuan dokumen. Kontrak proyek, berita acara serah terima, laporan realisasi anggaran, surat perintah kerja, addendum, memo internal, persetujuan vendor. Tangannya sudah hafal gerakannya sendiri — paraf cepat di pojok kiri bawah, tanda tangan penuh di halaman terakhir, cap basah kalau perlu.
Ia tahu betul lalu lintas transaksi di cabangnya. Mana proyek yang basa-basi — sekadar untuk menjaga hubungan, nilainya kecil, marginnya tipis, semua orang senang. Mana yang pintu rezeki sungguhan — proyek pemerintah daerah, tender terbuka, kerja keras dan keringat nyata, uang yang masuk bisa dipegang dan dipertanggungjawabkan. Dan mana yang — Bandi tidak pernah mengucapkan kata ini keras-keras, bahkan dalam hati sekalipun — yang lain.
Angka di atas kertas hanya formalitas. Ini yang ia pahami sejak tahun-tahun awal. Nilai kontrak yang tertulis bukan nilai yang nyata. Ada angka lain yang mengalir melalui saluran-saluran yang tidak pernah tercantum di dokumen mana pun. Mengalir ke mana? Bandi tahu arahnya secara umum. Tapi ia tidak pernah bertanya lebih jauh, karena bertanya lebih jauh adalah cara paling efisien untuk kehilangan posisi kepala cabang.
Dan ia butuh posisi itu. Ia punya istri, dua anak, cicilan rumah yang baru lunas dua tahun lalu, dan ibu mertua yang sakit-sakitan di Tasikmalaya.
Jadi ia menandatangani. Dengan pena yang sama, dengan paraf yang sama, dengan wajah yang sama seperti ketika ia menandatangani kontrak yang bersih.
Masalahnya sekarang: ia sudah pensiun. Atau hampir pensiun. Dan dalam dunia yang semakin tidak bisa diramalkan ini — di mana nama-nama yang dulu tidak tersentuh tiba-tiba muncul di berita, di mana orang-orang yang dulu duduk di kursi yang sama dengan Bandi sekarang duduk di kursi yang berbeda, di ruang yang berbeda, menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang tidak mereka siapkan jawabannya — Bandi merasa bahwa pensiun bukan berarti selesai.
Pensiun mungkin hanya berarti kamu tidak lagi punya jabatan untuk berlindung di baliknya.
***
Tiga bulan berikutnya adalah tiga bulan yang paling melelahkan dalam hidupnya, dan Bandi tidak pernah meninggalkan rumah lebih dari yang perlu.
Ia membaca berita terlalu banyak. Setiap pagi, secangkir kopi dan scrolling tanpa henti — operasi tangkap tangan di Sumedang, pejabat konstruksi Jawa Barat diperiksa, mantan kepala dinas akui terima aliran dana. Ia membaca nama-nama itu dengan detak jantung yang tidak stabil, mencari-cari apakah ada nama yang ia kenal, apakah ada proyek yang terdengar familiar, apakah ada angka yang cocok dengan angka-angka yang pernah ia tandatangani.
Tidurnya kacau. Istrinya, Endang, mulai memperhatikan.
“Pak, kenapa tiap malam bolak-balik ke dapur?”
“Haus,” kata Bandi.
Endang menatapnya dengan tatapan perempuan yang sudah tiga puluh tahun hidup bersama seseorang dan tahu kapan ia berbohong. Tapi Endang tidak bertanya lebih jauh. Ini juga yang Bandi syukuri dari istrinya — ia tahu kapan harus diam.
Di siang hari, Bandi duduk di teras dengan kopi yang sering lupa ia minum sampai dingin. Tetangga lewat, menyapa, bilang enak ya sudah pensiun bisa santai. Bandi tersenyum dan menjawab iya, enak. Di dalam kepalanya: skenario-skenario. Kapan mereka datang. Pakai mobil apa. Apakah ada yang sudah memberi informasi. Apakah dokumen-dokumen lama itu masih ada di arsip kantor atau sudah dimusnahkan. Apakah dimusnahkan itu lebih aman atau justru bukti kejahatan tersendiri.
Ia bahkan pernah menelepon adik iparnya yang pengacara di Jakarta, dengan alasan basa-basi menanyakan kabar, lalu menyelipkan pertanyaan: “Kalau seseorang hanya tanda tangan tanpa tahu isi sebenarnya dari sebuah transaksi, kira-kira tanggung jawab hukumnya sampai mana, Mas?”
Adik iparnya menjawab panjang lebar tentang doktrin mens rea dan strict liability dan beberapa istilah Latin lain yang tidak membuat Bandi merasa lebih baik sama sekali.
***
Surat itu datang pada hari Selasa, di awal bulan Syawal.
Amplop cokelat. Kop resmi. Bandi mengambilnya dari tangan tukang pos dengan tangan yang tidak gemetar hanya karena ia sudah berlatih tidak gemetar sejak tiga bulan lalu. Tapi ketika ia membaca bagian atas amplop itu — logo, nama institusi, alamat pengirim — sesuatu di dadanya seperti direntangkan terlalu jauh, lalu dilepas; KEPOLISIAN RESOR KOTA …
Bandi duduk di kursi teras. Lututnya tidak lagi bisa diandalkan untuk berdiri.
Ini dia. Tiga bulan menunggu, dan ini dia. Mungkin panggilan pertama. Mungkin masih tahap klarifikasi — itu yang biasanya pertama. Klarifikasi dulu. Tapi klarifikasi bisa jadi pemeriksaan. Pemeriksaan bisa jadi penetapan tersangka. Tersangka bisa jadi —
Endang. Bagaimana ia menjelaskan kepada Endang. Anak-anak. Tetangga. Bu RT yang setiap PKK selalu membanggakan bahwa warganya tidak ada yang pernah berurusan dengan hukum.
Jantung Bandi memukul dengan cara yang tidak biasa. Bukan kencang — lebih seperti tidak teratur. Seperti mesin tua yang satu komponennya tidak lagi berjalan sesuai jadwal.
Ia membuka amplop itu dengan jari yang akhirnya memang gemetar.
Selembar kartu. Desain bulan sabit dan bintang, warna hijau dan emas, dengan tulisan tangan yang ia kenali sejak pengirimnya masih SD:
Selamat Idul Fitri, Om Bandi dan Tante Endang. Mohon maaf lahir batin. Semoga sehat selalu dan panjang umur. — Kompol Arief Gunawan.
Arief. Anak kakaknya. Yang dulu suka minta uang jajan waktu lebaran. Yang sekarang ternyata sudah jadi kapolsek dan rupanya cukup semangat mengirim kartu lebaran dengan kop resmi kepolisian karena mungkin kehabisan amplop biasa, atau memang begitu caranya menunjukkan jabatan baru kepada seluruh keluarga besar.
Bandi menatap kartu itu.
Lalu dadanya seperti ditarik ke satu titik — dan tidak dilepas.
***
Endang menemukannya masih di kursi teras, amplop cokelat di tangan kiri, kartu lebaran di tangan kanan, dengan ekspresi yang tidak bisa ia baca — bukan marah, bukan sedih, lebih seperti orang yang baru menyelesaikan sebuah soal matematika panjang lalu menyadari jawabannya tidak ada di pilihan yang tersedia.
Dokter IGD bilang: serangan jantung. Masif. Kemungkinan besar sudah ada masalah sejak beberapa bulan terakhir — tekanan darah, stres kronis, kurang tidur.
Polisi tidak pernah datang. Tidak ada panggilan, tidak ada surat resmi, tidak ada pemeriksaan. Nama Bandi tidak pernah muncul di berkas mana pun. Entah karena dokumen-dokumen itu memang sudah dirapikan jauh sebelum ia pensiun, entah karena ia memang hanya roda kecil yang tidak cukup penting untuk dicari. Atau entah karena hukum memang bekerja dengan cara yang tidak bisa diprediksi oleh orang-orang yang menunggunya dengan cemas di kursi teras.
Yang pasti: Bandi Sudrajat meninggal bukan karena penjara. Bukan karena pengadilan. Bukan karena nama baiknya hancur di koran.
Ia meninggal karena tiga bulan ia setiap hari menghukum dirinya sendiri di pengadilan yang paling kejam — yang tidak punya jaksa, tidak punya hakim, tidak punya kesempatan banding.
Pengadilan di dalam kepalanya sendiri.
Kartu lebaran dari Arief akhirnya ditempel Endang di papan gabus di dapur, di antara foto-foto keluarga dan jadwal pengajian RT. Bulan sabit emas, tulisan tangan yang rapi, doa yang tulus dari keponakan yang tidak tahu apa-apa.
Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir batin.
Sehat selalu dan panjang umur ***


